Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.565.000
Beli Rp2.437.000
IHSG 6.039,521
LQ45 598,887
Srikehati 293,773
JII 363,965
USD/IDR 18.094

Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout

Achmad Fauzi

Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:48 WIB
Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout
ilustrasi transmisi listrik . [ANTARA]
baca 10 detik
  • Pemadaman listrik massal di Sumatra pada Mei 2026 diduga disebabkan oleh angin kencang yang merusak sambungan kabel transmisi.
  • Tekanan mekanis dan osilasi kabel akibat angin kencang menyebabkan titik sambungan menjadi area kritis saat sistem beroperasi.
  • Gangguan tersebut memicu sistem proteksi otomatis yang menyebabkan pembangkit listrik terlepas secara berantai dan memperluas skala pemadaman.

Suara.com - Pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di Sumatra membuka mata publik bahwa gangguan pada sistem kelistrikan tidak selalu disebabkan oleh kerusakan peralatan atau cuaca ekstrem yang terlihat dari permukaan tanah.

Angin kencang di area jaringan transmisi ternyata dapat menjadi pemicu gangguan serius hingga menyebabkan listrik padam dalam skala luas.

Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto menilai faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa blackout Sumatra. Dugaan tersebut menguat karena titik kerusakan berada pada area sambungan kabel transmisi atau mid span jointing.

"Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini," ujarnya seperti dikutip Jumat (29/5/2026).

Listrik padam massal. [Suara.com / M. Aribowo]
Listrik padam massal. [Suara.com / M. Aribowo]

Sebelumnya, hasil investigasi awal yang dilakukan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN mengungkap tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi. Ketiga faktor tersebut meliputi stress thermal akibat cuaca, masalah pada area sambungan kabel, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

Menurut Djoko, banyak masyarakat menilai kondisi cuaca hanya berdasarkan situasi yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, kondisi di ketinggian tempat kabel transmisi berada bisa sangat berbeda.

"Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel," katanya.

Ia menjelaskan, terpaan angin yang terjadi secara terus-menerus dapat memicu osilasi atau pergerakan kabel.

Dalam jangka waktu tertentu, kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama saat sistem sedang menanggung beban tinggi.

baca juga

Titik yang mengalami kerusakan diketahui berada pada area mid span jointing, yakni sambungan yang menghubungkan dua konduktor pada bentangan kabel transmisi. Menurut Djoko, area tersebut memang menjadi salah satu titik paling kritis dalam sistem transmisi listrik.

"Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi," katanya.

Djoko juga menilai hasil inspeksi thermal yang sebelumnya menunjukkan kondisi jaringan masih normal tidak serta merta menutup kemungkinan terjadinya gangguan.

Pasalnya, kombinasi faktor cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu meninggalkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi thermal menggunakan drone.

“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat berkembang sangat cepat menjadi pemadaman luas. Saat frekuensi jaringan mengalami penurunan drastis, sistem proteksi akan bekerja secara otomatis untuk melindungi pembangkit dan jaringan listrik.

Akibatnya, pembangkit dapat terlepas dari sistem secara berantai sehingga memperluas dampak gangguan. :Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai," ujarnya.

Menurut Djoko, mekanisme tersebut merupakan standar yang diterapkan dalam sistem ketenagalistrikan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar pada jaringan maupun pembangkit listrik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 10:26 WIB

Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra

Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 15:30 WIB

Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG

Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 15:23 WIB

Terkini

Tak Sesuai UUD 45, Purbaya Akui Realisasi Anggaran Pendidikan 2025 Tak Capai 20%

Tak Sesuai UUD 45, Purbaya Akui Realisasi Anggaran Pendidikan 2025 Tak Capai 20%

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:18 WIB

Peringkat Utang Aman, Mengapa Ekonomi Indonesia Tetap Terancam?

Peringkat Utang Aman, Mengapa Ekonomi Indonesia Tetap Terancam?

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:14 WIB

IHSG Masih Betah di Level 6.000 pada Sesi I, BMRI dan BBCA Diserbu

IHSG Masih Betah di Level 6.000 pada Sesi I, BMRI dan BBCA Diserbu

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 13:08 WIB

Pengabdian Menjadi Nilai Ibadah, PNM Berangkatkan Ratusan Karyawan ke Tanah Suci

Pengabdian Menjadi Nilai Ibadah, PNM Berangkatkan Ratusan Karyawan ke Tanah Suci

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:29 WIB

Daftar Saham HSC: Update BEI, Emiten Prajogo Pangestu Ikut Masuk List

Daftar Saham HSC: Update BEI, Emiten Prajogo Pangestu Ikut Masuk List

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:16 WIB

Purbaya: Prabowo Terus Pantau Kondisi Ekonomi RI, Diskusi Seminggu Sekali

Purbaya: Prabowo Terus Pantau Kondisi Ekonomi RI, Diskusi Seminggu Sekali

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 10:52 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.039 Triliun, Beban Pemerintah Terus Membengkak

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.039 Triliun, Beban Pemerintah Terus Membengkak

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 10:48 WIB

Harga Cabai Anjlok hingga 13%, Beras dan Daging Ayam Justru Kompak Naik

Harga Cabai Anjlok hingga 13%, Beras dan Daging Ayam Justru Kompak Naik

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 10:42 WIB

KAI Mulai Gunakan Biodiesel B50 secara Bertahap pada Lokomotif

KAI Mulai Gunakan Biodiesel B50 secara Bertahap pada Lokomotif

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 10:41 WIB

Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak

Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 10:18 WIB

×