- Harga minyak Brent dan WTI naik pada Kamis akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
- Militer Amerika Serikat menghancurkan lima kapal tanker Iran sebagai balasan atas ancaman serangan terhadap kapal perang.
- Konflik yang terus memanas ini berpotensi mendorong harga minyak dunia melampaui level 120 dolar AS per barel.
Suara.com - Minyak mentah acuan internasional Brent untuk kontrak pengiriman November menguat 0,62 persen ke level 101,84 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik 1,01 persen menjadi 96,06 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Mengutip dari CNBC, kenaikan harga minyak berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan akibat memanasnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Situasi memburuk setelah militer Amerika Serikat menghancurkan lima kapal tanker minyak milik Iran pada Selasa lalu.
Langkah tersebut diklaim Komando Sentral AS (Centcom) sebagai tindakan balasan atas upaya serangan terhadap kapal perang AS yang berhasil digagalkan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Makin intensifnya serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan Teluk dinilai berpotensi mengerek harga minyak dunia melampaui level 120 dolar AS per barel.
Co-Head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, menilai skenario lonjakan harga tersebut sangat mungkin terjadi apabila gangguan distribusi terus meluas.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/36136-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Direktur Komersial dan Penasihat Perdagangan TFP Software FZCO, Andrei Constantin, menambahkan bahwa pengetatan di pasar fisik dapat makin parah jika volume transit minyak terus menurun atau muncul ancaman langsung terhadap infrastruktur energi.
Sementara itu, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa para penasihat senior Gedung Putih mulai mengkaji kemungkinan konflik antara AS dan Iran yang kini memasuki bulan ketujuh tersebut dapat berlangsung hingga akhir masa jabatan Presiden Donald Trump.
Senior Market Analyst Trade Nation, David Morrison, mencatat bahwa harga WTI telah memulihkan seluruh penurunan yang terjadi pada periode Juni hingga Juli lalu.
"Harga WTI telah sepenuhnya pulih dari penurunan tajam antara awal Juni dan Juli, sementara harga Brent sekarang jauh di atas harga yang terlihat pada awal Juni,” kata Morrison.