- Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Kamis waktu setempat akibat aksi ambil untung investor di sektor teknologi.
- Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones mengalami penurunan setelah sempat mencetak rekor tertinggi selama sesi perdagangan berlangsung.
- Pelemahan pasar dipicu fluktuasi harga minyak dunia serta ketidakpastian negosiasi diplomatik antara pemerintah Amerika Serikat dan pihak Iran.
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat Pagi Waktu Indonesia. Padahal, indeks sempat mencetak rekor tertinggi baru di tengah optimisme pasar terhadap potensi meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menukil CNBC, pelemahan Wall Street ini dipicu aksi ambil untung pada saham teknologi dan semikonduktor, sementara harga minyak masih bergerak fluktuatif.
Indeks S&P 500 turun 0,38 persen ke level 7.337,11. Pelemahan indeks dipicu tekanan pada saham-saham teknologi besar seperti Amazon serta emiten semikonduktor Broadcom dan Micron Technology.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun tipis 0,13 persen dan ditutup di level 25.806,20. Meski terkoreksi, indeks berbasis teknologi tersebut sempat mencetak rekor intraday tertinggi baru sepanjang sejarah selama sesi perdagangan.
Adapun Dow Jones Industrial Average merosot 313,62 poin atau 0,63 persen ke posisi 49.596,97.
![Ilustrasi Perdagangan saham di Wall Street. [Unsplash].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/23/54431-wall-street-saham.jpg)
Pergerakan pasar terjadi seiring volatilitas harga minyak dunia yang sempat turun tajam sebelum akhirnya memangkas pelemahan.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup melemah 0,28 persen ke level 94,81 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah Brent turun 1,19 persen menjadi 100,06 dolar AS per barel.
Sebelumnya pada Rabu, pasar saham AS sempat menguat setelah laporan Axios menyebut AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Gedung Putih disebut optimistis kedua negara hampir menyepakati nota kesepahaman berisi 14 poin yang tidak hanya mengakhiri perang, tetapi juga menjadi kerangka pembicaraan nuklir lanjutan.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan negosiasi masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kepada CNBC bahwa Teheran masih mengevaluasi proposal resolusi dari AS dan belum memberikan keputusan final.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran menegaskan negaranya tidak akan mengizinkan AS membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz dengan rencana yang tidak realistis. Pernyataan itu dilaporkan The Wall Street Journal mengutip media pemerintah Iran, Press TV.
Selain isu geopolitik, sentimen positif pasar juga datang dari musim laporan keuangan emiten yang dinilai solid, terutama sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield, mengatakan pasar kini bergerak cepat dari fase pesimistis menuju optimisme tinggi.
{Pasar mungkin mengalami kondisi overbought menjelang periode musiman yang lebih lemah, tetapi itu hanya kritik kecil dan bukan hambatan nyata. Anda seperti siap untuk skenario kenaikan harga yang drastis di sini, kecuali terjadi sesuatu yang tak terduga," ujarnya.
Di tengah pelemahan indeks utama, sejumlah saham masih mencatat lonjakan signifikan. Saham Fortinet melonjak 20 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan setahun penuh. Sedangkan Peloton naik hampir 9 persen usai membukukan pendapatan kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi pasar.