- Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari dua persen pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026 di pasar internasional.
- Lonjakan harga dipicu oleh eskalasi pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon yang mengabaikan kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.
- Kekhawatiran pemasangan ranjau di Selat Hormuz oleh Iran menghambat suplai energi global dan memicu sentimen negatif pasar minyak.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 persen pada pembukaan perdagangan Senin 1 Juni 2026.
Lonjakan ini dipicu oleh instruksi Israel kepada pasukannya untuk merangsek lebih jauh ke wilayah Lebanon guna menggempur kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran, meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam minggu lalu.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka WTI naik 2,37 dolar AS atau 2,71 persen ke level 89,73 dolar AS per barel pada pukul 00.28 GMT (07,28 WIB).
Sementara itu, minyak mentah Brent naik 2,16 dolar AS atau 2,37 persen menjadi 93,28 dolar AS per barel.
Dilaporkan, eskalasi pertempuran terjadi tepat setelah AS memfasilitasi pembicaraan damai antara Israel dan Lebanon di Washington pada Jumat lalu.
Kondisi ini meredam ekspektasi pasar bahwa AS dan Iran akan segera memperpanjang kesepakatan gencatan senjata mereka, sentimen yang sebelumnya sempat menekan harga Brent dan WTI masing-masing sebesar 1,8 persen dan 1,7 persen di akhir pekan lalu.
![Ilustrasi harga minyak bertahan di atas USD 100 meskipun AS tambah pasokan minyaknya [Suara.com/HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/07/60704-ilustrasi-harga-minyak.jpg)
Konflik Israel-Lebanon ini menjadi imbas terluas dari perang Iran, yang bermula pada 2 Maret saat Hizbullah mulai meluncurkan roket dan pesawat nirawak melintasi perbatasan Israel demi mendukung sekutunya, Iran.
Kedua belah pihak sebenarnya sempat menyepakati gencatan senjata pada pertengahan April, namun aksi saling serang tetap terus terjadi di lapangan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan pada hari Jumat bahwa ia akan segera mengambil keputusan terkait proposal perpanjangan gencatan senjata dengan Iran yang dimulai sejak awal April lalu.
Langkah ini dimaksudkan untuk memberi waktu lebih bagi para negosiator dalam mengupayakan penghentian konflik secara permanen, sekaligus mencari solusi atas perselisihan program nuklir Iran.
Israel memegang peran kunci dalam kesepakatan tersebut, sementara Iran berulang kali menegaskan bahwa Hizbullah harus dilibatkan.
Analis IG, Tony Sycamore, juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terkait ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk minyak dan gas global.
Menurutnya, ancaman ini berpotensi memperlambat proses pembukaan kembali selat tersebut, sehingga pelonggaran pasokan ke pasar minyak dunia akan berjalan lebih lambat.
"Bahkan jika kesepakatan tercapai, pasokan minyak tidak akan langsung membanjiri pasar," ujar Sycamore.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh laporan jurnalis Axios melalui media sosial X pada hari Jumat, yang menyebutkan bahwa Iran kembali menjatuhkan ranjau di selat tersebut awal pekan lalu.
Padahal, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap upaya pemasangan ranjau baru merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Jalur ini praktis lumpuh setelah Iran menutupnya sejak konflik pecah akibat serangan AS dan Israel pada Februari lalu.
Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan ini pada akhirnya mengaburkan sentimen negatif dari rilis data ekonomi China yang lesu di akhir pekan.
Data tersebut menunjukkan aktivitas pabrik di China yang jalan di tempat, menambah kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mulai kehilangan momentum akibat kontraksi ekspor dan tekanan biaya produksi.