- Porsi konsumsi naik jadi 74,2% pada Agustus 2026.
- Porsi tabungan konsumen turun menjadi 15,8%.
- Ruang keuangan rumah tangga makin tertekan.
Suara.com - Kondisi keuangan masyarakat Indonesia menunjukkan sinyal yang kurang menggembirakan pada Agustus 2026. Di tengah meningkatnya porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi, kemampuan masyarakat untuk menyisihkan penghasilan justru semakin tertekan.
Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Rabu (9/9/2026), rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio pada Agustus 2026 tercatat sebesar 74,2%.
Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 72,7%. Kenaikan ini menunjukkan semakin besar bagian pendapatan masyarakat yang harus dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kemampuan konsumen dalam menyimpan pendapatan. Proporsi pendapatan yang disimpan atau saving to income ratio pada Agustus 2026 tercatat hanya sebesar 15,8%.
Rasio tersebut merosot dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 16,8%. Dengan demikian, porsi pendapatan yang berhasil disisihkan konsumen untuk tabungan turun 1 poin persentase hanya dalam waktu satu bulan.
Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa ruang keuangan rumah tangga semakin terbatas. Ketika porsi pendapatan untuk konsumsi meningkat sementara bagian yang ditabung menyusut, masyarakat memiliki bantalan keuangan yang relatif lebih kecil untuk menghadapi kebutuhan mendadak maupun tekanan ekonomi ke depan.
Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang (debt installment to income ratio) relatif stabil. Pada Agustus 2026, rasio tersebut tercatat sebesar 10,0%, sedikit lebih rendah dibandingkan 10,5% pada bulan sebelumnya.
Meski rasio pembayaran cicilan turun, tekanan terhadap keuangan konsumen tetap terlihat dari menyusutnya porsi pendapatan yang dapat disimpan.
Perubahan struktur pendapatan tersebut menunjukkan konsumen semakin banyak menghabiskan penghasilannya untuk kebutuhan konsumsi, sementara kemampuan membangun tabungan justru melemah.
Jika tren tersebut berlanjut, ruang masyarakat untuk meningkatkan ketahanan finansial berpotensi semakin sempit. Konsumen akan memiliki lebih sedikit dana cadangan ketika menghadapi kenaikan harga, kehilangan pendapatan, ataupun kebutuhan pengeluaran yang tidak terduga.