- Plt. Ketua METI, Norman Ginting, menyatakan transisi energi bersih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
- Pemerintah mendorong pengembangan berbagai proyek strategis energi terbarukan guna memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
- Pengembangan sektor energi hijau ditargetkan menciptakan lapangan kerja serta memperkuat kapasitas industri teknologi nasional agar lebih berdaya saing global.
Suara.com - Transisi energi dinilai bukan lagi sekadar agenda pengurangan emisi karbon, melainkan dapat menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional berbasis energi bersih.
Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Norman Ginting, menjelaskan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) harus menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia.
"Pengembangan energi baru terbarukan harus menjadi fondasi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, penciptaan lapangan kerja hijau, serta penguatan kapasitas industri dan teknologi nasional," ujar Norman di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, di tengah meningkatnya tantangan ketahanan energi dan tekanan transisi energi global, Indonesia perlu memanfaatkan momentum pengembangan energi hijau untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Norman menilai transisi energi tidak boleh hanya berfokus pada target lingkungan, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, METI ke depan diarahkan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat berbagai proyek strategis energi bersih nasional.
Beberapa agenda prioritas yang akan didorong antara lain pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW), implementasi bioetanol E20, Sustainable Aviation Fuel (SAF), panas bumi atau geothermal, biomassa, cofiring, hingga waste to energy.
Norman menuturkan, pengembangan sektor-sektor tersebut penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Selain proyek energi bersih, METI juga ingin mendorong tumbuhnya ekosistem industri energi hijau nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi.
"Melalui pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu berkembang sebagai pengembang, produsen, operator, dan inovator teknologi energi bersih yang berdaya saing," katanya.
Norman juga menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja hijau, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan rantai pasok dan industri dalam negeri melalui pengembangan EBT.