Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.206,349
LQ45 631,211
Srikehati 317,836
JII 386,032
USD/IDR 17.738

Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!

Liberty Jemadu | Suara.com

Selasa, 26 Mei 2026 | 06:15 WIB
Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!
Nilai tukar rupiah anjlok dalam saat mata uang lain menguat. Disebabkan oleh krisis kepercayaan investor terhadap kredibilitas data pemerintah serta kebijakan fiskal domestik yang dianggap kurang tepat. Foto: Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Pada Senin (25/5/2026), nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp17.744 per dolar AS dan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang terpuruk.
  • Pelemahan rupiah disebabkan oleh krisis kepercayaan investor terhadap kredibilitas data pemerintah serta kebijakan fiskal domestik yang dianggap kurang tepat.
  • Untuk memulihkan nilai tukar, pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiskal yang transparan, disiplin, dan realistis demi mengembalikan keyakinan investor global.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terus melemah. Pada Senin kemarin (25/5/2026), rupiah bahkan menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang ambruk saat mata uang negara lain menguat karena turunnya harga minyak dunia.

Pemerintah mengatakan pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, antara lain perang Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah yang memicu naiknya harga minyak dunia.

Tetapi para ekonom mengatakan masalahnya ada di dalam negeri. Mulai dari kebijakan fiskal yang keliru hingga ke soal kredibilitas data pemerintah, khususnya terkait laporan pertumbuhan ekonomi yang diklaim tinggi.

Mereka menyebutkan, salah satu cara untuk memperkuat rupiah adalah mengembalikan kepercayaan investor pada pemerintah serta kebijakan-kebijakannya.

Rupiahku sayang, rupiahku malang

Kemarin rupiah menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang nilai tukarnya terus turun terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang lain di Asia, di saat yang sama, menguat karena harga minyak dunia turun setelah prospek perdamaian di Timur Tengah meningkat.

“Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 17.744 per dolar AS, melemah 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan Jumat kemarin yang berada di level Rp 17.716.

Di saat yang sama baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,5 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup melesat 0,37 persen. Selanjutnya ada rupee India yang naik 0,36 persen dan ringgit Malaysia naik 0,32 persen. Lalu dolar Taiwan ditutup terangkat 0,3 persen.

Won Korea Selatam dan yuan China sama-sama terapresiasi 0,19 persen. Diikuti, dolar Singapura yang menanjak 0,18 persen. Kemudian, yen Jepang naik 0,12 persen serta dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback.

Melemah sendirian

Faktanya penurunan ini bukan fenomena sehari dua hari. Sepanjang tahun ini rupiah menjadi salah satu mata uang yang melemah paling dalam, ketika negara berkembang lain sukses menjaga nilai mata uang mereka terhadap dolar.

Peneliti ekonomi CSIS Dwi Wulan, dalam diskusi bertajuk "5,61% Tumbuh tapi Rapuh" di Jakarta pada akhir pekan kemarin, menunjukkan rupiah sudah melemah 5,4 persen terhadap dolar AS pada tahun ini.

Rupiah kalah dari real Brasil (menguat 10,8 persen); peso Argentina (4 persen); peso Meksiko (3,9 persen); ringgit Malaysia (2,3 persen), rand Afrika Selatan (0,3 persen), dong Vietnam (0 persen); dan baht Thailand (-4,3 persen).

Soal mata uang, Indonesia hanya menang dari lira Turki (-5,9 persen) dan rupee India (-7,1 persen), yang memang menjadi mata uang paling dengan nilai tukar paling buruk di dunia.

Faktanya, sejak Presiden Prabowo berkuasa, rupiah sudah melemah hingga lebih dari 11 persen.

Nilai tukar rupiah menyentuh rekor terburuk dalam sejarah di masa pemerintah Presiden Prabowo Subianto. [Tradingview/Gemini]
Nilai tukar rupiah menyentuh rekor terburuk dalam sejarah di masa pemerintah Presiden Prabowo Subianto. [Tradingview/Gemini]

Masalah kredibilitas

Menurut Dwi, masalah Indonesia adalah isu struktural domestik yang membuat investor tidak yakin untuk menaruh asetnya dalam rupiah. Masalah sturuktural itu antara lain soal defisit neraca berjalan yang terus berlangsung.

Defisit neraca ini, terang dia, biasanya dibiayai mengandalkan investasi portofolio. Sialnya investasi portofolio ini, seperti di surat utang negara dan pasar saham - sangat bergantung pada kepercayaan publik, termasuk investor pada kebijakan pemerintah.

Ia mencontohkan ketika pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di Kuartal I kemarin, dampaknya ke rupiah tidak signifikan. Alasannya karena investor tak lagi mempercayai kebijakan serta data-data pemerintah.

"Jadi ketika informasi GDP keluar tidak membuat investor yakin untuk kembali berinvestasi di Indonesia," terang Dwi.

Penjelasan Dwi ini diamini oleh ekonom Permata Bank Josua Pardede. Dalam sebuah acara yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan oleh Bank Indonesia akhir pekan lalu, Josua mengungkapkan Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang ditinggal investor.

Permata Bank mencatat besarnya investasi asing yang keluar dari pasar obligasi Indonesia di Kuartal I 2026 mencapai sekitar 1,48 miliar dolar AS dan 1,95 dolar AS dari pasar saham.

Josua mengatakan kondisi itu menunjukkan investor global mulai mencermati risiko domestik Indonesia, terutama terkait fiskal dan kualitas kebijakan ekonomi.

Mengembalikan kepercayaan

Karenanya, kata Dwi, untuk memperkuat rupiah tak cukup hanya intervensi dari BI - yang sejauh ini terbukti belum efektif.

"Pemulihan rupiah itu membutuhkan kebijakan yang realistis, disiplin, dan transparan secara struktural dan dapat mengembalikan kesehatannya kembali akibat dari kurang tepatnya kebijakan-kebijakan sebelumnya," kata Dwi.

Senada dengan itu, Josua menegaskan untuk mengembalikan investor ke pasar surat berharga Indonesia, diperlukan kebijakan fiskal yang berkualitas dari pemerintah.

"Kita melihat sekali lagi bahwa kondisinya dan bonds market itu tentunya berkaitan sangat erat dengan kondisi kebijakan fiskal dan kebijakan pemerintah," tegas dia.

Sementara ekonom UI Teuku Riefky mewanti-wanti bahwa kredibilitas sangat mahal harganya.

Ia mengutip sebuah penelitian yang dilakukan National Bureau of Economic Research (NBER), sebuah lembaga riset ekonomi di AS, yang menunjukkan bahwa jika saat kredibilitas sudah hancur maka kerugian terhadap pengambil kebijakan bisa mencapai 25 kali lipatnya.

"Jadi artinya, jangankan datanya ini salah. Datanya benar pun kalau ternyata orang sudah menganggap enggak kredibel itu bisa sangat costly untuk untuk memperbaiki kredibilitas," kata dia.

"Jadi yang ingin saya sampaikan di sini adalah, baik ke pemerintah maupun ke masyarakat, isunya bukan debat angka yang benar atau tidak, tapi bagaimana kita menjaga kredibilitas dari angka pertumbuhan ekonomi," tegas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menko Airlangga Sebut Rupiah Lemah Saat Ini Cuma 5 Persen

Menko Airlangga Sebut Rupiah Lemah Saat Ini Cuma 5 Persen

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 16:57 WIB

Rupiah Konsisten Melemah saat Mata Uang Negara Lain Menguat Karena Harga Minyak Turun

Rupiah Konsisten Melemah saat Mata Uang Negara Lain Menguat Karena Harga Minyak Turun

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 16:53 WIB

Cuma RI yang Kena Outflow Obligasi, Ekonom: Sedih Banget!

Cuma RI yang Kena Outflow Obligasi, Ekonom: Sedih Banget!

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 14:05 WIB

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.700 per Dolar, Pengamat Ungkap Faktor Penentu

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.700 per Dolar, Pengamat Ungkap Faktor Penentu

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 09:55 WIB

Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu

Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 08:02 WIB

Terkini

Pelindo Lakukan Soft Launching Layanan Kepelabuhanan di Perairan Nipa

Pelindo Lakukan Soft Launching Layanan Kepelabuhanan di Perairan Nipa

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 20:42 WIB

Setelah Sah Jadi BUMN, Danantara Mulai Audisi Direksi DSI

Setelah Sah Jadi BUMN, Danantara Mulai Audisi Direksi DSI

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 20:16 WIB

Danantara Punya Yayasan Filantropi, Fokus Benahi Kesehatan dan Pendidikan

Danantara Punya Yayasan Filantropi, Fokus Benahi Kesehatan dan Pendidikan

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 19:43 WIB

BRI Salurkan KUR Perumahan Rp9,2 Triliun, Menteri PKP Maruarar Sirait Ungkap Manfaat untuk UMKM

BRI Salurkan KUR Perumahan Rp9,2 Triliun, Menteri PKP Maruarar Sirait Ungkap Manfaat untuk UMKM

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 19:29 WIB

Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya

Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 19:19 WIB

Qita by BRI Diluncurkan, Permudah Pengelolaan Finansial dan Gaya Hidup Digital

Qita by BRI Diluncurkan, Permudah Pengelolaan Finansial dan Gaya Hidup Digital

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 18:34 WIB

Pegadaian dan ANTAM Perkuat Sinergi Strategis untuk Kembangkan Ekosistem Emas Nasional

Pegadaian dan ANTAM Perkuat Sinergi Strategis untuk Kembangkan Ekosistem Emas Nasional

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 18:28 WIB

Industri Keramik Mulai Bangkit, Utilisasi Industri Naik ke 75 Persen Tahun Ini

Industri Keramik Mulai Bangkit, Utilisasi Industri Naik ke 75 Persen Tahun Ini

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 18:19 WIB

Prabowo Siapkan Pelatihan Industri Semikonduktor untuk 15 Ribu Anak Muda

Prabowo Siapkan Pelatihan Industri Semikonduktor untuk 15 Ribu Anak Muda

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 18:18 WIB

PLTS Berkapasitas 71,9 MW Resmi Dibangun, Terbesar di Sektor Semen RI

PLTS Berkapasitas 71,9 MW Resmi Dibangun, Terbesar di Sektor Semen RI

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 18:15 WIB