- MITEC Malaysia & NICE Indonesia perkuat jalur pameran dagang regional.
- Pasar MICE Indonesia tumbuh 13,78%, jadi mesin baru ekonomi jasa.
- Kolaborasi antarvenue dorong integrasi perdagangan lintas batas.
Suara.com - Kawasan Asia Tenggara kini bukan sekadar pasar konsumsi, melainkan arena baru perebutan pengaruh ekonomi regional. Di tengah melonjaknya arus perdagangan intra-ASEAN, industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) muncul sebagai senjata utama negara-negara kawasan untuk menarik investasi dan transaksi dagang lintas batas.
Pasar MICE Asia Pasifik sendiri diproyeksikan bakal melesat dari USD 212,83 miliar pada 2025 menjadi USD 231,49 miliar pada 2026. Tak ingin hanya jadi penonton, Indonesia mulai memanaskan mesin ekonomi jasanya. Dengan proyeksi pertumbuhan (CAGR) mencapai 13,78 persen hingga 2032, Jakarta terus memacu infrastruktur venue dan konektivitas untuk merebut kue ekonomi tersebut.
Menariknya, persaingan ini mulai bergeser menjadi kolaborasi strategis. Terbaru, raksasa pameran Malaysia, Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), resmi menggandeng Nusantara International Convention Exhibition (NICE) Indonesia guna memperkuat jalur pameran dagang kedua negara.
Chief Executive Officer MITEC, Mala Dorasamy, menegaskan bahwa pusat pameran masa kini telah bertransformasi menjadi infrastruktur ekonomi yang vital.
“Kami tidak hanya menjadi venue, tetapi juga platform yang mendorong perdagangan, memperkuat kolaborasi, dan menciptakan dampak ekonomi lintas negara,” ujar Mala kepada wartawan, Selasa (5/5/2026).
Melalui kemitraan ini, kedua pihak akan saling berbagi informasi pasar, memetakan peluang bisnis baru, hingga mengembangkan pameran dagang bersama. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat daya saing ASEAN di mata global.
Managing Director NICE, Ryan Adrian, menyebut pelaku usaha saat ini tidak bisa lagi hanya bertumpu pada pasar domestik. Koneksi industri yang lebih luas di level regional adalah kunci.
“Melalui kemitraan ini, kami dapat membuka peluang baru untuk pameran dagang, memperdalam kolaborasi industri, serta menciptakan nilai lebih besar bagi seluruh pemangku kepentingan,” jelas Ryan.
NICE yang berlokasi di kawasan strategis PIK2 Jakarta, berdiri megah di atas lahan 130.000 meter persegi dengan 11 hall pameran. Sementara MITEC tetap menjadi primadona Malaysia dengan luas 52.000 meter persegi di bawah naungan MATRADE.
Deputy CEO MITEC, Winnee Lim, menambahkan bahwa kerja sama ini bersifat implementatif, bukan sekadar simbolis di atas kertas. Meski bermitra, model kerja sama ini bersifat non-eksklusif yang memberikan fleksibilitas bagi kedua pihak untuk tetap lincah merespons dinamika pasar global.
Sinergi antara dua raksasa ini diharapkan mampu memperkokoh posisi ASEAN sebagai pusat business events dunia, terutama saat Asia Tenggara diprediksi menjadi pasar pariwisata dan bisnis dengan pertumbuhan tercepat hingga tahun 2031.