- Wall Street bangkit pada 2 September 2026 karena yield obligasi melandai dan saham teknologi menguat.
- Bursa Asia dan IHSG melemah akibat konflik geopolitik Timur Tengah serta aksi jual bersih asing.
- Inflasi tahunan Korea Selatan naik menjadi 3,1 persen pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Suara.com - Pasar saham global menunjukkan polarisasi yang cukup tajam pada perdagangan pertengahan pekan ini. Di satu sisi, bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berhasil melepaskan diri dari tekanan yang mengikat, sementara di sisi lain, bursa saham kawasan Asia justru berguguran akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan efek domino pelemahan pasar obligasi global.
Kondisi makroekonomi ini tentunya menjadi sentimen yang sangat krusial bagi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang pembukaan pasar.
Di bursa Amerika Serikat, ketiga indeks utama kompak mengakhiri tren penurunan yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada penutupan perdagangan hari Rabu, 2 September 2026. Indeks S&P 500 tercatat mengalami penguatan sebesar 0,46 persen.
Langkah senada juga diikuti oleh indeks padat teknologi Nasdaq Composite yang menanjak 0,45 persen, serta Dow Jones Industrial Average yang memimpin jalannya reli dengan kenaikan sebesar 0,56 persen.
Laju positif pada indeks Dow Jones secara khusus ditopang oleh kinerja gemilang dari saham raksasa produsen chip Nvidia dan perusahaan kesehatan multinasional Johnson & Johnson.
Sebelumnya, instrumen ekuitas di Negeri Paman Sam tersebut sempat tertekan hebat akibat lonjakan yield obligasi atau US Treasury yang sempat menyentuh rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, yield yang mulai melandai memberikan ruang bernapas bagi para pelaku pasar. Di saat yang bersamaan, investor tetap menaruh kewaspadaan tingkat tinggi terhadap fluktuasi harga komoditas energi.
Lonjakan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan dapat kembali mengerek inflasi, yang pada gilirannya akan semakin mempersulit arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Pergerakan harga komoditas energi saat ini memang tengah menunjukkan tren penguatan. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik hampir 1 persen, sementara patokan global minyak mentah Brent bertengger kokoh di level US$ 95,63 per barel.
Tingginya harga minyak ini tidak lepas dari sentimen rantai pasok global. Berdasarkan keterangan dari Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright kepada jaringan berita CNBC, tercatat lebih dari 17 juta barel minyak telah melewati jalur strategis Selat Hormuz pada hari Senin lalu.
Volume pergerakan tersebut merupakan level tertinggi yang pernah tercatat sejak pecahnya perang Iran pada bulan Februari lalu.
Berbanding terbalik dengan pemulihan yang terjadi di Wall Street, bursa saham di kawasan Asia justru harus babak belur pada perdagangan Rabu. Aksi jual masif di pasar obligasi global dengan cepat merambat ke instrumen berisiko di kawasan Asia.
Situasi pasar semakin diperburuk oleh memanasnya ketegangan geopolitik usai Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran pada hari Selasa, 1 September 2026. Iran kemudian secara langsung merespons dengan melakukan serangan balasan.
Pertukaran serangan dari kedua belah pihak ini dinilai sebagai eskalasi paling serius dalam beberapa pekan terakhir dan sukses mendorong harga energi global bergerak lebih liar.
Imbasnya, mayoritas indeks bursa saham Asia rontok. Indeks KOSPI di Korea Selatan memimpin kejatuhan dengan anjlok sedalam 4 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga harus terpuruk dengan koreksi tajam 2,9 persen. Pelemahan turut melanda Taiex Taiwan yang berkurang 1,7 persen, CSI 300 China yang merosot 1,4 persen, ASX 200 Australia yang terkoreksi 1 persen, serta Hang Seng Hong Kong yang ditutup melemah tipis 0,07 persen.
Menariknya, di tengah pusaran sentimen negatif tersebut, indeks FTSE Straits Times Singapura dan FTSE Malay KLCI Malaysia justru berhasil menahan gempuran dengan masing-masing menguat 0,6 persen dan 0,5 persen.
Selain mencerna faktor geopolitik, pasar Asia juga tengah merespons rilis data makroekonomi dari Korea Selatan. Tingkat inflasi di Negeri Ginseng tersebut dilaporkan kembali mengalami peningkatan pada bulan Agustus 2026.
Merujuk pada data resmi yang dirilis oleh Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 3,1 persen secara tahunan (YoY) pada bulan Agustus.
Angka ini meningkat signifikan apabila dibandingkan dengan kenaikan 2,8 persen yang tercatat pada bulan Juli 2026. Peningkatan laju inflasi ini sebagian besar dipengaruhi oleh efek basis yang rendah dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, meskipun secara akumulasi angka inflasi tersebut masih lebih rendah dari proyeksi ekspektasi pasar.
Beralih ke pergerakan pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan fase konsolidasi yang cukup ketat. Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah sangat tipis sebesar 0,06 persen.
Pelemahan indeks kebanggaan bursa dalam negeri ini turut diwarnai oleh aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing yang mencapai nilai sekitar Rp235 miliar.
Sejumlah saham berkapitalisasi raksasa menjadi sasaran utama aksi pelepasan portofolio. Lima saham yang paling banyak dibuang oleh pemodal asing meliputi saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Meski sempat tertahan di zona merah pada penutupan kemarin, secara tinjauan teknikal IHSG dinilai memiliki potensi yang cukup terbuka untuk kembali mengalami rebound pada sesi perdagangan hari ini. Pergerakan laju IHSG diperkirakan akan menguji area pertahanan atau support terdekat yang berada di kisaran level 6520 hingga 6550.
BNI Sekuritas dalam kajiannya memperkirakan, jika momentum akumulasi kembali mendominasi, indeks memiliki peluang untuk merangsek naik menembus area resistensi yang diproyeksikan berada di rentang 6630 hingga 6700. Di tengah volatilitas pasar dan rotasi pergerakan sektor, para pelaku pasar dapat mencermati sejumlah ide trading harian yang direkomendasikan hari ini, yang meliputi saham MDKA, EMAS, INET, JGLE, KIJA, dan KETR.