Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:19 WIB
Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun
Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 7-8 Juli 2026 disebut akan menjadi momentum finalisasi kontrak penjualan rudal BrahMos kepada Indonesia. Sistem rudal tersebut direncanakan ditempatkan di jalur strategis seperti Selat Malaka. Foto ist.
baca 10 detik
  • Rudal BrahMos Rp 7,3 triliun dikritik karena jangkauan ekspornya hanya 290 km.
  • Harga pembelian RI lebih mahal US$75 juta dibanding kontrak Filipina.
  • Ekonom ingatkan risiko utang luar negeri dan tekanan terhadap APBN.

Suara.com - Rencana Indonesia membeli sistem rudal BrahMos dari India kembali menjadi sorotan. Di tengah upaya memperkuat pertahanan nasional, muncul pertanyaan besar apakah rudal berharga ratusan juta dolar AS itu benar-benar sebanding dengan biaya dan risiko fiskal yang harus ditanggung negara?

Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 7-8 Juli 2026 disebut akan menjadi momentum finalisasi kontrak penjualan rudal BrahMos kepada Indonesia. Sistem rudal tersebut direncanakan ditempatkan di jalur strategis seperti Selat Malaka.

Di atas kertas, BrahMos memang terlihat mengesankan. Rudal ini mampu melesat hingga Mach 2,8 atau hampir tiga kali kecepatan suara dan dikenal sebagai salah satu rudal anti-kapal tercepat di dunia.

Namun, kemampuan itu dinilai belum tentu menjawab kebutuhan pertahanan Indonesia yang memiliki wilayah laut sangat luas. Pasalnya, versi ekspor BrahMos yang ditawarkan ke Indonesia memiliki jangkauan maksimal sekitar 290 kilometer karena harus mematuhi aturan internasional Missile Technology Control Regime (MTCR).

Sejumlah pengamat menilai jangkauan tersebut masih jauh dari cukup untuk mengawasi dan melindungi seluruh wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang membentang ribuan kilometer.

"Ini seperti memasang pagar pendek untuk melindungi kebun yang sangat luas," demikian kritik yang muncul terhadap rencana pengadaan tersebut.

Kontroversi semakin besar setelah terungkap bahwa pembelian tiga sistem rudal BrahMos akan dibiayai melalui pinjaman dari Bank Nasional India senilai US$ 450 juta atau setara sekitar Rp 7,3 triliun (kurs Rp 16.250 per dolar AS).

Angka itu lebih tinggi dibandingkan kontrak penjualan tiga sistem serupa ke Filipina pada 2022 yang nilainya hanya sekitar US$ 375 juta.

Perbedaan harga mencapai US$ 75 juta atau lebih dari Rp 1,2 triliun memunculkan tanda tanya. Publik mempertanyakan apakah terdapat peningkatan teknologi tertentu atau faktor lain yang membuat harga pembelian Indonesia jauh lebih mahal.

baca juga

Saat ini TNI Angkatan Laut telah mengoperasikan rudal Exocet MM40 Block-3 buatan Prancis dengan kemampuan serangan anti-kapal dan jangkauan antara 180 hingga 200 kilometer.

Artinya, kehadiran BrahMos hanya menambah jangkauan sekitar 90 hingga 110 kilometer. Tambahan kemampuan tersebut dinilai perlu dikaji lebih dalam mengingat biaya investasi yang sangat besar.

Selain itu, performa BrahMos dalam penggunaan tempur juga menjadi bahan evaluasi. Dalam konflik India-Pakistan pada 2025, sejumlah laporan menyebut beberapa rudal mengalami penyimpangan jalur akibat gangguan elektronik sehingga efektivitas operasionalnya dipertanyakan.

Konsultan pertahanan dari Marapi Consulting and Advisory, Alman Helvas Ali, mengingatkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum cukup kuat untuk secara konsisten mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurutnya, setiap pengadaan alutsista harus mempertimbangkan kemampuan fiskal negara dan kebutuhan strategis jangka panjang.

"Pengeluaran pertahanan harus dilakukan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan kondisi fiskal, perencanaan pertahanan strategis, dan faktor teknologi. Keputusan untuk pengadaan sistem rudal tunggal tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesehatan keuangan negara," ujarnya.

Para pengamat mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap pembiayaan utang luar negeri berpotensi menambah tekanan terhadap APBN di masa depan. Di tengah tantangan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, pemerintah dinilai perlu memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat strategis maksimal bagi keamanan nasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Perintahkan Kaji Ulang Buku Pelajaran, Tak Mau Siswa Indonesia Kalah dari Luar Negeri

Prabowo Perintahkan Kaji Ulang Buku Pelajaran, Tak Mau Siswa Indonesia Kalah dari Luar Negeri

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 20:15 WIB

Purbaya dan DPR Sepakati KEM-PPKF 2027: Defisit APBN 2,4 Persen, Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen

Purbaya dan DPR Sepakati KEM-PPKF 2027: Defisit APBN 2,4 Persen, Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 20:06 WIB

Prabowo dan Jusuf Kalla Bertemu Tertutup di Istana

Prabowo dan Jusuf Kalla Bertemu Tertutup di Istana

Foto | Kamis, 11 Juni 2026 | 18:27 WIB

Terkini

7 Cara Membedakan Tas Goyard Asli dan KW Super, Jangan Tertipu Motif

7 Cara Membedakan Tas Goyard Asli dan KW Super, Jangan Tertipu Motif

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Perlukah Indonesia Punya UU Anti-Perundungan? Ini Aturan yang Sudah Ada dan Tantangannya

Perlukah Indonesia Punya UU Anti-Perundungan? Ini Aturan yang Sudah Ada dan Tantangannya

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:05 WIB

5 Moisturizer Niacinamide untuk Usia 40 Tahun, Samarkan Flek Hitam dan Kerutan

5 Moisturizer Niacinamide untuk Usia 40 Tahun, Samarkan Flek Hitam dan Kerutan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang

Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Kotak Rokok Berisi Sabu, Kurir Sistem Tempel Tak Berkutik Dicegat Polisi di Kedaton

Kotak Rokok Berisi Sabu, Kurir Sistem Tempel Tak Berkutik Dicegat Polisi di Kedaton

Lampung | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:59 WIB

Teknologi AI Lokal Bidik Industri Kreatif, dari Pengembangan Ide hingga Produksi Video

Teknologi AI Lokal Bidik Industri Kreatif, dari Pengembangan Ide hingga Produksi Video

Tekno | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:58 WIB

Topeng Alim Pembunuh Ibu-Anak Asal Madiun: Ikut Yasinan Warga Sebelum Diciduk di Jombang

Topeng Alim Pembunuh Ibu-Anak Asal Madiun: Ikut Yasinan Warga Sebelum Diciduk di Jombang

Jatim | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:54 WIB

Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana

Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:48 WIB

Gerak Cepat! Pasukan Oranye Sapu Bersih 26 Ton Sampah di Bundaran HI Pasca Demo

Gerak Cepat! Pasukan Oranye Sapu Bersih 26 Ton Sampah di Bundaran HI Pasca Demo

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Hilangkan Nyawa Ibu Kandung, Oknum Polda Riau Terancam Dipecat

Hilangkan Nyawa Ibu Kandung, Oknum Polda Riau Terancam Dipecat

Riau | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:40 WIB

×