Mendaki Gunung Everest Makin Susah, Duit Bukan Lagi Segalanya di Sana

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 15 September 2026 | 17:34 WIB
Mendaki Gunung Everest Makin Susah, Duit Bukan Lagi Segalanya di Sana
Ilustrasi para pendaki menuju puncak Gunung Everest. (AFP)
baca 10 detik
  • Nepal menyiapkan draf aturan melarang pendaki tanpa pengalaman ekstrem mendaki Gunung Everest.

  • Pendaki sangat direkomendasikan memiliki asuransi komprehensif mencakup evakuasi helikopter dan pemulangan.

  • Tarif izin pendakian musim semi resmi naik menjadi 15.000 dolar AS per pendaki.

Suara.com - Pemerintah Nepal sedang menggodok regulasi ketat yang melarang pendaki pemula menerobos zona ekstrem Gunung Everest tanpa rekam jejak yang mumpuni. Kebijakan ini diambil demi menekan risiko keselamatan pada jalur ekspedisi komersial yang kian padat dan berbahaya.

Langkah ini menandai pergeseran fokus pemerintah Nepal dari sekadar industri pariwisata menuju standar keselamatan penerbitan izin yang lebih ketat. Para calon pendaki nantinya tidak bisa lagi mengandalkan modal finansial semata untuk menapaki puncak tertinggi di dunia tersebut.

“Salah satu langkah baru yang paling signifikan adalah persyaratan memiliki pengalaman mendaki di ketinggian ekstrem bagi siapa pun yang berencana mendaki Everest. Tujuannya adalah memastikan para pendaki memiliki pengalaman yang memadai di ketinggian sebelum menjalani ekspedisi komersial tertinggi dan paling menantang secara teknis di dunia,” kata pejabat asosiasi tersebut, dikutip dari CNA, Selasa (15/9/2026).

Gunung Everest dari Kejauhan (unsplash/parth savanni)
Gunung Everest dari Kejauhan (unsplash/parth savanni)

Proses perumusan draf undang-undang ini berfokus pada standar pasti mengenai rekam jejak ketinggian puncak yang pernah ditaklukkan calon pendaki. Anggota parlemen setempat masih memperdebatkan batas minimum pendakian terdahulu, khususnya pada gunung beratap 7.000 hingga 8.000 meter di atas permukaan laut.

Penerapan regulasi baru ini diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu dekat mengingat proses legislasi yang masih berjalan. Berdasarkan analisis media pendakian Explorersweb, aturan ini kemungkinan besar belum siap diberlakukan pada musim pendakian musim semi 2027.

Selain faktor pengalaman fisik, aspek perlindungan finansial dan medis pendaki juga menjadi perhatian utama asosiasi pendakian. Mereka mendorong setiap pelaku ekspedisi mengantongi proteksi asuransi ekstra untuk mengantisipasi skenario terburuk di medan ekstrem.

Cakupan asuransi wajib tersebut mencakup skenario evakuasi udara darurat menggunakan helikopter hingga jaminan pemulangan jenazah ke negara asal. Langkah mitigasi ini dinilai krusial untuk mencegah beban finansial imbas kecelakaan kerja di zona bahaya.

Bersamaan dengan pembenahan aturan izin, pemerintah Nepal resmi mengerek tarif perizinan pendakian Everest untuk pendaki internasional. Penyesuaian harga ini diterapkan secara bervariasi tergantung pada periode musim pendakian yang dipilih.

“Bagi pendaki asing yang menggunakan jalur standar, biayanya kini 15.000 dolar AS (sekitar Rp264,5 juta) untuk musim semi (Maret-Mei), 7.500 dolar AS (sekitar Rp132,3 juta) untuk musim gugur (September-November), serta 3.750 dolar AS (sekitar Rp66,1 juta) untuk musim dingin dan musim panas,” kata Lama.

baca juga

Kenaikan signifikan terlihat pada musim favorit pendakian, di mana tarif lama sebesar 11.000 dolar AS melonjak menjadi 15.000 dolar AS. Penyesuaian struktur biaya komersial ini telah berlaku penuh pada jalurnya sejak gelombang pendakian musim ini dimulai.

Popularitas Gunung Everest sebagai tujuan utama pendaki dunia menciptakan lonjakan penumpukan massa di zona kematian dalam beberapa tahun terakhir. Banyaknya pendaki minim pengalaman sering memicu antrean panjang dan meningkatkan risiko fatalitas saat cuaca buruk melanda.

Kondisi tersebut mendesak pemerintah Nepal bersama Asosiasi Pendaki Gunung Nepal merombak total manajemen risiko pendakian. Reformasi ini mengombinasikan penyaringan kualifikasi fisik, jaminan asuransi ketat, serta penyesuaian tarif perizinan demi keselamatan ekspedisi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Keluarga Korban Banjir Bandang Nepal Putus Asa, Sisir Rumah Sakit Cari Jenazah Kerabat Sendiri

Keluarga Korban Banjir Bandang Nepal Putus Asa, Sisir Rumah Sakit Cari Jenazah Kerabat Sendiri

News | Jum'at, 04 September 2026 | 11:11 WIB

Polisi Singapura Kumpulkan Sampel DNA Keluarga 9 Warganya yang Hilang di Banjir Bandang Nepal

Polisi Singapura Kumpulkan Sampel DNA Keluarga 9 Warganya yang Hilang di Banjir Bandang Nepal

News | Kamis, 03 September 2026 | 08:46 WIB

Nepal Terancam Bencana Susulan Pasca Longsor Es dan Batu Himalaya

Nepal Terancam Bencana Susulan Pasca Longsor Es dan Batu Himalaya

News | Rabu, 02 September 2026 | 16:06 WIB

Terkini

Penyidikan Rampung, Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan ke Pengadilan

Penyidikan Rampung, Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan ke Pengadilan

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:32 WIB

Anak Buah Terjaring OTT KPK di Bogor, Wamen ATR/BPN Minta Publik Tak Berspekulasi

Anak Buah Terjaring OTT KPK di Bogor, Wamen ATR/BPN Minta Publik Tak Berspekulasi

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:28 WIB

Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026

Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:28 WIB

Duh! Gunungkidul Sampai Ajukan Tambahan Stok BBM, Pemda DIY Lakukan Efisiensi Transportasi

Duh! Gunungkidul Sampai Ajukan Tambahan Stok BBM, Pemda DIY Lakukan Efisiensi Transportasi

Jogja | Selasa, 15 September 2026 | 17:28 WIB

Ekonom Ungkap Baik Buruk harga Pertalite Naik

Ekonom Ungkap Baik Buruk harga Pertalite Naik

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:25 WIB

15.722 Gempa Susulan Terjadi Usai Flores Diguncang M7,7, BMKG Ungkap Kondisi Terkini

15.722 Gempa Susulan Terjadi Usai Flores Diguncang M7,7, BMKG Ungkap Kondisi Terkini

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:23 WIB

Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Health | Selasa, 15 September 2026 | 17:20 WIB

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:18 WIB

×