- PT Hatten Bali Tbk mencatatkan laba bersih Rp40 miliar dan pendapatan Rp286 miliar selama tahun buku 2025.
- Manajemen menggelar RUPST di Denpasar untuk mengesahkan laporan keuangan serta pembagian dividen sebesar Rp3,5 per saham.
- Perseroan menargetkan pertumbuhan lima persen pada 2026 melalui ekspansi gerai di Jakarta serta peluncuran produk premium baru.
Suara.com - PT Hatten Bali Tbk (WINE), emiten produsen wine lokal yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Annual Public Expose di Denpasar.
Dalam agenda tersebut, manajemen memaparkan kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025, strategi ekspansi bisnis, serta prospek pertumbuhan Hatten Bali pada 2026.
Kinerja Hatten Bali, saham WINE, dan prospek industri wine Indonesia menjadi fokus utama dalam paparan kepada pemegang saham.
Perseroan mencatatkan kinerja yang solid sepanjang tahun buku 2025 meskipun menghadapi tantangan operasional yang semakin kompleks.
WINE membukukan pendapatan sebesar Rp286 miliar dengan laba bersih mencapai Rp40 miliar.
Pertumbuhan bisnis Hatten Bali didukung oleh pemulihan sektor pariwisata Indonesia, khususnya Bali yang masih menjadi pasar utama bagi produk wine lokal perseroan.
Direktur Utama PT Hatten Bali Tbk, Ida Bagus Rai Budarsa, mengatakan perseroan kini memasuki fase pertumbuhan baru setelah lebih dari tiga dekade membangun industri wine berbasis lokal di Indonesia.
“Melalui peluncuran merek-merek premium baru, pembukaan Cellardoor Jakarta, dan ekspansi jaringan distribusi yang terus berlanjut, kami membawa wine Indonesia lebih dekat kepada konsumen di seluruh penjuru negeri sekaligus memperkuat fondasi bisnis kami untuk jangka panjang,” jelas Ida Bagus Rai Budarsa dalam siaran pers yang diterima, Selasa (16/6/2026).
Ia menambahkan, kondisi neraca keuangan yang sehat, pengakuan terhadap merek perseroan di tingkat nasional maupun internasional, serta prospek pariwisata dan konsumsi minuman premium yang terus berkembang menjadi modal penting bagi pertumbuhan Hatten Bali.
Perseroan akan tetap berfokus pada pertumbuhan berkelanjutan, keunggulan operasional, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Prospek saham WINE, ekspansi Hatten Bali, dan pertumbuhan industri wine Indonesia diyakini masih menjanjikan seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan konsumsi premium di dalam negeri.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Indonesia menerima sekitar 15,38 juta wisatawan mancanegara sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, Bali menyumbang 6,94 juta kunjungan atau lebih dari 45 persen total kedatangan wisatawan asing ke Indonesia.
Pemerintah menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 16 juta hingga 17,6 juta orang pada 2026. Manajemen meyakini tren positif sektor pariwisata tersebut akan terus mendorong permintaan dari segmen hotel, restoran, dan kafe (HoReCa), yang menyumbang 54 persen dari total pendapatan perseroan pada tahun buku 2025.
Dari sisi fundamental, kondisi keuangan perseroan tetap kuat. Hingga akhir 2025, total ekuitas tercatat sebesar Rp338 miliar.
Rasio utang terhadap ekuitas membaik menjadi 34 persen, sementara rasio lancar berada di level sehat sebesar 255 persen. Kondisi tersebut memberikan ruang yang cukup bagi perseroan untuk menangkap peluang ekspansi bisnis pada tahun ini.
Untuk 2026, manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar lima persen. Target tersebut akan didukung oleh sejumlah inisiatif strategis, mulai dari perluasan jangkauan geografis, penguatan portofolio merek, hingga peningkatan hubungan dengan pelanggan.

Salah satu langkah ekspansi yang menjadi fokus utama adalah pembukaan Cellardoor pertama di Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir Juni 2026.
Kehadiran fasilitas tersebut akan menjadi kanal direct-to-consumer pertama WINE di luar Bali dan diharapkan mampu meningkatkan visibilitas merek di pasar konsumen Jakarta.
Selain itu, perseroan juga menyiapkan peluncuran sejumlah merek premium baru, antara lain Avara dan Ekko.
Menariknya, kedua produk tersebut telah meraih berbagai penghargaan internasional dalam ajang AWC Vienna 2025 sebelum resmi dipasarkan.
Perseroan optimistis peluncuran produk baru tersebut akan memperkuat posisi premium merek WINE sekaligus memperluas basis konsumennya.
Di sisi distribusi, WINE kini melayani lebih dari 1.500 restoran, lebih dari 900 hotel, ratusan gerai ritel, serta jaringan subdistributor yang terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Jaringan distribusi yang luas ini diyakini menjadi fondasi penting bagi ekspansi bisnis di luar Bali dan mendukung ambisi perseroan menjadi merek wine lokal terkemuka di Indonesia.
Dalam RUPST, para pemegang saham menyetujui seluruh agenda yang diajukan manajemen.
Agenda tersebut mencakup pengesahan laporan tahunan dan laporan keuangan tahun buku 2025, penggunaan laba bersih, penetapan remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi untuk tahun buku 2026, serta penunjukan akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2026.
Terkait penggunaan laba bersih tahun buku 2025, perseroan menetapkan dividen tunai sebesar Rp9,485 miliar atau setara Rp3,5 per saham.

Nilai tersebut mencerminkan 24 persen dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp39,52 miliar. Sementara itu, sebesar 76 persen atau Rp30,04 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan untuk mendukung pengembangan usaha perseroan ke depan.
Berdasarkan harga penutupan saham WINE di level Rp146 per saham, dividen yang dibagikan tersebut mencerminkan dividend yield sekitar 2,4 persen.