- SSIA balik untung Rp262,6 miliar, ditopang lonjakan bisnis properti.
- Pendapatan naik 58,4% jadi Rp3,35 triliun, EBITDA melonjak 553%.
- Hotel pulih, tetapi penjualan lahan industri melambat akibat geopolitik.
Suara.com - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat lonjakan kinerja keuangan sepanjang semester I 2026. Emiten properti, kawasan industri, konstruksi, dan perhotelan ini berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih sebesar Rp262,6 miliar, ditopang kuat oleh melonjaknya penjualan kawasan industri serta membaiknya bisnis perhotelan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dilihat Rabu (5/8/2026), pendapatan konsolidasian SSIA mencapai Rp3,35 triliun pada semester I 2026 atau melonjak 58,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,12 triliun.
Motor utama pertumbuhan berasal dari segmen properti yang membukukan pendapatan Rp1,27 triliun atau melesat 274,1% secara tahunan (year-on-year/YoY). Lonjakan tersebut didorong pengakuan penjualan (accounting sales recognition) lahan industri di proyek Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang.
Segmen konstruksi tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai Rp1,70 triliun atau sekitar 49% dari total pendapatan, sementara bisnis perhotelan juga menunjukkan pemulihan signifikan dengan pendapatan melonjak 113,3% menjadi Rp471,1 miliar.
Tidak hanya pendapatan, profitabilitas perseroan juga meningkat tajam. Laba bruto SSIA melonjak 145,9% menjadi Rp1,09 triliun dari Rp441,8 miliar pada semester I 2025.
Segmen properti menjadi penyumbang laba bruto terbesar dengan nilai Rp612,3 miliar atau naik 315,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara laba bruto perhotelan meningkat 152,9% menjadi Rp279,4 miliar dan konstruksi tumbuh 11,4% menjadi Rp204,8 miliar.
Peningkatan kinerja tersebut ikut mengerek EBITDA perseroan hingga 553,2% menjadi Rp692,5 miliar. Margin EBITDA juga melonjak menjadi 20,7% dari hanya 5% pada periode yang sama tahun lalu.
Segmen properti mencatat margin EBITDA tertinggi sebesar 42,9%, sedangkan bisnis hotel berhasil kembali mencatat EBITDA positif dengan margin 9,7% setelah masih negatif pada semester I 2025.
Perbaikan bisnis hotel terutama berasal dari peningkatan jumlah kamar terjual serta kenaikan tarif kamar (Average Room Rate/ARR) di Paradisus by Meliá Bali setelah menerapkan konsep all-inclusive.
Alhasil, SSIA berhasil membalikkan posisi rugi bersih Rp32,3 miliar pada semester I 2025 menjadi laba bersih Rp262,6 miliar pada semester I 2026. Laba bersih segmen properti melonjak menjadi Rp459,3 miliar dari hanya Rp44,9 miliar setahun sebelumnya. Segmen konstruksi juga mencatat pertumbuhan laba bersih 21,1% menjadi Rp93,2 miliar.
Meski demikian, bisnis perhotelan masih membukukan rugi bersih Rp83,8 miliar. Namun kerugian tersebut berhasil ditekan sekitar 20,3% dibandingkan rugi Rp105,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, posisi kas SSIA tercatat Rp1,09 triliun pada akhir Juni 2026, sedikit turun 4,2% dibandingkan kuartal I 2026 akibat pembayaran bunga renovasi Paradisus by Meliá Bali dan biaya pengembangan lahan.
Di saat yang sama, utang berbunga berhasil ditekan menjadi Rp2,27 triliun atau turun 3,5% dibandingkan kuartal sebelumnya. Rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) juga tetap terjaga di level 26,8%.
Meski kinerja keuangan melonjak, penjualan pemasaran (marketing sales) kawasan industri justru melambat. PT Suryacipta Swadaya hanya membukukan marketing sales sebesar Rp195,9 miliar dari penjualan lahan 9,4 hektare pada semester I 2026.
Perseroan menjelaskan perlambatan tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat sejumlah investor global menunda keputusan investasi langsung (foreign direct investment/FDI).
Di sisi lain, unit usaha konstruksi PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) tetap menjaga stabilitas bisnis dengan pendapatan Rp1,70 triliun dan laba bersih naik 21,5%. NRCA juga mengantongi kontrak baru senilai Rp1,37 triliun dari berbagai proyek strategis seperti pabrik industri, rumah sakit, hotel, pusat perbelanjaan hingga proyek resor.
Pada bisnis perhotelan, Paradisus by Meliá Bali menjadi salah satu pendorong utama pemulihan melalui peningkatan tarif kamar menjadi Rp3,34 juta. Sementara BATIQA Hotels mencatat tingkat okupansi mencapai 71% dengan kenaikan tarif kamar menjadi Rp456 ribu.
Di lini digital, platform penyewaan properti Travelio juga terus tumbuh dengan kenaikan Gross Merchandise Value (GMV) sekitar 10% secara tahunan. Hingga semester I 2026, Travelio mengelola lebih dari 16.200 unit apartemen secara eksklusif dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 16.800 unit hingga akhir tahun.