- OJK mencatat utang masyarakat pada industri pinjaman daring hingga April 2026 tumbuh signifikan mencapai Rp 102,07 triliun.
- Tingkat risiko kredit macet pada sektor pinjaman daring mengalami peningkatan menjadi 4,62 persen pada April 2026.
- Pembiayaan melalui skema Buy Now Pay Later dan industri pergadaian mencatatkan pertumbuhan pesat per April 2026.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan industri keuangan digital meningkat. Salah satunya penggunaan pinjaman daring (pindar) yang banyak diminati.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman mengatakan hingga April 2026, utang masyarakat pada aplikasi pinjaman online tembus di atas Rp 100 triliun.
"Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada April 2026 tumbuh 26,11 persen yoy dengan nominal sebesar Rp 102,07 triliun," ujarnya dalam Rapat Dewan Komisioner OJK dalam virtual dikutip dari Youtube OJK, Minggu (7/6/2026).
Sedangkan, tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) atau gagal bayar tercatat meningkat. Rinciannya di posisi 4,62 persen atau naik dibandingkan bulan Maret 2026 yang mencapi 4,52 persen.
![Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan (PVML) OJK, Agusman. [Suara.com/Rina Anggraeni].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/13/10317-ojk-agusman.jpg)
Hal itu juga terjadi pada pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL). Berdasarkan informasi SLIK, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 56,92 persen yoy, menjadi Rp 12,93 triliun.
Sedangkan tingkat kredit macet atau Non Perfoming Financing (NPF) tercatat sebesar 2,99 persen.
"Pembiayaan modal ventura pada April 2026 terkontraksi sebesar 0,87 persen yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp 16,35 triliun," katanya.
Selain itu, profil risiko Perusahaan Pembiayaan (PP) terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,89 persen dan NPF net sebesar 0,78 persen, lalu rasio utang terhadap ekuitas atau Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,14 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.
Lalu, pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan pada April 2026 tumbuh sebesar 56,80 persen yoy menjadi Rp157,20 triliun, dengan pembiayaan terbesar disalurkan dalam bentuk produk Gadai, yaitu sebesar Rp 132,29 triliun atau 84,15 persen dari total pembiayaan.