- Sejak awal Maret, gangguan pasokan parah di Timur Tengah akibat konflik Iran membuat harga minyak global tetap tertahan di bawah $90 per barel.
- Arab Saudi dan UEA berhasil mengalihkan rute ekspor minyak mereka, sementara pasar berjangka sempat meyakini kapasitas adaptasi tersebut mampu mencegah krisis.
- Saat ini cadangan minyak strategis Amerika Serikat menyusut drastis dan kelangkaan bahan bakar global mulai terjadi akibat permintaan melampaui pasokan.
Suara.com - Sejak awal Maret tahun ini, pergerakan harga minyak mentah global telah menjadi topik perbincangan hangat di kalangan analis ekonomi.
Banyak pihak merasa kebingungan melihat harga di pasar berjangka (futures) yang tidak melonjak tajam, padahal terjadi gangguan pasokan yang sangat parah di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini tampaknya didorong oleh besarnya optimisme dan keyakinan terhadap kemampuan pasar untuk beradaptasi. Namun, muncul sebuah tantangan krusial: adaptasi pasar sejatinya memiliki batas.
Banyak pengamat membandingkan situasi harga dan pasokan minyak saat ini dengan peristiwa pada tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina timur memicu lonjakan harga minyak secara nyata, di mana minyak mentah jenis Brent nyaris menyentuh level $140 per barel.
Kala itu, ketakutan terbesar pasar adalah sanksi negara-negara Barat akan melumpuhkan aliran minyak dari salah satu eksportir terbesar dunia tersebut. Kenyataannya, minyak Rusia, bensin, dan diesel tetap menemukan jalannya untuk mengalir ke luar negeri.
Ketahanan pada 2022 inilah yang menjadi landasan optimisme terhadap krisis minyak Timur Tengah saat ini. Padahal, gangguan yang terjadi di Timur Tengah jauh lebih parah dan nyata.
Selat Hormuz sempat ditutup oleh Iran, infrastruktur minyak menjadi target serangan drone dan rudal, hingga sejumlah negara Teluk terpaksa menutup sumur minyak mereka akibat kurangnya kapasitas penyimpanan. Namun, pasar menganggap mereka tetap berhasil beradaptasi.
Keyakinan bahwa pasar mampu memitigasi krisis semakin kuat ketika sejumlah negara produsen utama melakukan manuver untuk menyelamatkan rantai pasok:
- Arab Saudi: Berhasil mengalihkan aliran minyak dari Timur ke Barat dengan memanfaatkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengekspor minyak mentah.
- Uni Emirat Arab (UEA): Turut melakukan pengalihan rute aliran minyak serupa.
- Irak: Sedang mempertimbangkan langkah pengalihan rute jika kapasitas infrastruktur mereka telah terbangun.
Adaptasi inilah yang berhasil menahan lonjakan harga di pasar berjangka, ditambah dengan harapan umum akan adanya kesepakatan damai.
Kolumnis Reuters, Clyde Russell, menyimpulkan sentimen ini dengan menuliskan bahwa pasar seolah bertaruh para trader minyak mentah dan produk olahan akan mampu memitigasi skenario terburuk dari krisis Iran.
Sayangnya, margin keuntungan kilang (crack spreads) kini berada di level tertinggi sepanjang masa, mencerminkan kondisi pasar yang semakin ketat.
Beberapa analis bahkan telah memperingatkan sejak musim semi lalu bahwa jika perang meluas melebihi bulan Juni, krisis nyata akan terjadi berupa menipisnya persediaan minyak mentah global dan munculnya kelangkaan bahan bakar.
Prediksi tersebut perlahan menjadi kenyataan, meskipun mungkin lebih lambat dari bayangan banyak orang. Irina Slav dalam analisanya di OilPrice menjelaskan hal ini:
- Cadangan Global Menyusut: Persediaan minyak global mulai terkuras secara signifikan. Cadangan Minyak Strategis (SPR) milik Amerika Serikat kini mendekati level kritis.
- Kelangkaan Bahan Bakar: Pasokan bensin, diesel, dan bahan bakar penerbangan (avtur) semakin ketat lantaran permintaan mulai melampaui pasokan.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa gangguan pada ekspor energi Timur Tengah sebenarnya cukup parah dan membutuhkan perhatian lebih dari sekadar mengamati pergerakan pasar berjangka.
Saat ini, harga Brent dan WTI memang masih tertahan di bawah $90 per barel, tetapi hal itu terjadi semata-mata karena AS dan Iran sedang dalam fase jeda serangan di Selat Hormuz, bukan karena adanya upaya perdamaian yang solid.