- PMI manufaktur Agustus turun ke 49,8, kembali masuk zona kontraksi.
- Produksi dan tenaga kerja manufaktur kembali mengalami tekanan.
- Permintaan mulai pulih, tapi masih tertahan daya beli dan persaingan ketat.
S&P Global mencatat, sebagian peningkatan stok tersebut dilakukan perusahaan sebagai persediaan pengaman untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya bahan baku.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada persediaan pascaproduksi. Stok barang jadi kembali menyusut untuk bulan keempat berturut-turut.
Penurunan persediaan tersebut berlangsung secara moderat dan menjadi yang tercepat dalam lebih dari empat tahun, setara dengan laju penurunan yang tercatat pada Mei 2025.
Tekanan inflasi di sektor manufaktur memang mulai mereda pada Agustus. Namun, bukan berarti persoalan biaya produksi telah hilang.
Inflasi harga input maupun biaya output masih berada pada level yang tinggi secara historis. Kenaikan harga bahan baku dan biaya dari pemasok tetap menjadi salah satu beban utama perusahaan.
Untuk menjaga margin, sebagian perusahaan akhirnya meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.
Di tengah rapuhnya kinerja manufaktur, optimisme pelaku usaha justru menunjukkan perbaikan.
Tingkat kepercayaan bisnis meningkat ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Optimisme tersebut didorong ekspektasi bahwa permintaan akan menguat dan kondisi pasar akan lebih stabil dalam 12 bulan mendatang.
Baluch mengatakan, kepercayaan bisnis terus pulih sejak April meski kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan masih belum kuat.
“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kinerja sektor secara keseluruhan masih belum kuat, para pelaku manufaktur tetap optimistis bahwa produksi akan meningkat dalam 12 bulan ke depan,” kata Baluch.