Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.685.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 5.886,032
LQ45 586,842
Srikehati 288,489
JII 347,233
USD/IDR 17.977

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:19 WIB
Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun
Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 7-8 Juli 2026 disebut akan menjadi momentum finalisasi kontrak penjualan rudal BrahMos kepada Indonesia. Sistem rudal tersebut direncanakan ditempatkan di jalur strategis seperti Selat Malaka. Foto ist.
  • Rudal BrahMos Rp 7,3 triliun dikritik karena jangkauan ekspornya hanya 290 km.
  • Harga pembelian RI lebih mahal US$75 juta dibanding kontrak Filipina.
  • Ekonom ingatkan risiko utang luar negeri dan tekanan terhadap APBN.

Suara.com - Rencana Indonesia membeli sistem rudal BrahMos dari India kembali menjadi sorotan. Di tengah upaya memperkuat pertahanan nasional, muncul pertanyaan besar apakah rudal berharga ratusan juta dolar AS itu benar-benar sebanding dengan biaya dan risiko fiskal yang harus ditanggung negara?

Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 7-8 Juli 2026 disebut akan menjadi momentum finalisasi kontrak penjualan rudal BrahMos kepada Indonesia. Sistem rudal tersebut direncanakan ditempatkan di jalur strategis seperti Selat Malaka.

Di atas kertas, BrahMos memang terlihat mengesankan. Rudal ini mampu melesat hingga Mach 2,8 atau hampir tiga kali kecepatan suara dan dikenal sebagai salah satu rudal anti-kapal tercepat di dunia.

Namun, kemampuan itu dinilai belum tentu menjawab kebutuhan pertahanan Indonesia yang memiliki wilayah laut sangat luas. Pasalnya, versi ekspor BrahMos yang ditawarkan ke Indonesia memiliki jangkauan maksimal sekitar 290 kilometer karena harus mematuhi aturan internasional Missile Technology Control Regime (MTCR).

Sejumlah pengamat menilai jangkauan tersebut masih jauh dari cukup untuk mengawasi dan melindungi seluruh wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang membentang ribuan kilometer.

"Ini seperti memasang pagar pendek untuk melindungi kebun yang sangat luas," demikian kritik yang muncul terhadap rencana pengadaan tersebut.

Kontroversi semakin besar setelah terungkap bahwa pembelian tiga sistem rudal BrahMos akan dibiayai melalui pinjaman dari Bank Nasional India senilai US$ 450 juta atau setara sekitar Rp 7,3 triliun (kurs Rp 16.250 per dolar AS).

Angka itu lebih tinggi dibandingkan kontrak penjualan tiga sistem serupa ke Filipina pada 2022 yang nilainya hanya sekitar US$ 375 juta.

Perbedaan harga mencapai US$ 75 juta atau lebih dari Rp 1,2 triliun memunculkan tanda tanya. Publik mempertanyakan apakah terdapat peningkatan teknologi tertentu atau faktor lain yang membuat harga pembelian Indonesia jauh lebih mahal.

Saat ini TNI Angkatan Laut telah mengoperasikan rudal Exocet MM40 Block-3 buatan Prancis dengan kemampuan serangan anti-kapal dan jangkauan antara 180 hingga 200 kilometer.

Artinya, kehadiran BrahMos hanya menambah jangkauan sekitar 90 hingga 110 kilometer. Tambahan kemampuan tersebut dinilai perlu dikaji lebih dalam mengingat biaya investasi yang sangat besar.

Selain itu, performa BrahMos dalam penggunaan tempur juga menjadi bahan evaluasi. Dalam konflik India-Pakistan pada 2025, sejumlah laporan menyebut beberapa rudal mengalami penyimpangan jalur akibat gangguan elektronik sehingga efektivitas operasionalnya dipertanyakan.

Konsultan pertahanan dari Marapi Consulting and Advisory, Alman Helvas Ali, mengingatkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum cukup kuat untuk secara konsisten mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurutnya, setiap pengadaan alutsista harus mempertimbangkan kemampuan fiskal negara dan kebutuhan strategis jangka panjang.

"Pengeluaran pertahanan harus dilakukan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan kondisi fiskal, perencanaan pertahanan strategis, dan faktor teknologi. Keputusan untuk pengadaan sistem rudal tunggal tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesehatan keuangan negara," ujarnya.

Para pengamat mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap pembiayaan utang luar negeri berpotensi menambah tekanan terhadap APBN di masa depan. Di tengah tantangan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, pemerintah dinilai perlu memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat strategis maksimal bagi keamanan nasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Perintahkan Kaji Ulang Buku Pelajaran, Tak Mau Siswa Indonesia Kalah dari Luar Negeri

Prabowo Perintahkan Kaji Ulang Buku Pelajaran, Tak Mau Siswa Indonesia Kalah dari Luar Negeri

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 20:15 WIB

Purbaya dan DPR Sepakati KEM-PPKF 2027: Defisit APBN 2,4 Persen, Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen

Purbaya dan DPR Sepakati KEM-PPKF 2027: Defisit APBN 2,4 Persen, Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 20:06 WIB

Prabowo dan Jusuf Kalla Bertemu Tertutup di Istana

Prabowo dan Jusuf Kalla Bertemu Tertutup di Istana

Foto | Kamis, 11 Juni 2026 | 18:27 WIB

Terkini

Rupiah Melemah Jadi Alasan Tarif Pesawat Naik, Alvin Lie ke Menhub Dudy: Dia Melanggar Undang-undang

Rupiah Melemah Jadi Alasan Tarif Pesawat Naik, Alvin Lie ke Menhub Dudy: Dia Melanggar Undang-undang

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:10 WIB

BI Sebut Obat Kuat Ini Bikin Rupiah Mulai Menguat Lawan Dolar AS

BI Sebut Obat Kuat Ini Bikin Rupiah Mulai Menguat Lawan Dolar AS

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:02 WIB

Program 3 Juta Rumah, Kredit Perumahan Rp500 Miliar Dapat Penguatan Mitigasi Risiko

Program 3 Juta Rumah, Kredit Perumahan Rp500 Miliar Dapat Penguatan Mitigasi Risiko

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:54 WIB

Pengamat Sentil Menhub soal Wacana Kenaikan Tarif Pesawat: Mau Langgar Aturan?

Pengamat Sentil Menhub soal Wacana Kenaikan Tarif Pesawat: Mau Langgar Aturan?

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:52 WIB

Jaga Daya Beli Rakyat, Pemerintah Kaji Insentif setelah Harga Pertamax Naik

Jaga Daya Beli Rakyat, Pemerintah Kaji Insentif setelah Harga Pertamax Naik

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:39 WIB

Resmi Meluncur, JAM Coin Bidik 21 Juta Investor Kripto dan Garap Ekonomi Desa

Resmi Meluncur, JAM Coin Bidik 21 Juta Investor Kripto dan Garap Ekonomi Desa

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:37 WIB

Harga Minyak Dunia Lesu Setelah Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Harga Minyak Dunia Lesu Setelah Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:28 WIB

Harga Pangan Hari : Cabai hingga Daging Ayam Turun Tajam, Bawang Merah dan Gula Premium Justru Naik

Harga Pangan Hari : Cabai hingga Daging Ayam Turun Tajam, Bawang Merah dan Gula Premium Justru Naik

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:13 WIB

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Merosot ke Level Rp17.928

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Merosot ke Level Rp17.928

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:34 WIB

IHSG Melonjak ke Level 5.960 Jumat Pagi, Investor Serbu Saham-Saham Ini

IHSG Melonjak ke Level 5.960 Jumat Pagi, Investor Serbu Saham-Saham Ini

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:18 WIB