- Investor asing melakukan aksi beli bersih saham BBRI senilai Rp259,27 miliar pada sesi pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia.
- Harga saham BBRI meningkat 3,62% ke level Rp3.150 yang turut mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 1,29%.
- Aksi borong terjadi karena valuasi saham yang dianggap murah serta rencana pembagian dividen royal sebesar Rp209 per saham.
Suara.com - Perhatian pelaku pasar tertuju tajam pada pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menunjukkan performa impresif pada sesi I IHSG.
Tercatat, baru satu sesi perdagangan berjalan, saham BBRI sudah diborong habis-habisan oleh investor, terutama dari kalangan asing yang tampak agresif melakukan akumulasi.
Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi pertama, aksi beli bersih (net buy) investor asing terhadap saham BBRI telah menyentuh angka Rp259,27 miliar.
Nilai akumulasi yang fantastis dalam kurun waktu setengah hari ini menempatkan BBRI sebagai saham dengan nilai net buy asing tertinggi kedua, tepat di bawah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang mencatatkan beli bersih sebesar Rp169,31 miliar.
Laju harga saham bank yang berfokus pada UMKM ini pun melesat sejak bel pembukaan pagi tadi. Saham BBRI terpantau menguat 110 poin atau sekitar 3,62% ke level Rp3.150 per lembar saham.
Kenaikan signifikan ini sekaligus menjadi motor penggerak utama bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut terangkat 1,29% ke level 7.061 di tengah volatilitas pasar global.
Fenomena "borong saham" ini bukan tanpa alasan. Para pelaku pasar melihat adanya celah keuntungan yang lebar mengingat valuasi BBRI saat ini dinilai sedang berada di area "diskon" atau sangat murah secara historis.
Indikator Price to Book Value (PBV) BBRI saat ini bertengger di angka 1,4 kali. Secara statistik, angka ini berada di level minus dua standar deviasi (-2SD), yang berarti jauh melampaui rata-rata nilai wajarnya dalam lima tahun terakhir.
Analis pasar, Victor Stefano, memberikan pandangannya bahwa koreksi harga yang sempat terjadi sebelumnya lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen luar ketimbang penurunan kinerja internal perusahaan..
Sejumlah sekuritas ternama tetap mempertahankan sikap optimistis terhadap masa depan saham perbankan plat merah ini. Samuel Sekuritas, dalam riset terbarunya, masih menyematkan rekomendasi "Beli" untuk BBRI dengan target harga mencapai Rp4.400.
Proyeksi ini didasarkan pada ekspektasi pemulihan PBV menuju angka 2 kali pada akhir tahun 2026, didorong oleh ketahanan model bisnis BRI di segmen mikro.
Senada dengan itu, Mandiri Sekuritas juga merekomendasikan beli dengan target harga Rp4.100. Analisis mereka menekankan pada kualitas aset perusahaan yang tetap terjaga kuat serta tingkat profitabilitas yang dianggap paling unggul di kelasnya. Kepercayaan para analis ini seolah menjadi validasi bagi para investor yang terus melakukan akumulasi pada sesi perdagangan hari ini.
Selain faktor valuasi dan pertumbuhan kinerja, daya tarik BBRI semakin diperkuat oleh komitmen pembagian dividen yang royal. Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 April lalu telah mengesahkan pembagian dividen final sebesar Rp209 per saham.
Dengan harga saham yang bergerak di kisaran saat ini, maka potensi imbal hasil dividen (dividend yield) yang bisa dinikmati investor diperkirakan mencapai 6,2 persen. Angka ini tergolong sangat kompetitif di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Secara total, BRI mengalokasikan dana sebesar Rp52,1 triliun untuk dividen tahun buku 2025. Yang menarik, rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) mengalami peningkatan signifikan menjadi 92 persen, naik dari periode sebelumnya yang sebesar 86 persen.