- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak investor China mendanai proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt di Indonesia.
- Pertemuan di Shanghai pada 17 Juli tersebut bertujuan memperkuat rantai pasok industri panel surya serta transfer teknologi nasional.
- Kedua negara berkomitmen mengimplementasikan kerja sama ekonomi melalui proyek strategis, investasi berkualitas, serta penguatan integrasi di kawasan regional.
Suara.com - Pemerintah mengajak perusahaan-perusahaan asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk berinvestasi dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang saat ini tengah dikembangkan.
Ajakan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan RRT, Wang Wentao di Shanghai, RRT, Jumat (17/7).
Airlangga mengapresiasi keterlibatan investasi RRT yang sebelumnya telah mendanai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata.
Proyek tersebut dinilai menjadi bukti konkret potensi kerja sama kedua negara dalam menekan emisi karbon.
Untuk rencana ekspansi ke depan, Indonesia mendorong penguatan rantai pasok industri panel surya domestik agar lebih terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Indonesia dan RRT memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi. Kerja sama ke depan perlu diarahkan pada peningkatan nilai perdagangan yang lebih seimbang, investasi yang berkualitas, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan kapasitas industri nasional,” ujar Airlangga lewat keterangannya yang dikutip pada Sabtu (18/7/2026).
![Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/22/42048-menko-perekonomian-airlangga-hartarto.jpg)
Di sektor investasi secara umum, RRT menempati posisi tiga besar sumber penanaman modal asing di Indonesia.
Pada 2025, realisasi investasi RRT tercatat hampir mencapai 8,1 miliar dolar AS atau menyumbang sekitar 13 persen dari total investasi asing yang masuk ke tanah air.
Investasi tersebut didominasi oleh sektor industri pengolahan, energi, properti, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan.
Guna mengawal masuknya investasi berkualitas di sektor energi dan industri strategis, lembaga pengelola investasi Danantara diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis bagi para investor RRT.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat transfer teknologi dan memperkuat rantai pasok dalam negeri.
Selain sektor energi surya, kedua menteri juga membahas optimalisasi kerja sama kawasan industri dalam kerangka Two Countries Twin Parks (TCTP) yang saat ini telah mengantongi 30 Nota Kesepahaman (MoU) dengan estimasi nilai investasi Rp37,1 triliun.
Airlangga mendorong agar komitmen tersebut segera diimplementasikan dalam bentuk proyek nyata maupun pembentukan usaha patungan (joint venture).
Di tingkat regional, pertemuan ini turut membahas penguatan integrasi ekonomi lewat RCEP 3.0 dan dukungan RRT atas rencana penempatan Sekretariat RCEP di Indonesia.
Kedua belah pihak juga sepakat untuk mengidentifikasi proyek-proyek prioritas baru menjelang momentum Keketuaan APEC RRT pada tahun 2026.