- Pelemahan rupiah hingga Rp 17.500 per dolar AS memicu kenaikan harga perangkat elektronik di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
- Harga televisi dan pendingin ruangan melonjak sebesar dua hingga lima persen akibat tingginya biaya impor komponen global.
- Kenaikan harga mendadak dari distributor menyebabkan penurunan minat beli masyarakat yang terkejut dengan perubahan nilai jual tersebut.
Suara.com - Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS langsung berdampak pada harga-harga elektronik. Pedagang mengaku harga sejumlah barang seperti TV dan AC naik mendadak.
Pedagang elektronik di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Agung mengaku kenaikan harga sudah terjadi pada berbagai merek, terutama untuk produk TV dan AC yang dinilai paling cepat terdampak.
"Sudah ada. Dari 2 persen sampai 5 persen lah," kata Agung saat ditemui Suara.com, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, lonjakan harga terjadi hampir merata dan tidak hanya menimpa merek tertentu. "Paling signifikan TV sama AC," ujarnya.
![Harga Elektronik seperti AC dan TV mulai melonjak setelah pelemahan rupiah. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/12/50994-elektronik-ac-tv.jpg)
Agung menyebut kenaikan harga datang mendadak dari distributor tanpa banyak pemberitahuan sebelumnya, sehingga pedagang ritel langsung menyesuaikan harga jual ke konsumen. "Ya, mendadak saja sih. Nggak dikasih tahu jadi ya dijual apa adanya," katanya.
Kondisi ini terjadi di tengah pelemahan rupiah yang menekan biaya impor barang jadi maupun komponen elektronik, mengingat sebagian besar produk elektronik masih bergantung pada bahan baku, suku cadang, atau distribusi global berbasis dolar AS.
Dampaknya, bukan hanya harga naik, tetapi juga minat beli masyarakat mulai tertekan. "Pengaruh juga sih. Lebih sedikit yang beli," ucap Agung.
Menurut Agung, banyak pelanggan yang datang dengan ekspektasi harga lama, lalu terkejut saat mengetahui ada kenaikan.
"Karena kemarin murah kan. Pas sekarang naik ya kan kaget orang," jelasnya.
Tak hanya produk impor, ia juga menyebut barang elektronik yang dianggap lokal tetap ikut terdampak karena rantai pasok dan komponen masih berkaitan dengan kurs dolar.
"Kalau yang lokal ikut naik juga. Sama," ujar dia.
Meski begitu, Agung menilai harga elektronik masih bisa turun jika nilai tukar membaik, walau penurunannya biasanya tidak terjadi drastis.
"Ada (kemungkinan harga turun jika rupiah menguat), tapi turunnya dia enggak langsung drastis gitu. Bertahap," pungkasnya.