- IMF menyatakan ekonomi global saat ini masih mampu bertahan di tengah guncangan perang regional Timur Tengah yang berlangsung.
- Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi langkah positif untuk menjaga stabilitas pasar energi dunia global.
- Risiko perlambatan ekonomi tetap ada akibat ketidakpastian geopolitik serta lonjakan harga energi yang membebani negara berkembang di Asia.
Suara.com - Dana Moneter Internasional (IMF) menilai ekonomi global masih mampu bertahan dari guncangan akibat perang di Timur Tengah dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi dunia secara signifikan.
Meski demikian, IMF mengingatkan bahwa risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global tetap tinggi, terutama jika konflik kembali meningkat dan memicu gangguan pasokan energi dunia.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan perkembangan terbaru berupa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz menjadi kabar positif bagi stabilitas ekonomi global.
Namun, menurutnya, ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok masih menjadi ancaman terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global dan inflasi dunia.
"Ekskalasi konflik dan terganggunya distribusi energi dapat menjadi risiko nyata bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka pendek maupun menengah," katanya dilansir dari Reuters, Selasa (16/6/2026).
Dia pun juga memberikan beberapa proyeksi kepada negara berkembang di Asia. Sebab, akan ada tekanan yang lebih besar di negara berkembang. Salah satunya, arus modal asing yang keluar akan cukup deras.
"Harga bensin di kawasan tersebut telah meningkat sekitar 40 persen sejak perang dimulai. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, pelemahan mata uang, dan arus keluar modal turut memperburuk dampak ekonomi yang terjadi," katanya
Selain itu, IMF akan merilis pembaruan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 8 Juli mendatang. Dalam laporan April lalu, IMF menyusun tiga skenario pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global untuk 2026 dan 2027.
Pada skenario menengah yang dianggap kurang menguntungkan, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat menjadi 2,5 persen pada 2026 dengan tingkat inflasi mencapai 5,4 persen.
Kesepakatan kerangka kerja antara Amerika Serikat dan Iran menjadi terobosan terbesar dalam upaya mengakhiri konflik yang bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang regional yang menewaskan ribuan orang, mengguncang pasar energi, dan memicu kekhawatiran resesi global.
Menurut Georgieva, lebih dari tiga bulan sejak perang berlangsung, perekonomian dunia masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Harga komoditas, inflasi, ekspektasi inflasi, dan kondisi keuangan memang terdampak, tetapi belum menunjukkan sinyal perlambatan ekonomi global secara luas.
Amerika Serikat dan China masih mencatat momentum ekonomi yang kuat. Sementara itu, kenaikan harga energi menjadi tekanan bagi pertumbuhan ekonomi Eropa yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Di sisi lain, investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pusat data turut menopang pertumbuhan di Amerika Serikat serta negara-negara eksportir teknologi di Asia.
Sementara itu di Afrika, negara-negara yang sangat bergantung pada impor menghadapi tekanan fiskal yang semakin besar.
IMF mencatat kekurangan bahan bakar, lonjakan harga bensin, serta kenaikan biaya pupuk dan pangan telah memperburuk kebutuhan pembiayaan dan meningkatkan risiko ketahanan pangan.
![Ilustrasi Bahan Bakar Minyak [Freepik]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/02/27/63882-ilustrasi-bahan-bakar-minyak-freepik.jpg)
Beberapa negara seperti Ethiopia, Malawi, dan Zambia dilaporkan mengalami kelangkaan bahan bakar. Sementara itu, harga bensin di Lesotho, Rwanda, dan Tanzania telah melonjak sekitar 50 persen sejak konflik dimulai.
Kenaikan harga energi juga berdampak pada meningkatnya harga pupuk dan bahan pangan.
Meski sebelumnya memperkirakan sekitar 12 negara akan mengajukan bantuan keuangan hingga 50 miliar dolar AS kepada IMF.