- Ekonom Bank Mandiri memprediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 akibat meredanya efek musiman Lebaran.
- Ketidakpastian global serta kenaikan harga minyak dunia memicu volatilitas pasar keuangan yang menekan nilai tukar Rupiah.
- Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif menjadi kunci utama pemerintah dalam menjaga stabilitas serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Suara.com - Ekonom Bank Mandiri meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 menghadapi tantangan besar.
Salah satunya akan mengalami tekanan perlambatan seiring meredanya efek musiman Lebaran dan meningkatnya ketidakpastian global.
Ekonom Mandiri Institute, Andre Simangunsong, mengatakan berdasarkan data Mandiri Institute mencatat Mandiri Spending Index (MSI) sempat mencapai puncak tertinggi di level 124,3 pada pekan 22 Maret 2026 atau saat momentum Idulfitri. Setelah itu, tren belanja masyarakat mulai melandai.
Namun, memasuki tanggal 5 Mei 2026 mengalami penurunan menjadi 122,3 setelah terkoreksi selama lima pekan berturut-turut. Meski demikian, perlambatan konsumsi tahun ini dinilai masih lebih baik dibandingkan pola tahun lalu.
"Di 2026 ini moderasi terlihat lebih gradual," ujarnya di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Untuk itu, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, menilai bahwa sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Menurutnya, koordinasi erat antara Pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berperan krusial dalam menghadapi tantangan eksternal sekaligus mengoptimalkan peluang pertumbuhan di masa depan.
"Ke depan, tantangan global akan terus ada, namun di balik setiap tantangan juga terdapat peluang yang dapat dioptimalkan melalui strategi yang tepat. Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, kami meyakini pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga secara berkelanjutan," bebernya.
Ari menyebutkan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mendorong harga minyak mentah melampaui level 100 dolar AS per barel.
Kondisi ini memicu volatilitas di pasar keuangan global dan menekan nilai tukar.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan bauran kebijakan, termasuk intervensi pasar, untuk menjaga stabilitas Rupiah yang mengalami depresiasi sebesar 3,9 persen sepanjang tahun 2026.
Meski demikian, optimisme tetap terjaga di sektor perbankan dengan kinerja intermediasi yang solid.
Kredit industri tercatat tumbuh 9,49 persen secara year on year (YoY) per Maret 2026, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang sehat di level 2,14 persen.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) industry tumbuh 13,55 persen YoY dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di level 84,63 persen yang menunjukkan likuiditas memadai.