- Utang AS tembus Rp708 kuadriliun, naik dua kali lipat dalam 10 tahun.
- Utang AS setara Rp2,07 miliar untuk setiap warga Amerika.
- Beban utang AS sudah 123% dari PDB, melampaui ekonomi lima negara besar.
Suara.com - Utang nasional Amerika Serikat (AS) menembus rekor baru sebesar US$40 triliun atau sekitar Rp708,2 kuadriliun di era Presiden Donald Trump. Angka tersebut bukan sekadar rekor nominal, tetapi menjadi alarm baru bagi kesehatan fiskal negara dengan perekonomian terbesar di dunia.
Beban utang AS kini bertambah sekitar Rp123,93 triliun setiap hari, seiring defisit anggaran yang terus berlangsung dan meningkatnya biaya pembayaran bunga. Laju penambahan utang tersebut membuat persoalan fiskal AS semakin sulit diabaikan.
Mengutip CNN Internasional, Rabu (26/8/2026), besarnya angka tersebut bahkan sulit dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika pemerintah AS membayar utang sebesar Rp1 miliar setiap hari tanpa menambah utang baru, diperlukan sekitar 1,94 juta tahun untuk melunasinya.
Jika pembayaran hanya Rp1 juta per hari, waktunya membengkak menjadi sekitar 1,94 miliar tahun.
Dengan jumlah penduduk AS sekitar 343 juta jiwa, total utang tersebut setara dengan sekitar Rp2,07 miliar untuk setiap warga Amerika.
Yang lebih mengkhawatirkan, utang AS telah berlipat ganda dalam satu dekade. Pada Agustus 2016, total utang nasional masih berada sedikit di bawah Rp354 kuadriliun. Kini jumlah tersebut telah menembus Rp708 kuadriliun.
Presiden Committee for a Responsible Federal Budget Maya MacGuineas menilai pola pinjaman dalam skala tersebut tidak berkelanjutan.
“Peminjaman dalam skala sebesar ini yang tidak berkelanjutan memiliki dampak besar terhadap perekonomian,” ujar MacGuineas kepada CNN.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat menghambat upaya mengatasi persoalan keterjangkauan biaya dan meningkatkan risiko munculnya spiral utang apabila pembuat kebijakan tidak segera mengambil tindakan.
Besarnya utang AS juga terlihat jika dibandingkan dengan kekayaan para miliarder dunia.
Kekayaan bersih 10 orang terkaya di dunia mencapai sekitar Rp47,8 kuadriliun. Namun, angka tersebut hanya sekitar seperlimabelas dari total utang pemerintah AS.
Bahkan jika kekayaan 500 orang terkaya dunia digabungkan, nilainya sekitar Rp230,16 kuadriliun. Jumlah tersebut masih jauh di bawah utang AS yang mencapai Rp708 kuadriliun.
Artinya, seluruh kekayaan 500 miliarder terkaya dunia sekalipun belum cukup untuk menutup sepertiga utang pemerintah AS.
World Gold Council memperkirakan sekitar 220.700 ton emas telah ditambang sepanjang sejarah. Dengan harga emas sekitar Rp81,4 juta per troy ounce, nilai seluruh emas yang pernah ditambang diperkirakan mencapai Rp584,26 kuadriliun.
Nilai tersebut masih lebih rendah sekitar Rp123,9 kuadriliun dibandingkan utang nasional AS.
Dengan kata lain, apabila seluruh emas yang pernah ditambang manusia dijual sekaligus, nilainya masih belum cukup untuk membayar seluruh utang pemerintah AS.
Dari sisi pasar saham, perusahaan dengan kapitalisasi terbesar dunia, Nvidia, memiliki nilai sekitar Rp92,06 kuadriliun.
Untuk menyamai utang nasional AS, dibutuhkan lebih dari tujuh perusahaan seukuran Nvidia.
Sementara itu, 11 perusahaan dengan nilai terbesar dalam indeks S&P 500 memiliki kapitalisasi gabungan sekitar Rp495,74 kuadriliun. Nilai tersebut pun masih sekitar Rp212,46 kuadriliun di bawah total utang pemerintah AS.
Bahkan proyek sebesar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) terlihat kecil jika dibandingkan dengan beban utang tersebut. Dengan estimasi biaya pembangunan ISS sekitar Rp2,071 triliun, dibutuhkan sekitar 340 ISS untuk menyamai utang nasional AS.
Masalah terbesar bukan hanya nominal utangnya, tetapi perbandingannya dengan kemampuan ekonomi AS.
Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal II 2026 tercatat lebih dari Rp566,5 kuadriliun. Artinya, utang pemerintah AS yang mencapai Rp708,2 kuadriliun telah melampaui nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi perekonomian AS dalam setahun.
Rasio utang terhadap PDB AS kini berada di sekitar 123%, mendekati level tertinggi dalam sejarah. Rasio tersebut pertama kali menembus 100% pada 2012.
Kondisi ini menempatkan AS dalam kelompok negara dengan rasio utang terhadap PDB tertinggi di dunia. Berdasarkan data IMF, sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, Sudan, Bahrain, Italia, Yunani, Senegal, dan Maladewa memiliki rasio lebih tinggi.
Skala utang AS juga semakin terlihat ketika dibandingkan dengan ekonomi negara-negara besar lainnya.
Gabungan PDB China, Jerman, Jepang, Inggris, dan India diperkirakan mencapai sekitar Rp655,08 kuadriliun. Nilai tersebut masih lebih kecil daripada utang nasional AS.
Dengan demikian, secara nominal, utang pemerintah AS bahkan lebih besar daripada gabungan nilai ekonomi lima negara besar tersebut.
Beban utang rumah tangga Amerika juga sangat besar. Data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan total utang rumah tangga AS mencapai hampir Rp336,39 kuadriliun pada kuartal II 2026.
Namun, angka tersebut masih hanya sekitar separuh dari utang pemerintah federal.
Utang kartu kredit bahkan jauh lebih kecil. Total saldo kartu kredit masyarakat AS mencapai sekitar Rp22,31 kuadriliun. Dengan demikian, utang nasional AS hampir 32 kali lipat dari seluruh utang kartu kredit masyarakat Amerika.
Perbandingan terakhir datang dari sektor dana pensiun.
Investment Company Institute mencatat total aset pensiun AS mencapai sekitar Rp842,75 kuadriliun pada kuartal I 2026.
Utang nasional sebesar Rp708,2 kuadriliun berarti setara dengan hampir 85% dari seluruh aset pensiun Amerika.
Esther Nadya