Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.570.000
Beli Rp2.450.000
IHSG 5.695,116
LQ45 556,746
Srikehati 275,044
JII 335,012
USD/IDR 0

Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 02 Juli 2026 | 14:44 WIB
Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?
Tingginya ICOR disebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Foto Suaracom/AI
baca 10 detik
  • ICOR Indonesia tertinggi di ASEAN, efisiensi investasi jadi sorotan.
  • FDI stagnan, investor asing disebut mulai mengalihkan modal ke negara tetangga.
  • Perbaikan produktivitas dan kepastian kebijakan dinilai jadi kunci menarik investasi.

Suara.com - Intervensi pemerintah di pasar keuangan mungkin mampu menenangkan nilai tukar rupiah dalam hitungan hari. Namun bagi investor global, persoalan utamanya bukan sekadar kurs atau gejolak pasar. Yang lebih mereka perhatikan adalah seberapa efisien sebuah negara mengubah investasi menjadi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu indikator yang kini banyak disorot adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. Tingginya ICOR disebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Lantas, apa sebenarnya ICOR dan mengapa angkanya begitu penting?

Apa Itu ICOR?

ICOR merupakan indikator yang mengukur berapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tambahan pertumbuhan ekonomi. Semakin rendah angka ICOR, semakin efisien suatu negara memanfaatkan modal investasi.

Sebaliknya, semakin tinggi ICOR berarti semakin banyak dana yang harus ditanamkan hanya untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama.

Berdasarkan data Asian Development Bank (ADB) yang dikutip Kamis (2/7/2026), rata-rata ICOR Indonesia sepanjang 2020-2024 berada di kisaran 6,2-7,1, jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam yang berada di kisaran 3,5-4,0.

Artinya, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sama, Indonesia membutuhkan modal hampir dua kali lebih besar dibandingkan Vietnam.

Mengapa Investor Memperhatikan ICOR?

baca juga

Bagi investor, efisiensi investasi menjadi pertimbangan utama.

Negara dengan ICOR tinggi menunjukkan bahwa produktivitas modal relatif rendah. Akibatnya, peluang memperoleh keuntungan juga dinilai lebih kecil dibandingkan negara yang mampu menghasilkan pertumbuhan dengan investasi lebih sedikit.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut membuat investor lebih selektif dalam menempatkan modalnya.

Daya Saing Investasi Indonesia Mulai Tertinggal

Data juga menunjukkan bahwa daya saing investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia mulai tertinggal dari sejumlah negara ASEAN.

Sepanjang 2024, rasio FDI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 1,6%, sementara Vietnam mencapai 4,9%, Malaysia 3,3%, dan Thailand 2,4%.

Tren sejak 2018 juga memperlihatkan rasio investasi asing Indonesia cenderung stagnan, sedangkan negara pesaing terus menunjukkan peningkatan.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa investor global mulai melihat peluang yang lebih menarik di negara lain.

 Tingginya ICOR disebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Foto Suaracom/AI
Tingginya ICOR disebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Foto Suaracom/AI

Apa Dampaknya di Pasar Keuangan?

Tingginya ICOR juga membuat sejumlah indikator ekonomi mengalami tekanan cukup hebat, salah satunya terhadap pasar keuangan Indonesia sepanjang 2026.

  • Arus keluar dana asing dari pasar saham mencapai sekitar US$ 3,9 miliar.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 30% secara year to date (YTD).
  • Kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah turun ke level terendah dalam beberapa dekade.

Meski faktor global juga memengaruhi pergerakan tersebut, data itu menunjukkan investor sedang mengalihkan dana ke negara yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dengan risiko yang lebih rendah.

Lembaga Pemeringkat Mulai Memberikan Sinyal Kehati-hatian

Selain arus modal, sejumlah lembaga internasional juga disebut mulai memberikan sinyal lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi Indonesia.

  • Outlook Indonesia dari Moody's direvisi menjadi negatif pada Februari 2026.
  • Fitch juga merevisi outlook menjadi negatif pada Maret 2026.
  • MSCI menunda keputusan terkait status pasar modal Indonesia pada Juni 2026.

Bagi investor global, perubahan outlook semacam ini sering menjadi sinyal untuk mengevaluasi kembali strategi investasinya.

Bukan Hanya Soal Sumber Daya Alam

Indonesia dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun faktor itu saja tidak lagi cukup untuk menarik investasi dalam jangka panjang.

Investor kini juga mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti:

  • Konsistensi kebijakan pemerintah.
  • Efisiensi penggunaan modal.
  • Kepastian regulasi.
  • Tata kelola pemerintahan yang baik.
  • Produktivitas tenaga kerja.
  • Kemampuan inovasi.

Tanpa perbaikan pada faktor-faktor tersebut, potensi ekonomi yang besar dinilai sulit dikonversi menjadi investasi yang berkelanjutan.

Mengapa ICOR Tinggi Menjadi Masalah?

ICOR yang tinggi pada akhirnya mencerminkan rendahnya produktivitas investasi.

Konsekuensinya antara lain:

  • Kebutuhan modal menjadi semakin besar untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi;
  • Tingkat keuntungan investasi menjadi lebih rendah;
  • Premi risiko meningkat;
  • Minat investor untuk menanamkan modal ikut berkurang.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menghambat penciptaan lapangan kerja, ekspansi industri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Membedah Logika Perbedaan Panas Eropa vs Indonesia Lewat Kacamata Geografi

Membedah Logika Perbedaan Panas Eropa vs Indonesia Lewat Kacamata Geografi

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:14 WIB

Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini

Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:08 WIB

Efisiensi atau Diskriminasi? Membaca Ulang Preferensi Rekrutmen Perusahaan

Efisiensi atau Diskriminasi? Membaca Ulang Preferensi Rekrutmen Perusahaan

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:00 WIB

Terkini

Pedagang Online Dukung Kewajiban NIB, Tapi Minta Pemerintah Ikut Atur Potongan Komisi E-commerce

Pedagang Online Dukung Kewajiban NIB, Tapi Minta Pemerintah Ikut Atur Potongan Komisi E-commerce

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:21 WIB

PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei

PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:13 WIB

Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini

Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:08 WIB

Dirut Pos Indonesia Daud Joseph Secara Tiba-tiba Mundur

Dirut Pos Indonesia Daud Joseph Secara Tiba-tiba Mundur

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:06 WIB

BBM B50 Resmi Mulai Didistribusikan ke SPBU, Peluncuran Tinggal Tunggu Prabowo

BBM B50 Resmi Mulai Didistribusikan ke SPBU, Peluncuran Tinggal Tunggu Prabowo

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:29 WIB

Purbaya Lantik Sekaligus 3 Dirjen Baru Kemenkeu, Langsung Kasih Tugas Khusus

Purbaya Lantik Sekaligus 3 Dirjen Baru Kemenkeu, Langsung Kasih Tugas Khusus

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 11:44 WIB

Anak Buah Menkeu Purbaya: APBN Tekor Rp600 Triliun, Pajak Dana JHT Terpaksa Tetap Dipungut

Anak Buah Menkeu Purbaya: APBN Tekor Rp600 Triliun, Pajak Dana JHT Terpaksa Tetap Dipungut

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 11:22 WIB

Harga LNG Murah Ternyata Hanya Berlaku di Jawa Barat, Said Iqbal Cari Bahlil

Harga LNG Murah Ternyata Hanya Berlaku di Jawa Barat, Said Iqbal Cari Bahlil

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 11:01 WIB

Berdayakan Pemuda, Harita Nickel Cetak Operator Bersertifikat dari Pulau Obi

Berdayakan Pemuda, Harita Nickel Cetak Operator Bersertifikat dari Pulau Obi

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 10:15 WIB

Harga Cabai Merah Tiba-Tiba Melonjak, Beras dan Bawang Ikut Naik Hari Ini

Harga Cabai Merah Tiba-Tiba Melonjak, Beras dan Bawang Ikut Naik Hari Ini

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 10:06 WIB

×