- Indonesia dinilai sulit mengejar AS-China dalam algoritma AI.
- Investasi AI diminta fokus pada kekuatan yang realistis.
- Data penduduk besar jadi modal, tapi perlindungannya masih lemah.
Suara.com - Indonesia dinilai tidak perlu bermimpi mengalahkan Amerika Serikat (AS) dan China dalam perlombaan pengembangan algoritma artificial intelligence (AI).
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Stella Christie mengatakan ekosistem AI setidaknya memiliki tiga komponen utama, yaitu algoritma, data, dan computing power.
Menurutnya, Indonesia perlu menentukan bagian mana yang memang mampu dikuasai agar investasi AI nasional tidak salah sasaran.
"Algoritma itu artinya penghitungan-penghitungan yang dilakukan oleh data-data yang tersedia dan penghitungannya dilakukan di computing power," kata Stella dalam acara IABC Indonesia Conference 2026 di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Saat ditanya mengenai peluang Indonesia memiliki algoritma AI yang mampu bersaing secara global, Stella memberikan jawaban tegas.
"Apakah Indonesia punya peluang untuk bisa mempunyai algoritma yang luar biasa bagus dan bersaing? Jawaban saya, ini analisa saya, boleh setuju boleh tidak," ujarnya.
Stella menilai pengembangan algoritma AI terdepan saat ini akan dikuasai AS dan China. Bahkan, menurut dia, negara-negara Eropa juga menghadapi persoalan serupa.
Karena itu, Indonesia dinilai tidak perlu menggelontorkan investasi besar-besaran hanya untuk mengejar ketertinggalan algoritma dari dua negara tersebut.
"Mengetahui bahwa mana yang kita bisa bersaing, mana yang kita tidak bisa bersaing, itu penting agar kita bisa berstrategi dengan tepat," katanya.
Stella menegaskan hal tersebut bukan berarti Indonesia harus berhenti mengembangkan algoritma AI. Pengembangan tetap dapat dilakukan, tetapi investasi harus disesuaikan dengan posisi Indonesia dalam persaingan global.
"Bukan berarti kita tidak melakukannya. Kita boleh tetap melakukannya, tapi jangan berpikir investasi besar-besaran kepada algoritma, kita tidak akan bisa bersaing mengalahkan, karena eksponensinya sudah, kita sudah kalah," ujarnya.
Jika algoritma bukan medan yang paling realistis untuk dikejar, Stella melihat peluang besar pada komponen AI lainnya, yakni data.
Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Besarnya populasi, ditambah tingginya aktivitas digital masyarakat, membuat Indonesia menghasilkan data dalam jumlah sangat besar.
"Kalau data, bagaimana kesempatan kita? Nah, kita negara nomor 4 terbesar di dunia. Artinya kita punya data yang luar biasa. Kita pengguna TikTok nomor satu di dunia," ungkap Stella.
Namun, besarnya produksi data tersebut belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi maupun teknologi bagi Indonesia.
Stella justru menyoroti persoalan perlindungan data. Menurutnya, masyarakat dan pemerintah perlu mulai melihat data yang dihasilkan di Indonesia sebagai aset strategis, bukan sekadar informasi yang bebas diberikan kepada berbagai platform digital.
"Artinya kita belum memikirkan bahwa data yang kita di Indonesia punyai itu harusnya menjadi aset yang luar biasa yang harus diproteksi," tegasnya.