Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.206,349
LQ45 631,211
Srikehati 317,836
JII 386,032
USD/IDR 17.738

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

M Nurhadi | Fakhri Fuadi Muflih | Suara.com

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:28 WIB
Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.803 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, mengikuti tren koreksi mata uang Asia.
  • Kemenperin menyatakan ketergantungan impor bahan baku sebesar 24 persen memicu lonjakan biaya produksi bagi pelaku industri manufaktur nasional.
  • Pemerintah mengimbau pelaku usaha memanfaatkan skema Local Currency Transaction guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Suara.com - Tekanan terhadap mata uang domestik kian tidak terbendung pada penutupan pasar keuangan awal pekan ini. Nilai tukar rupiah dilaporkan finis terperosok ke level Rp17.803 per dolar AS pada sesi perdagangan Selasa (26/5/2026).

Nilai draf mata uang Garuda tersebut tercatat melemah cukup dalam, yakni susut 87,9 poin atau setara 0,40 persen jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan hari sebelumnya.

Kejatuhan nilai tukar rupiah ini bergulir selaras dengan tren koreksi yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Di lantai bursa valuta asing, yuan China terpantau turun 0,06 persen, peso Filipina melemah 0,18 persen, dan ringgit Malaysia ikut terdepresiasi sebesar 0,34 persen.

Kondisi serupa juga menimpa dolar Singapura yang turun tipis 0,05 persen, yen Jepang yang terpangkas 0,19 persen, serta dolar Hong Kong yang terkoreksi 0,02 persen.

Di tengah kepungan draf tren negatif tersebut, hanya won Korea Selatan yang menjadi anomali dengan membukukan draf penguatan tunggal sebesar 0,49 persen terhadap dolar AS.

Ketergantungan Impor 24 Persen Dongkrak Biaya Produksi

Merosotnya nilai tukar rupiah langsung memicu draf alarm waspada di sektor riil. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI secara terbuka mengakui bahwa gejolak kurs ini mulai dikeluhkan secara masif oleh para pelaku industri manufaktur nasional, terutama bagi korporasi yang draf operasional pabriknya masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, memaparkan bahwa draf depresiasi kurs yang berkepanjangan ini memiliki konsekuensi linier terhadap lonjakan pengeluaran modal (capital expenditure) perusahaan. Hal ini terjadi karena komponen draf bahan baku industri dalam negeri memiliki porsi ketergantungan impor yang cukup besar.

"Sekitar 24 persen bahan baku industri itu berasal dari impor. Tentu pergerakan kurs menjadi salah satu draf faktor yang sangat memengaruhi aktivitas serta kesinambungan rantai pasok industri kita," ungkap Febri saat memberikan draf keterangan pers di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa.

Febri menambahkan, draf gelombang keluhan dari asosiasi pengusaha mulai bermunculan seiring dengan draf kalkulasi biaya pengapalan dan pengadaan barang modal asing yang melonjak otomatis begitu dikonversi ke dalam mata uang dolar AS.

"Ada lah pasti, keluhan ya. Cuman kan ya kita kan masih lihat bagaimana fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar itu. Keluhannya seperti apa, ya pasti ngeluh lah semuanya. Harga ini naik kan, nilai tukar naik, pasti juga, bahan baku juga naik, dan itu juga akan membebani biaya produksi," imbuhnya memaparkan draf kondisi riil pelaku usaha.

Kendati draf beban pengeluaran pabrik meningkat tajam, Kemenperin menjelaskan bahwa situasi tersebut tidak serta-merta bisa langsung direspons oleh korporasi dengan menaikkan draf harga jual produk jadi di tingkat konsumen (end-user).

Para pelaku industri saat ini tengah dihadapkan pada draf dilema pelik untuk menjaga draf daya beli masyarakat serta mempertahankan draf daya saing di pasar.

"Industri juga harus mempertimbangkan secara cermat antara biaya produksi dengan harga produk yang mereka jual. Karena production cost dengan pricing itu kan dua hal yang berbeda," urai Febri.

Hingga saat ini, pihak Kemenperin belum bersedia merinci draf daftar klasifikasi sektor industri mana saja yang menderita draf kerugian paling parah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pelemahan Rupiah Bisa Picu PHK Massal, Menaker Buka Suara

Pelemahan Rupiah Bisa Picu PHK Massal, Menaker Buka Suara

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:23 WIB

Anjlok! Rupiah Nyaris Tembus Rp17.800! Isu Domestik Sudah Tak Terbendung

Anjlok! Rupiah Nyaris Tembus Rp17.800! Isu Domestik Sudah Tak Terbendung

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:09 WIB

Rupiah Kian Loyo! Prabowo Jadi Presiden RI yang Paling Sering ke LN, Kalahkan SBY dan Jokowi

Rupiah Kian Loyo! Prabowo Jadi Presiden RI yang Paling Sering ke LN, Kalahkan SBY dan Jokowi

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 12:11 WIB

Mata Uang Rupiah Terus Jeblok, Dolar AS Naik ke Level Rp17.768

Mata Uang Rupiah Terus Jeblok, Dolar AS Naik ke Level Rp17.768

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 10:07 WIB

Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!

Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 06:15 WIB

Menko Airlangga Sebut Rupiah Lemah Saat Ini Cuma 5 Persen

Menko Airlangga Sebut Rupiah Lemah Saat Ini Cuma 5 Persen

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 16:57 WIB

Terkini

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:05 WIB

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:04 WIB

ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana

ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:57 WIB

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:51 WIB

Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini

Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:31 WIB

Buruh Indomaret Tuntut Upah Lembur Dibayar Penuh, Begini Respon Menaker

Buruh Indomaret Tuntut Upah Lembur Dibayar Penuh, Begini Respon Menaker

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:22 WIB

Emiten MDLA Mulai Ekspansi, Cari Cuan Bisnis Healthcare di Kamboja

Emiten MDLA Mulai Ekspansi, Cari Cuan Bisnis Healthcare di Kamboja

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:01 WIB

Kuota Program Magang Nasional Ditambah Jadi 150.000, Fresh Graduated Punya Kesempatan Kerja

Kuota Program Magang Nasional Ditambah Jadi 150.000, Fresh Graduated Punya Kesempatan Kerja

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:52 WIB

Penulis Buku Dapat Insentif Pajak, Purbaya: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Penulis Buku Dapat Insentif Pajak, Purbaya: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:48 WIB

Purbaya Mendadak Tunda Insentif Kendaraan Listrik, Batal Berlaku Juni 2026

Purbaya Mendadak Tunda Insentif Kendaraan Listrik, Batal Berlaku Juni 2026

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:27 WIB