Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.785.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.130,190
LQ45 620,397
Srikehati 308,223
JII 381,928
USD/IDR 17.784

Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout

Achmad Fauzi

Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:48 WIB
Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout
ilustrasi transmisi listrik . [ANTARA]
  • Pemadaman listrik massal di Sumatra pada Mei 2026 diduga disebabkan oleh angin kencang yang merusak sambungan kabel transmisi.
  • Tekanan mekanis dan osilasi kabel akibat angin kencang menyebabkan titik sambungan menjadi area kritis saat sistem beroperasi.
  • Gangguan tersebut memicu sistem proteksi otomatis yang menyebabkan pembangkit listrik terlepas secara berantai dan memperluas skala pemadaman.

Suara.com - Pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di Sumatra membuka mata publik bahwa gangguan pada sistem kelistrikan tidak selalu disebabkan oleh kerusakan peralatan atau cuaca ekstrem yang terlihat dari permukaan tanah.

Angin kencang di area jaringan transmisi ternyata dapat menjadi pemicu gangguan serius hingga menyebabkan listrik padam dalam skala luas.

Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto menilai faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa blackout Sumatra. Dugaan tersebut menguat karena titik kerusakan berada pada area sambungan kabel transmisi atau mid span jointing.

"Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini," ujarnya seperti dikutip Jumat (29/5/2026).

Listrik padam massal. [Suara.com / M. Aribowo]
Listrik padam massal. [Suara.com / M. Aribowo]

Sebelumnya, hasil investigasi awal yang dilakukan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN mengungkap tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi. Ketiga faktor tersebut meliputi stress thermal akibat cuaca, masalah pada area sambungan kabel, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

Menurut Djoko, banyak masyarakat menilai kondisi cuaca hanya berdasarkan situasi yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, kondisi di ketinggian tempat kabel transmisi berada bisa sangat berbeda.

"Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel," katanya.

Ia menjelaskan, terpaan angin yang terjadi secara terus-menerus dapat memicu osilasi atau pergerakan kabel.

Dalam jangka waktu tertentu, kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama saat sistem sedang menanggung beban tinggi.

Titik yang mengalami kerusakan diketahui berada pada area mid span jointing, yakni sambungan yang menghubungkan dua konduktor pada bentangan kabel transmisi. Menurut Djoko, area tersebut memang menjadi salah satu titik paling kritis dalam sistem transmisi listrik.

"Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi," katanya.

Djoko juga menilai hasil inspeksi thermal yang sebelumnya menunjukkan kondisi jaringan masih normal tidak serta merta menutup kemungkinan terjadinya gangguan.

Pasalnya, kombinasi faktor cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu meninggalkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi thermal menggunakan drone.

“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat berkembang sangat cepat menjadi pemadaman luas. Saat frekuensi jaringan mengalami penurunan drastis, sistem proteksi akan bekerja secara otomatis untuk melindungi pembangkit dan jaringan listrik.

Akibatnya, pembangkit dapat terlepas dari sistem secara berantai sehingga memperluas dampak gangguan. :Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai," ujarnya.

Menurut Djoko, mekanisme tersebut merupakan standar yang diterapkan dalam sistem ketenagalistrikan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar pada jaringan maupun pembangkit listrik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 10:26 WIB

Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra

Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 15:30 WIB

Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG

Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 15:23 WIB

Terkini

Siasat DSI Kurung Devisa CPO dan Batu Bara di Dalam Negeri, Rupiah Bakal Perkasa Juara?

Siasat DSI Kurung Devisa CPO dan Batu Bara di Dalam Negeri, Rupiah Bakal Perkasa Juara?

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:47 WIB

Resmi, Pemerintah Izinkan BLU Impor Minyak dan LPG

Resmi, Pemerintah Izinkan BLU Impor Minyak dan LPG

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:44 WIB

PT DSI Kendalikan Ekspor, ESDM Rampungkan Konsolidasi Data Pertambangan dengan Danantara

PT DSI Kendalikan Ekspor, ESDM Rampungkan Konsolidasi Data Pertambangan dengan Danantara

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:18 WIB

Rupiah Melemah Hampir Sentuh Rp18.000 per Dolar, Bagaimana Nasib Harga Pertalite?

Rupiah Melemah Hampir Sentuh Rp18.000 per Dolar, Bagaimana Nasib Harga Pertalite?

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:00 WIB

MSCI Berlaku Hari Ini, IHSG Berakhir di Zona Merah ke Level 6.127

MSCI Berlaku Hari Ini, IHSG Berakhir di Zona Merah ke Level 6.127

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:50 WIB

Naik ke Papan Utama, Emiten Berpeluang Diburu Investor Asing

Naik ke Papan Utama, Emiten Berpeluang Diburu Investor Asing

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:11 WIB

Begini Cara Emiten TAPG Perkuat Aspek ESG

Begini Cara Emiten TAPG Perkuat Aspek ESG

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:02 WIB

Tak Hanya Pertamina, Pemerintah Justru Bolehkan Lemigas Impor Minyak Mentah

Tak Hanya Pertamina, Pemerintah Justru Bolehkan Lemigas Impor Minyak Mentah

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:52 WIB

Emiten-emiten Konglomerat Mulai Komentar Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

Emiten-emiten Konglomerat Mulai Komentar Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:10 WIB

Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!

Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:29 WIB