Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.535.000
IHSG 6.101,333
LQ45 598,429
Srikehati 292,525
JII 363,372
USD/IDR 17.863

Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Selasa, 23 Juni 2026 | 14:46 WIB
Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri
Petugas memeriksa MinyaKita yang sudah dikemas di Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (12/3/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nz/am
baca 10 detik
  • Produsen sawit dinilai lebih memilih ekspor karena margin lebih besar.
  • Pasokan Minyakita terganggu, harga masih di atas HET di sejumlah daerah.
  • CORE dorong BUMN dan koperasi jadi penyeimbang pasar minyak goreng.

Suara.com - Harga minyak goreng rakyat Minyakita yang masih kerap dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) dinilai tidak lepas dari minimnya insentif bagi produsen sawit untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai pelaku usaha lebih tertarik menyalurkan produk mereka ke pasar ekspor yang menawarkan keuntungan lebih besar dibandingkan skema Domestic Market Obligation (DMO).

Menurut Eliza, tipisnya margin keuntungan dari program DMO minyak goreng membuat perusahaan sawit cenderung memprioritaskan pasar luar negeri. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada pasokan minyak goreng rakyat di dalam negeri, termasuk Minyakita yang masih sulit dijaga ketersediaan dan kestabilan harganya di berbagai daerah.

"Ini strategi perusahaan minyak sawit karena DMO minyak goreng ini marginnya tipis sekali dibandingkan ekspor. Karena prinsipnya swasta memaksimalkan profit. Ekspor lebih menguntungkan sehingga pemenuhan dalam negeri dinomorduakan," ujar Eliza kepada Suara.com, Senin (23/6/2026).

Ia menjelaskan, sebagai entitas bisnis, perusahaan swasta secara alami akan mengalokasikan produknya ke pasar yang memberikan tingkat keuntungan lebih tinggi. Akibatnya, kebutuhan minyak goreng domestik kerap kalah bersaing dengan permintaan ekspor yang dinilai lebih menguntungkan.

Eliza menegaskan persoalan Minyakita tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan atau menyesuaikan harga eceran tertinggi. Pemerintah perlu menyentuh akar masalah, yakni memperbaiki sistem pasokan dan menciptakan insentif yang lebih menarik bagi produsen agar mau menyalurkan lebih banyak minyak goreng ke pasar domestik.

Di sisi lain, ia menyoroti dominasi perusahaan swasta dalam industri pengolahan crude palm oil (CPO) nasional. Menurutnya, pemerintah saat ini belum memiliki kapasitas hilirisasi sawit yang cukup kuat untuk menjadi penyeimbang pasar.

Akibatnya, kebijakan pemerintah yang bertujuan menyediakan minyak goreng murah bagi masyarakat sering kali berbenturan dengan kepentingan bisnis perusahaan yang lebih memilih mengekspor produk demi meraih margin keuntungan lebih besar.

"Besarnya penguasaan swasta dalam pengolahan CPO dan pemerintah belum punya hilirisasi kelapa sawit yang memadai. Jadinya keinginan pemerintah menyediakan minyak murah bertabrakan dengan keinginan swasta yang memaksimalkan profit dengan mengekspor," katanya.

baca juga

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Eliza mendorong pemerintah memperkuat peran badan usaha milik negara (BUMN), khususnya di sektor minyak goreng. Kehadiran BUMN dinilai penting sebagai penyeimbang pasar guna menjaga ketersediaan pasokan dan menekan gejolak harga.

Ia mencontohkan dukungan terhadap target PTPN dalam meningkatkan produksi minyak goreng hingga 1,8 juta ton per tahun. Selain itu, sebagian alokasi CPO milik PTPN juga dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan Minyakita dan pasar domestik.

"Seperti mendukung target PTPN menaikkan produksi minyak goreng menjadi 1,8 juta ton per tahun. Selain itu, beri prioritas alokasi CPO PTPN untuk Minyakita atau kebutuhan domestik," ujarnya.

Tak hanya mengandalkan BUMN, Eliza juga mengusulkan pemberdayaan koperasi petani dan pelaku usaha kecil agar dapat terlibat langsung dalam pengolahan serta distribusi minyak goreng. Langkah ini diyakini dapat mengurangi dominasi perusahaan besar, meningkatkan nilai tambah bagi petani, sekaligus menciptakan harga minyak goreng yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Menurutnya, selama ini petani masih banyak menjual hasil sawit dalam bentuk bahan mentah. Padahal, jika diberikan akses pengolahan dan dukungan usaha, petani dapat memperoleh keuntungan lebih besar dari produk hilir yang bernilai tambah tinggi.

"Masyarakat kita harus diberdayakan, diberi kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya agar menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, tidak menjual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi minyak. Petani untung karena mendapat nilai tambah, masyarakat untung karena harga bisa menjadi lebih murah," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga MinyaKita Tak Jadi Naik, Terus Apa Solusi Pemerintah?

Harga MinyaKita Tak Jadi Naik, Terus Apa Solusi Pemerintah?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 18:10 WIB

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:36 WIB

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB

Terkini

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:37 WIB

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:35 WIB

Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan

Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:26 WIB

Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor

Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:18 WIB

Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS

Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:49 WIB

Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I

Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:32 WIB

Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!

Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:08 WIB

IHSG Ambrol Nyaris ke Level 5.900, TPIA Jadi Beban

IHSG Ambrol Nyaris ke Level 5.900, TPIA Jadi Beban

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:37 WIB

Status TMS PPPK Bisa Jadi MS: Ini Cara Sanggah dan Contoh Kalimat Resminya

Status TMS PPPK Bisa Jadi MS: Ini Cara Sanggah dan Contoh Kalimat Resminya

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:36 WIB

Lolos Administrasi PPPK Kemensos? Ini Panduan Lengkap Persiapan Tes CAT

Lolos Administrasi PPPK Kemensos? Ini Panduan Lengkap Persiapan Tes CAT

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:15 WIB