Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.828.000
Beli Rp2.700.000
IHSG 7.101,226
LQ45 684,142
Srikehati 332,003
JII 470,939
USD/IDR 17.285

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

Mohammad Fadil Djailani | Fakhri Fuadi Muflih | Suara.com

Rabu, 29 April 2026 | 18:04 WIB
7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya
Ilustrasi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan sebanyak tujuh subsektor industri pengolahan terperosok ke zona kontraksi pada April 2026. Foto ist.
  • Kemenperin catat 7 subsektor industri manufaktur kontraksi pada April 2026.
  • Sektor tekstil dan kimia tertekan akibat lonjakan harga bahan baku petrokimia.
  • Industri minuman melambat karena fokus habiskan stok persediaan pascalebaran.

Suara.com - Sinyal waspada menyala di tengah geliat industri manufaktur nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan sebanyak tujuh subsektor industri pengolahan terperosok ke zona kontraksi pada April 2026. Tekanan geopolitik global hingga karut-marut logistik dituding menjadi biang kerok yang menekan urat nadi produksi.

Meski Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 secara umum masih bertengger di level ekspansi yakni 51,75, namun faktanya napas antar-sektor tidaklah sama.

"Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 16 subsektor industri yang mengalami ekspansi dan 7 subsektor yang mengalami kontraksi," ujar Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni dalam konferensi pers di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Ketujuh sektor yang masuk 'zona merah' tersebut meliputi industri minuman, tekstil, industri kayu, bahan kimia, barang galian bukan logam, barang logam bukan mesin, hingga industri alat angkut lainnya.

Febri memaparkan, badai geopolitik dan krisis energi dunia mulai memberikan luka nyata, terutama bagi sektor yang haus akan bahan baku impor dan rantai pasok petrokimia. Salah satu yang paling babak belur adalah industri tekstil.

"Industri tekstil pada April ini mengalami kontraksi. Disebabkan karena masalah bahan baku yang berasal dari petrokimia," cetus Febri blak-blakan.

Tak hanya tekstil dan kimia, industri minuman juga dipaksa 'puasa' ekspansi. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika menjelaskan, sektor ini dihantam kombinasi maut: ketegangan dunia dan pola konsumsi masyarakat pascahari besar keagamaan.

"Minuman ini memang sangat terdampak dengan geopolitik, di samping dengan hari besar keagamaan tadi," jelas Putu.

Menurutnya, lesunya produksi di bulan April juga disebabkan oleh menumpuknya stok di gudang setelah masa Lebaran usai. Perusahaan cenderung mengerem produksi untuk menghabiskan persediaan yang ada.

"Biasanya dia menggunakan yang persediaan ini dulu dihabisin. Nanti akan kelihatan apakah inventory-nya sudah cukup turun atau masih tersisa," pungkasnya.

Kini, tantangan berat menanti Kemenperin untuk memastikan tujuh sektor ini tidak semakin terperosok dalam, di tengah ketidakpastian global yang masih menghantui.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:53 WIB

Industri Konstruksi Tak Lagi Kaku, Wajah Baru ASLI yang Lebih Modern dan Inovatif di 2026

Industri Konstruksi Tak Lagi Kaku, Wajah Baru ASLI yang Lebih Modern dan Inovatif di 2026

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 13:30 WIB

Industri Budaya dan Kreatif Sumbang 3 Persen PDB Global, Peluang Identitas Lokal RI Mendunia

Industri Budaya dan Kreatif Sumbang 3 Persen PDB Global, Peluang Identitas Lokal RI Mendunia

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:14 WIB

Terkini

Prabowo Gebrak Hilirisasi Fase II Senilai Rp116 Triliun: Jalan Tunggal Menuju Kemakmuran!

Prabowo Gebrak Hilirisasi Fase II Senilai Rp116 Triliun: Jalan Tunggal Menuju Kemakmuran!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:59 WIB

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:53 WIB

BUMN Ini Sulap Kampung Mutus Jadi Mandiri, Ekonomi Warga Melejit 87,5 Persen

BUMN Ini Sulap Kampung Mutus Jadi Mandiri, Ekonomi Warga Melejit 87,5 Persen

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:44 WIB

IHSG Ditutup Perkasa ke Level 7.100, Ini Pemicunya

IHSG Ditutup Perkasa ke Level 7.100, Ini Pemicunya

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:18 WIB

Aksi Nyata Peduli Bumi, Pegadaian Inisiasi Gerakan PURE Movement

Aksi Nyata Peduli Bumi, Pegadaian Inisiasi Gerakan PURE Movement

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:54 WIB

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:16 WIB

Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen

Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:02 WIB

Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS

Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:51 WIB

Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah

Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:43 WIB

Hilirisasi Digeber, RI Bidik Pangkas Impor BBM dan LPG hingga Rp1,25 Miliar per Tahun

Hilirisasi Digeber, RI Bidik Pangkas Impor BBM dan LPG hingga Rp1,25 Miliar per Tahun

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:41 WIB