Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik

Achmad Fauzi

Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:24 WIB
Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik
ilustrasi petugas memperbaiki jaringan listrik. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
baca 10 detik
  • Pengamat ITB Kevin Marojahan menyatakan perubahan pola iklim meningkatkan kompleksitas dalam pengelolaan stabilitas jaringan transmisi listrik modern.
  • Variabilitas cuaca ekstrem memicu potensi gangguan berantai pada sistem interkoneksi besar akibat kombinasi berbagai faktor lingkungan.
  • Operator perlu memperkuat infrastruktur dan memanfaatkan teknologi monitoring real-time untuk meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan terhadap cuaca.

Suara.com - Perubahan pola iklim dinilai menjadi tantangan baru bagi pengelolaan sistem kelistrikan modern. Meningkatnya perubahan cuaca membuat operator jaringan listrik harus memperhitungkan lebih banyak faktor dalam menjaga stabilitas sistem interkoneksi berskala besar.

Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor mengatakan kondisi cuaca kini menjadi salah satu parameter penting dalam pengoperasian jaringan transmisi listrik tegangan tinggi.

Menurutnya, berbagai faktor lingkungan seperti temperatur, kecepatan angin, curah hujan, hingga kelembapan dapat memengaruhi karakteristik mekanis maupun kelistrikan konduktor saat beroperasi.

"Dalam sistem tenaga modern, kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting yang diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi," ujarnya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Sejumlah warga menunggu pasokan listrik kembali menyala dengan penerangan lilin saat terjadi pemadaman listrik di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (23/5/2026). [Antara]
Sejumlah warga menunggu pasokan listrik kembali menyala dengan penerangan lilin saat terjadi pemadaman listrik di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (23/5/2026). [Antara]

Kevin menjelaskan, perubahan pola iklim tidak selalu berarti satu kejadian cuaca ekstrem langsung menyebabkan gangguan pada sistem kelistrikan. Namun, meningkatnya variabilitas cuaca membuat pengelolaan jaringan transmisi menjadi semakin kompleks.

"Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun variabilitas cuaca yang meningkat dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi," katanya.

Menurut dia, pada sistem interkoneksi besar seperti yang digunakan di Sumatra, gangguan tidak selalu dipicu oleh satu faktor tunggal. Dalam banyak kasus, gangguan muncul akibat kombinasi berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan.

"Gangguan pada sistem interkoneksi besar bersifat probabilistik. Dalam kondisi operasi tertentu, gangguan yang pada awalnya bersifat lokal berpotensi berkembang menjadi gangguan berantai (cascading disturbance) apabila gangguan tersebut berdampak pada aliran daya serta stabilitas sistem tenaga listrik," imbuhnya..

Ia menambahkan, semakin besar sistem interkoneksi yang dibangun, semakin tinggi pula tingkat kompleksitas yang harus dikelola operator sistem. Meski sistem besar memberikan keuntungan berupa efisiensi dan fleksibilitas penyaluran energi, risiko terhadap stabilitas jaringan juga menjadi lebih menantang.

baca juga

Karena itu, penggunaan teknologi monitoring real-time, analisis kondisi sistem berbasis data, hingga inspeksi jaringan menggunakan drone menjadi semakin penting untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini.

"Perkembangan teknologi monitoring dan proteksi sekarang memungkinkan operator membaca kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan juga bisa dilakukan lebih dini," ujarnya.

Selain pemanfaatan teknologi, Kevin menilai penguatan infrastruktur transmisi dan pembangkitan juga perlu terus dilakukan guna meningkatkan ketahanan sistem terhadap berbagai potensi gangguan yang muncul akibat kondisi cuaca yang semakin dinamis.

Ia mengatakan, tantangan tersebut tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian berbagai negara yang mengoperasikan sistem interkoneksi listrik berskala besar.

"Di berbagai negara, isu power system resiliency terhadap perubahan pola cuaca memang menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan modern," imbuhnya.

Berdasarkan hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN, gangguan diduga berkaitan dengan putusnya kabel transmisi pada area sambungan atau mid span jointing yang dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan pola iklim yang semakin dinamis, ketahanan sistem kelistrikan modern tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga kemampuan jaringan dalam beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout

Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:48 WIB

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 10:26 WIB

Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra

Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 15:30 WIB

Terkini

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

News | Sabtu, 12 September 2026 | 22:11 WIB

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:24 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jatim | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

×