- Rupiah melemah dan investor asing keluar, tekanan ekonomi meningkat.
- Tokoh politik mulai kritik pemerintah jelang kontestasi 2029.
- Kinerja ekonomi berpotensi menentukan arah persaingan politik nasional.
Suara.com - Tekanan terhadap perekonomian Indonesia mulai memunculkan dinamika politik baru. Di tengah jebolnya rupiah, turunnya kepercayaan investor asing, dan meningkatnya sorotan terhadap belanja negara, sejumlah tokoh politik nasional disebut mulai melihat peluang untuk memperkuat posisi menjelang Pemilihan Presiden 2029.
Laporan terbaru harian Singapura, The Straits Times, menyebut Presiden Prabowo Subianto menghadapi kritik yang semakin tajam terkait kondisi ekonomi.
Rupiah disebut menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, sementara pasar saham Indonesia mengalami tekanan akibat arus keluar modal asing. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Situasi itu dimanfaatkan sejumlah figur politik untuk kembali tampil di ruang publik. Salah satu yang disorot adalah Anies Baswedan yang mulai melontarkan kritik terhadap ketidakpastian ekonomi nasional.
Pengamat politik menilai langkah tersebut merupakan upaya membangun kembali basis dukungan politik sekaligus menguji sentimen publik terhadap pemerintahan saat ini.
Meski pemilu masih tiga tahun lagi, berbagai manuver politik dinilai mulai menghangat seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu ekonomi. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi akan menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi peta persaingan politik menuju 2029.
Dikeathui, nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan, Senin 8 Mei 2026. Bahkan, rupiah terus cetak rekor terburuknya.
Berdasarkan data kompilasi pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp 18.187 per dolar AS atau turun sebesar 151 poin atau setara 0,8 persen.
Senasib dengan rupiah, IHSG juga mengalami pelemahan pada penutupan Senin ini ke level 5.342 atau turun 4,52 persen.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG ini imbas dri hilangnya kepercayaan investor asing ke pasar saham Indonesia.
"Selain itu, sentimen Iran dan Israel saling melakukan serangan, sehingga mengancam gencatan senjata yang rapuh. Akibatnya harga minyak mentah naik lebih dari 4 persen, sehingga meningkatkan risiko akan potensi kenaikan inflasi yang berlanjut serta potensi pelebaran defisit APBN 2026," tulis Phintraco Sekuritas.