- Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai pada Selasa (16/6/2026) untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz.
- Harga minyak dunia turun tajam hingga 4,8 persen karena pelaku pasar merespons positif pemulihan pasokan energi global tersebut.
- Pasar saham global, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, melonjak signifikan dipicu oleh optimisme pemulihan ekonomi dan penurunan tekanan inflasi.
Analis ING menyatakan, pasar keuangan kembali optimistis terhadap potensi perdamaian di Timur Tengah dan kemungkinan normalisasi arus energi dari kawasan Teluk.
![Ilustrasi harga minyak bertahan di atas USD 100 meskipun AS tambah pasokan minyaknya [Suara.com/HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/07/60704-ilustrasi-harga-minyak.jpg)
Namun, mereka menilai belum ada jaminan bahwa harga energi akan turun secara signifikan dalam jangka panjang.
"Pasar keuangan kembali antusias terhadap potensi kesepakatan damai di Timur Tengah dan kemungkinan kembalinya aliran energi dari kawasan Teluk. Namun, apakah hal itu akan menghasilkan harga energi yang jauh lebih rendah masih menjadi pertanyaan besar," tulis analis ING dalam catatan risetnya.
ING juga memperingatkan bahwa tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi sebelumnya telah menyebar ke berbagai sektor ekonomi sehingga bank sentral di sejumlah negara akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga stabilitas harga.
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, mengungkapkan bahwa kenaikan harga energi mulai memberikan dampak terhadap sektor ekonomi lainnya.
Menurutnya, efek tidak langsung inflasi kini terlihat di berbagai negara dalam beberapa pekan terakhir.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu aspek paling penting dalam kesepakatan tersebut. Jalur pelayaran strategis itu selama ini menjadi rute utama distribusi minyak dunia sehingga setiap gangguan dapat memicu gejolak harga energi global.
Strategis Société Générale, Kit Juckes, mengatakan pasar masih menunjukkan kekhawatiran terhadap kecepatan pemulihan pasokan minyak ke level sebelum perang.
Meski harga minyak telah kembali mendekati posisi awal tahun, investor menilai proses normalisasi pasokan kemungkinan membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Kekhawatiran tersebut tercermin dari kontrak berjangka Brent untuk pengiriman hingga Februari 2027 yang masih bertahan di kisaran 80 dolar AS per barel, bahkan setelah pengumuman kesepakatan damai.
![Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/22819-ihsg.jpg)
Situasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menilai prospek harga minyak dunia, pasar energi global, dan stabilitas ekonomi setelah tercapainya kesepakatan damai AS-Iran.