- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan program Makan Bergizi Gratis disukai masyarakat karena tingginya permintaan sekolah pekan lalu.
- Pemerintah berencana melakukan efisiensi dengan kembali memangkas anggaran Badan Gizi Nasional untuk tahun 2026 dan 2027 mendatang.
- Alokasi anggaran serta target penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis mengalami penurunan signifikan pada tahun 2027.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kalau ternyata sebagian besar masyarakat yang justru menyukai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu terlihat dari banyaknya sekolah yang meminta program tersebut.
Hal ini terungkap usai Menkeu Purbaya bertemu dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono pekan lalu. Dalam pertemuan itu, mereka membahas soal kinerja program MBG.
Mulanya Purbaya sempat menanyakan ke Sudaryono apakah ada sekolah yang justru meminta kebagian program MBG. Ternyata hasilnya cukup banyak.
"Saya tanya-tanya aja, ada enggak sekolah yang minta? Rupanya banyak yang minta, dan itu cukup masif yang minta," katanya, dikutip Senin (31/8/2026).
Purbaya menilai kalau program MBG mendapatkan respons amat baik dari masyarakat. Hal itu terbukti dari banyaknya sekolah yang meminta program tersebut.
"Artinya program MBG ini sebagian masyarakat menilai amat baik. Terlihat dari sekolah-sekolahnya yang masih banyak minta itu. Saya bilang kalau itu anda umumkanlah ke publik berapa sekolah yang minta itu, sehingga orang tahu bahwa memang sebagian masyarakat menyukai program ini," jelas Purbaya.
![Pemerintah menyiapkan anggaran sementara sebesar Rp240 triliun dalam RAPBN 2027 untuk program Makan Bergizi Gratis atau MBG. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/14/20327-mbg.jpg)
Di saat yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menginginkan agar Badan Gizi Nasional (BGN) kembali melakukan efisiensi anggaran tahun ini, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Enggak ada masukannya, diskusi saja. Dia ceritain kemajuannya apa, langkah-langkahnya untuk memperbaiki efisiensi BGN seperti apa. Saya sih senang lihat laporannya dia, diskusi dengan dia tadi," katanya.
Purbaya lalu membuka peluang kalau anggaran BGN bakal dipangkas lagi di 2026 ini, meskipun lembaga itu sudah mengurangi anggaran MBG menjadi Rp 229 triliun dari yang sebelumnya Rp 268 triliun.
Bahkan anggaran BGN Rp 240 triliun yang sebelumnya ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 kemungkinan bisa diturunkan.
"Pada dasarnya akan ada efisiensi-efisiensi yang dilakukan yang membuat nanti anggarannya enggak sebesar yang dianggarkan, yang dipakai nanti. 2026. Otomatis kalau itu bagus ya ke 2027 juga akan kebawa efisiensinya," lanjutnya.
Saat ditanya berapa efisiensi anggaran BGN yang saat ini sudah dipangkas jadi Rp 229 triliun, Purbaya berharap kalau dana itu bisa lebih turun. Hanya saja dia tak mengetahui berapa rincian anggaran pastinya.
"Saya sih berdoa lebih turun, sepertinya lebih turun. Tapi anda tanya ke BGN deh, angka persisnya," jelas Purbaya.
Diketahui, pemerintah telah memangkas anggaran program MBG pada 2027. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, pemerintah mengalokasikan Rp240,2 triliun untuk program MBG.
Anggaran tersebut lebih rendah dibandingkan alokasi MBG pada 2026 yang mencapai Rp268 triliun. Dengan demikian, terdapat pengurangan anggaran sekitar Rp27,8 triliun atau 10,4 persen.
Selain anggaran, target penerima manfaat MBG pada 2027 juga turun menjadi 72,1 juta orang dari 82,9 juta orang pada 2026. Jumlah penerima berkurang sekitar 10,8 juta orang atau 13 persen.
Dalam Buku II Nota Keuangan RAPBN 2027, pemerintah menyatakan program MBG pada 2027 tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, mulai dari balita hingga usia sekolah, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.
"Pada Tahun 2027, program MBG direncanakan sebesar Rp240.201,5 miliar untuk 72,1 juta penerima manfaat," demikian keterangan dalam dokumen tersebut.