Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.485.000
IHSG 5.924,360
LQ45 589,254
Srikehati 291,550
JII 348,641
USD/IDR 18.064

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Achmad Fauzi

Senin, 13 Juli 2026 | 11:51 WIB
Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli
PT Gudang Garam. [Dok. Antara]
baca 10 detik
  • MNC Sekuritas menyarankan investor menahan saham GGRM dengan target harga Rp18.000 per saham pada Juli 2026.
  • Kenaikan laba bersih GGRM kuartal I 2026 didorong efisiensi biaya, bukan pemulihan permintaan produk rokok inti.
  • GGRM menghadapi risiko penurunan volume penjualan akibat fenomena pergeseran konsumen ke produk rokok yang lebih murah.

Suara.com - MNC Sekuritas merekomendasikan untuk investor untuk tidak buru-buru menaruh dananya di saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) atau Hold. Meski emiten rokok itu menorehkan laba yang tinggi pada kuartal I-2026.

MNC Sekuritas memandang perbaikan kinerja belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan fundamental bisnis rokok perseroan.

MNC Sekuritas menetapkan target harga (target price/TP) saham GGRM sebesar Rp18.000 per saham. Valuasi tersebut mencerminkan proyeksi price to earnings ratio (PER) FY26E/FY27F sebesar 9,9 kali dan 7,8 kali, serta price to book value (PBV) sebesar 0,5 kali.

Research Analyst MNC Sekuritas Catherine Florencia M menilai kenaikan laba Gudang Garam pada kuartal I 2026 lebih banyak ditopang oleh efisiensi biaya dibandingkan pemulihan permintaan rokok.

"Kami menilai lonjakan laba bersih terutama mencerminkan hasil rasionalisasi biaya, khususnya efisiensi tenaga kerja, dan belum menjadi bukti adanya pemulihan yang berarti pada permintaan inti produk rokok," ujar Catherine Florencia M dalam risetnya yang dikutip, Senin (13/7/2026).

PT Gudang Garam (Pinterest/Rancak Media)
PT Gudang Garam (Pinterest/Rancak Media)

Secara kinerja, Gudang Garam membukukan pendapatan sebesar Rp20,1 triliun pada kuartal I 2026 atau turun 12,8 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Meski demikian, laba bersih melonjak menjadi Rp1,5 triliun, naik 1.330,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut turut mendorong margin laba bersih (NPM) menjadi 7,6 persen dari hanya 0,5 persen pada kuartal I 2025.

Menurut Catherine, lonjakan laba tersebut didorong oleh efisiensi biaya bahan baku, tenaga kerja, biaya produksi, serta penurunan beban operasional.

Beban operasional turun 35 persen secara tahunan menjadi Rp1,2 triliun, sementara jumlah karyawan berkurang menjadi 21.454 orang pada Maret 2026 dari 28.033 orang pada Maret 2025.

baca juga

Di sisi lain, MNC Sekuritas menilai kebijakan pemerintah yang membekukan tarif cukai hasil tembakau pada 2026 memang memberikan ruang bagi GGRM untuk menjaga profitabilitas. Namun, kebijakan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan volume penjualan.

"Kami tidak memperkirakan pembekuan tarif cukai saja akan mampu memulihkan volume penjualan secara signifikan," jelas Chaterine.

Ia menjelaskan, GGRM masih menghadapi tekanan akibat fenomena downtrading, yakni pergeseran konsumen ke produk rokok dengan harga lebih murah. Perseroan dinilai lebih rentan dibandingkan pesaing yang telah memiliki portofolio produk dengan harga lebih terjangkau maupun produk bebas asap.

Selain itu, diversifikasi bisnis non-tembakau Gudang Garam juga belum memberikan kontribusi berarti terhadap kinerja perusahaan. Bisnis infrastruktur, termasuk Bandara Dhoho Kediri dan proyek Jalan Tol Kediri–Tulungagung, masih membukukan kerugian sehingga diperkirakan baru memberikan kontribusi dalam jangka panjang.

Atas berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi Hold terhadap saham GGRM.

Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 10.42 WIB saham GGRM diperdagangkan naik 300 poin atau 1,83 persen ke level Rp16.675 per saham.

"Kami mempertahankan rekomendasi HOLD untuk saham GGRM dengan target harga Rp18.000 per saham. Risiko penurunan berasal dari tekanan volume penjualan akibat fenomena downtrading, lemahnya daya beli masyarakat, serta pengetatan regulasi. Kami juga meyakini kontribusi dari diversifikasi bisnis non-tembakau masih akan terbatas dalam jangka pendek, sehingga prospek investasi perusahaan masih sangat bergantung pada stabilisasi bisnis inti rokok," pungkas Chaterine.

Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor

IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:19 WIB

IHSG Diramal Bergerak Terbatas, Saham Apa yang Paling Cuan?

IHSG Diramal Bergerak Terbatas, Saham Apa yang Paling Cuan?

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 07:20 WIB

Proyeksi IHSG Hari Ini Usai Asing Ramai-ramai Jual Saham Big Caps

Proyeksi IHSG Hari Ini Usai Asing Ramai-ramai Jual Saham Big Caps

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 07:02 WIB

Terkini

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:25 WIB

Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif

Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:10 WIB

Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran

Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:40 WIB

Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun

Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:35 WIB

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:04 WIB

Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116

Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:38 WIB

IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor

IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:19 WIB

Jakarta Fair 2026 Ditutup, Transaksi Tembus Rp8,2 Triliun dan Dikunjungi 6,1 Juta Orang

Jakarta Fair 2026 Ditutup, Transaksi Tembus Rp8,2 Triliun dan Dikunjungi 6,1 Juta Orang

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:11 WIB

Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi, Bisa Bawa Hingga 64 Kg

Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi, Bisa Bawa Hingga 64 Kg

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:02 WIB

Patra Jasa Perkuat Strategi ESG Lewat Dekarbonisasi

Patra Jasa Perkuat Strategi ESG Lewat Dekarbonisasi

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 08:57 WIB

×