- Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal, sekitar 10% di bawah rata-rata ASEAN, sehingga peningkatan kompetensi dan adaptasi teknologi menjadi mendesak. [1]
- AI dan digitalisasi diarahkan untuk memperkuat manusia, bukan menggantikannya, melalui upskilling, reskilling, serta pengembangan kemampuan employability dan kewirausahaan. [2]
- Transformasi SDM harus menghasilkan aksi nyata, dengan kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, media, dan komunitas untuk menciptakan produktivitas yang terukur dan berkelanjutan.
Suara.com - Tantangan peningkatan produktivitas tenaga kerja Indonesia semakin mendesak di tengah percepatan kecerdasan artifisial (AI) dan transformasi digital.
Indonesia Human Capital and Beyond Summit (IHCBS) 2026 mendorong perubahan paradigma pengelolaan sumber daya manusia (SDM), dari sekadar human resources menjadi human capital sebagai penggerak produktivitas nasional.
Chairman of Steering Committee GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan produktivitas tenaga kerja Indonesia masih menghadapi kesenjangan dibandingkan negara-negara ASEAN. Ia menyebut produktivitas tenaga kerja Indonesia sekitar 10 persen di bawah rata-rata ASEAN.
"Kalau dibandingkan Malaysia, satu jam pekerja kita di Indonesia menghasilkan 13–15 dolar AS. Malaysia sudah 26–27 dolar AS,” ujar Yunus dalam Media Day IHCBS 2026 di Wayang Bistro, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Yunus, kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak cukup dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan konvensional.
Penguatan kompetensi harus diikuti kemampuan menciptakan nilai tambah, beradaptasi dengan teknologi, serta meningkatkan produktivitas.
Ia bahkan menyoroti kesenjangan produktivitas Indonesia dengan Jepang yang disebutnya masih sangat jauh. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi alasan IHCBS tidak ingin berhenti sebagai forum diskusi tahunan.
"BEYOND berarti kita melihat human capital tidak hanya sebagai human resources, tetapi sebagai potensi bangsa untuk meningkatkan produktivitas," katanya.
IHCBS 2026 dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September 2026. Penyelenggara menargetkan sekitar 6.000 peserta, hampir dua kali lipat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Yunus menegaskan IHCBS dirancang sebagai movement atau gerakan yang menghasilkan aksi nyata setelah forum berakhir.
Agenda tersebut akan dikaitkan dengan blueprint pembangunan SDM yang berfokus pada dua hal, yakni employability dan entrepreneurial capability.
"Setiap tahun kita akan memperbarui apa yang sudah dikerjakan dan apa target utama yang harus kita jalankan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sekaligus merespons kritik bahwa banyak forum dan konferensi berhenti pada diskusi tanpa menghasilkan perubahan nyata.
Karena itu, IHCBS berupaya mengukur keberhasilan bukan hanya melalui jumlah peserta, tetapi juga keluaran dan dampaknya.
Selama dua tahun penyelenggaraan sebelumnya, IHCBS diklaim telah menjangkau sekitar 300.000 SDM di Indonesia melalui berbagai program pengembangan kompetensi, termasuk pelatihan AI gratis bagi lebih dari 20.000 orang.