- Industri tekstil nasional menghadapi lonjakan harga bahan baku sebesar 30 hingga 40 persen yang mengancam kelangsungan operasional usaha.
- Ketergantungan pada impor bahan baku kimia berbasis minyak membuat industri sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global saat ini.
- Asosiasi Pertekstilan Indonesia berupaya mencari alternatif pemasok bahan baku dari India dan Vietnam untuk menekan tingginya biaya produksi.
Suara.com - Industri tekstil nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan baku yang disebut mencapai 30 hingga 40 persen. Kenaikan ini dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pelaku usaha di tengah kondisi biaya produksi yang terus meningkat.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana mengatakan lonjakan harga bahan baku gila-gilaan membuat industri terancam tak bisa survive atau bertahan.
"Ya, kenaikan bahan baku tekstil ini kan udah gila-gilaan ya, 30 persen, 40 persen. Dan ini menjadi salah satu kendala besar kita mengingat tidak ada suplai lokal," ujarnya kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, keterbatasan pasokan dalam negeri membuat industri sangat bergantung pada impor. Kondisi ini membuat pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain mencari alternatif sumber bahan baku dari luar negeri.
"Jadi substitusi yang harus dilakukan adalah supplier tidak hanya dari China tapi juga dari India," jelasnya.
API juga mulai melirik negara lain sebagai sumber bahan baku untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi. Langkah ini dinilai penting agar industri tetap bisa bertahan di tengah tekanan harga.
"Kami juga pikirkan supplier-supplier dari Vietnam, yang memungkinkan untuk menggantikan bahan baku supaya saat ini tidak terlalu mahal," jelasnya.
Danang menyebut, lonjakan harga bahan baku sudah mulai menggerus kemampuan industri untuk bertahan. Terlebih, biaya energi yang berpotensi ikut meningkat akan semakin menambah beban produksi.
"Karena terlalu mahal, kita udah enggak bisa survive di mana biaya-biaya energi akan segera naik, meskipun pemerintah statement tidak akan mengalami kenaikan pada tahun sampai akhir tahun 2026," tuturnya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku terutama terjadi pada komponen berbasis kimia yang menjadi dasar produksi tekstil. Komponen ini selama ini banyak diimpor dari berbagai negara.
"(Naik) 30, 40 persen. Nah kalau bahan baku tekstil kan banyak banget ya. Kan kita bicara MEG, kita bicara poli, itu banyak sekali," ungkapnya.
Bahan-bahan tersebut umumnya merupakan turunan minyak, sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Semua untuk bahan-bahan chemical untuk membikin yarn, benang, itu dari chemical, dan itu potensial naik," ujar Danang.
Menurut Danang, ketergantungan terhadap bahan baku berbasis minyak membuat industri tekstil rentan terhadap gangguan distribusi global. Salah satunya jika jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz terganggu.
"Dan kalau terjadi benar-benar Selat Hormuz tidak memungkinkan untuk menjadi lalu lintas, sementara bahan-bahan itu memang turunan minyak, artinya ya kita terkendala juga dengan adanya perang Iran-Israel ini," pungkasnya.