- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.991 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026 siang hari.
- Pelemahan dipicu penguatan dolar AS, konflik di Timur Tengah, serta penurunan daya beli masyarakat di dalam negeri.
- Bank Indonesia mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan saat rapat dewan gubernur minggu depan guna menstabilkan mata uang.
Suara.com - Laju pemulihan mata uang domestik kembali tertahan oleh kombinasi tekanan eksternal dan melambatnya indikator ekonomi dalam negeri.
Nilai tukar rupiah terpantau terpuruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Kamis (11/6/2026) siang, hingga posisinya kembali mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kemerosotan ini terjadi di tengah keperkasaan indeks dolar global, eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah, serta rilis data konsumsi rumah tangga yang mengecewakan menjelang rapat kebijakan moneter pekan depan.
Saat laporan ini disusun, kurs Rupiah mencatatkan koreksi sedalam 47 poin atau melemah sekitar 0,26 persen menuju level Rp17.991 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (greenback) merangkak naik tipis 0,02 persen ke posisi 99,96.
Berdasarkan komparasi data dari TradingView, tekanan berat yang melanda rupiah sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS yang terus bertahan kokoh di sekitar zona tertingginya dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Jajaran pemegang modal global terpantau kembali memindahkan portofolio mereka ke instrumen aset aman (safe haven). Langkah ini dipicu oleh aksi serangan udara susulan militer AS ke wilayah Iran, yang memperuncing kekhawatiran pelaku pasar atas pecahnya perang skala besar di kawasan Timur Tengah.
Dari dalam negeri, iklim investasi di pasar keuangan kurang menguntungkan akibat dibayangi oleh melambatnya daya beli masyarakat.
Laporan terbaru menunjukkan indikator penjualan ritel Indonesia pada bulan April mengalami kontraksi secara tahunan untuk pertama kalinya dalam setahun belakangan ini.
Rapor merah sektor ritel tersebut mempertebal kecemasan analis bahwa kebijakan penyesuaian ke atas pada tarif bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai memberikan dampak negatif yang nyata terhadap kapasitas belanja rumah tangga.
Kondisi riil ini membuat para pelaku pasar cenderung mengabaikan draf proyeksi jangka panjang yang sempat dirilis oleh Bank Indonesia (BI).
Sebelumnya, bank sentral memperkirakan bahwa kurs rupiah berpeluang menguat dan kembali ke koridor Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada periode tahun depan.
Untuk saat ini, fokus perhatian investor jangka pendek lebih tersedot pada kalkulasi risiko inflasi serta potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.
Mendekati agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan bergulir pekan depan, Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan pandangannya. Ia mengonfirmasi bahwa bank sentral saat ini masih melakukan evaluasi mendalam terkait perlu tidaknya mengerek kembali suku bunga acuan (BI-Rate).
Sebagai catatan, BI telah mengambil langkah kontraktif dengan menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 75 basis points (bps) sejak bulan Mei lalu untuk membentengi mata uang dari pelarian modal. Kendati demikian, Perry mempertegas bahwa arah kebijakan moneter selanjutnya akan sepenuhnya mengacu pada perkembangan data ekonomi terbaru serta volatilitas di pasar keuangan global.
"Keputusan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar keuangan ke depan," ujar Perry.
Sebagai kilas balik historis, nilai tukar rupiah sempat mencatatkan rekor kelemahan paling ekstrem dalam sejarah menyentuh angka Rp18.049 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 lalu.
Dalam rentang transaksi harian pada pekan lalu tersebut, pergerakan intraday rupiah bahkan sempat menembus titik terendahnya di kisaran Rp18.029 hingga Rp18.050 per dolar AS.