- CEO Danantara Rosan Roeslani meminta bank Himbara menjaga penyaluran kredit masyarakat dan UMKM meski BI Rate naik.
- Pertumbuhan kredit perbankan tahun 2025 hingga 2026 tetap positif sebesar 15 persen dengan rasio NPL yang rendah.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen guna menjaga stabilitas ekonomi.
Suara.com - Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan penyaluran kredit perbankan kepada masyarakat dan pelaku usaha harus tetap terjaga meskipun Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan usai menghadiri pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan para pimpinan bank-bank Himbara di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (18/6/2026) malam.
Menurut Rosan, bank-bank Himbara perlu terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, sekaligus menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap rendah agar penyaluran kredit dapat berjalan optimal.
![CEO Danantara, Rosan Roeslani. [Suara.com/Rina Anggraeni].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/01/45838-rosan-roeslani-danantara.jpg)
"Walaupun ada kenaikan suku bunga, tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha, terutama UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama," kata Rosan saat menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan RI, Kamis malam.
Ia menjelaskan bahwa sepanjang periode 2025 hingga 2026, pertumbuhan kredit yang disalurkan perbankan kepada masyarakat, termasuk sektor UMKM, masih menunjukkan tren positif dengan kenaikan rata-rata sekitar 15 persen.
Selain itu, kondisi likuiditas perbankan juga dinilai tetap sehat. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh dua digit, sementara tingkat kredit bermasalah di bank-bank Himbara masih berada pada level rendah.
"Likuiditas juga, dana pihak ketiga terjaga juga naik double-digit, dan yang paling penting NPL-nya, non-performing loan bank kita, Mandiri itu hanya 0,9 persen. Jadi, average NPL atau non-performing loan bank Himbara itu antara 0,9 persen sampai 1,8 persen pada saat ini. Nah, justru hal-hal itu yang mesti diperbaiki, yang mesti ditingkatkan efisiensinya," ujar Rosan.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan pihaknya mendukung kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan.
Menurut Pandu, keputusan tersebut telah melalui berbagai pertimbangan dari otoritas moneter sehingga Danantara akan fokus menjalankan strategi bisnis yang sesuai dengan arah kebijakan pemerintah dan regulator.
"Kami dari sisi Danantara ikut saja apa yang sudah dilakukan policymaker baik dari sisi fiskal dan monetary, tentunya (Danantara) pasti support, mereka (BI) sudah memperhitungkan. Buat kami Danantara sebagai pelaku akan lakukan yang terbaik," ujar Pandu.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juni 2026 yang memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,75 persen, sedangkan suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah," kata Perry Warjiyo saat konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Kamis.
Bank Indonesia menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih berlangsung serta memastikan inflasi tetap terkendali sesuai target pemerintah.
(Antara)