- Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi perdamaian dengan Iran gagal, memicu lonjakan harga minyak global pada 11 Mei 2026.
- Ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan gangguan distribusi serta hilangnya pasokan minyak sebesar satu miliar barel dalam dua bulan.
- Lonjakan harga energi memicu inflasi kebutuhan pokok dan menciptakan sentimen politik negatif bagi Donald Trump di Amerika Serikat.
Produksi jatuh sebesar 830.000 barel per hari menjadi hanya 20,04 juta barel per hari akibat terganggunya jalur ekspor di tengah medan tempur.
Efek Domino: Tekanan Ekonomi dan Politik Bagi Trump
Meskipun harga energi melonjak, Presiden Trump terlihat belum terburu-buru untuk mengambil langkah konkret. Ia bersikeras bahwa dirinya tidak berada di bawah tekanan dan bersedia mengambil waktu sebanyak mungkin.
Trump meyakini bahwa ekonomi akan kembali stabil dan harga minyak akan jatuh dengan sendirinya begitu perang berakhir.
Namun, sikap santai Trump ini memicu kekhawatiran besar di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan di pompa bensin, tetapi juga merembet ke harga kebutuhan pokok.
Meningkatnya harga solar berujung pada lonjakan biaya transportasi logistik, yang pada akhirnya membebani harga barang-barang di rak supermarket.
Kesadaran publik akan dampak ekonomi dari perang yang dimulai oleh Trump ini terus meningkat. Hal ini diprediksi akan memberikan dampak politik yang signifikan bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan umum. Mayoritas warga AS kini mulai menyalahkan kebijakan luar negeri sang presiden atas situasi ekonomi yang kian terpuruk.