- Nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp18.066 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026 di Jakarta.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh penurunan surplus neraca perdagangan domestik April 2026 yang jauh di bawah ekspektasi pasar.
- Tekanan terhadap mata uang lokal diperburuk oleh sentimen global serta kekhawatiran investor terkait independensi kebijakan Bank Indonesia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan koreksi negatif pada pembukaan perdagangan menjelang akhir pekan.
Berdasarkan data pasar spot pada Jumat pagi, mata uang Garuda terpantau bergerak melemah sebesar 17 poin atau sekitar 0,09 persen, yang membawa rupiah kini bertengger di posisi Rp18.066 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya di level Rp18.049 per dolar AS.
Koreksi ini memicu perhatian para pelaku pasar dan investor ritel berusia 18-45 tahun di kota-kota besar yang aktif mengamati pergerakan instrumen keuangan.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang didominasi faktor eksternal, pelemahan kali ini dinilai lebih banyak dipicu oleh rilis indikator ekonomi makro dari dalam negeri.
Analis dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, memaparkan bahwa katalis utama yang menekan performa mata uang lokal berasal dari rilis data internal yang kurang menggembirakan bagi pasar.
“Sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah berasal dari sisi domestik, terutama setelah data neraca perdagangan Indonesia yang dirilis pada 2 Juni 2026 menunjukkan perdagangan April 2026 hanya mencapai 0,09 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,32 miliar dolar AS dan di bawah ekspektasi pasar,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Kemerosotan performa neraca dagang yang cukup drastis tersebut secara langsung berimplikasi pada pasokan valuta asing di dalam negeri.
Penurunan surplus ini mencerminkan adanya penyusutan arus masuk (inflow) devisa dari aktivitas ekspor-impor, sehingga fondasi penopang nilai tukar rupiah di pasar valas menjadi melonggar dan rentan terhadap tekanan dolar AS.
Selain faktor performa dagang, Amru juga menggarisbawahi bahwa kekuatan indeks dolar AS di panggung global masih menjadi batu sandungan yang berat bagi mata uang negara berkembang.
Ketidakpastian geopolitik dan makro global yang masih pekat membuat para pengelola dana internasional lebih memilih mengamankan portofolio mereka pada aset-aset safe haven berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil menarik.
Dari sisi psikologis pasar, sentimen negatif juga diperparah oleh dinamika regulasi di sektor keuangan domestik. Para investor asing cenderung bersikap lebih konservatif dan berhati-hati dalam menempatkan modal mereka di instrumen keuangan Indonesia.
Kekhawatiran investor terhadap independensi Bank Indonesia pasca pengesahan regulasi yang memperluas peran bank sentral dianggap menambah kehati-hatian pelaku pasar terhadap aset Indonesia.
Rekomendasi Solusi Stabilisasi Kurs
Melihat situasi pasok valas yang mengetat, langkah intervensi taktis dan bauran kebijakan yang solid mutlak diperlukan untuk meredam volatilitas berlebih agar rupiah tidak terjerembab semakin dalam. Bank Indonesia dinilai perlu mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia di pasar.
Langkah stabilisasi tersebut dapat ditempuh melalui:
- Intervensi langsung secara terukur di pasar valuta asing spot.
- Optimalisasi transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
- Operasi pasar di sektor obligasi serta menjaga kecukupan likuiditas valas perbankan domestik.
“Sementara itu, pemerintah perlu memperkuat kepercayaan investor melalui konsistensi kebijakan ekonomi, menjaga kredibilitas fiskal, serta mendorong optimalisasi devisa hasil ekspor agar pasokan valas di dalam negeri tetap terjaga,” ungkap Amru.
Mencermati berbagai akumulasi variabel di atas, pergerakan nilai tukar rupiah pada sisa perdagangan hari ini diproyeksikan akan berjalan dinamis dan fluktuatif.
Pola pergerakan mata uang diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan eksternal maupun internal dengan estimasi rentang pergerakan di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.110 per dolar AS.