- Presiden AS Donald Trump mengusulkan tarif impor mobil Kanada hingga 50 persen mulai 1 Januari 2027.
- Kebijakan ini mengancam produksi Toyota dan Honda karena menyumbang sebagian besar penjualan di pasar Amerika Serikat.
- Toyota mengantisipasi kebijakan tersebut dengan merencanakan investasi hingga US$10 miliar untuk memperluas operasional di Amerika Serikat.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan kebijakan tarif hingga 50 persen terhadap impor mobil dari Kanada. Kebijakan ini berpotensi memberikan pukulan telak bagi Toyota Motor dan Honda Motor mengingat kedua produsen asal Jepang tersebut menyumbang lebih dari tiga perempat total produksi mobil di Kanada.
Rencana tarif yang dijadwalkan berlaku pada 1 Januari 2027 itu datang pada saat yang krusial. Saat ini produsen otomotif Jepang sedang berjuang menghadapi gempuran kendaraan listrik asal China di pasar global. Amerika Serikat tetap menjadi pasar paling vital karena produsen China seperti BYD belum masuk ke negara tersebut secara masif.
Analis dari Barclays mengungkapkan bahwa mobil produksi Kanada menyumbang hampir seperempat penjualan Honda di Amerika Serikat dan 17 persen penjualan Toyota pada tahun lalu. Angka ini merupakan porsi terbesar di antara produsen otomotif utama lainnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan penutupan lini produksi secara besar-besaran.
“Jika benar-benar ingin menghancurkan industri otomotif Kanada, tarif ini bisa melakukannya,” kata Julie Boote, analis otomotif di Pelham Smithers Associates, London, dikutip Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, Toyota dan Honda kemungkinan harus menutup sebagian lini perakitan mereka di Kanada jika aturan tersebut resmi dijalankan.
Sebagai langkah antisipasi, Toyota mulai mengalihkan fokus investasi ke Amerika Serikat. Perusahaan otomotif terbesar di dunia itu berencana menginvestasikan hingga US$10 miliar dalam lima tahun ke depan untuk memperluas operasional domestik di Amerika Serikat, termasuk membangun pabrik baru di Texas.
Namun, tantangan besar tetap membayangi karena penyesuaian produksi tidak bisa dilakukan secara instan. Seiji Sugiura, analis senior di Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, menyebut situasi ini akan mengubah peta industri secara drastis.
“Ini akan menjadi perubahan besar dari kondisi sebelumnya,” kata Seiji Sugiura.
Para pemasok komponen otomotif Jepang juga berada dalam posisi waspada namun tetap memantau perkembangan situasi politik yang ada. Salah satu eksekutif pemasok menyatakan bahwa mereka masih menunggu kepastian hukum terkait pemberlakuan tarif tersebut.
“Kami berusaha untuk tidak bereaksi secara berlebihan,” pungkas salah satu eksekutif pemasok tersebut.