- Investor global mulai mengalirkan kembali modalnya ke pasar keuangan Indonesia setelah sempat hengkang akibat gejolak awal tahun 2026.
- Indikator pemulihan terlihat dari pasar obligasi, penguatan nilai tukar rupiah, serta kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan pada Agustus 2026.
- Pemerintah dan regulator melakukan intervensi kebijakan, namun investor asing masih menantikan konsistensi eksekusi serta peninjauan ulang MSCI pada November mendatang.
Suara.com - Angin segar perlahan mulai menyapu pasar keuangan Indonesia. Investor global yang sempat panik dan hengkang akibat gejolak hebat di awal tahun kini mulai mengalirkan modalnya kembali.
Langkah-langkah intervensi dan komitmen stabilitas yang ditunjukkan regulator hingga pemerintah dinilai berhasil membendung kepanikan pasar.
Para investor asing mengaku melihat harapan di Indonesia, meski mereka mengatakan eksekusi dan bukan sekedar omon-omon yang akan benar-benar mengembalikan kepercayaan pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Manajer investasi kawakan seperti Invesco dan PPM America, demikian dilansir Bloomberg, mulai mengurangi porsi underweight mereka pada aset-aset berisiko di Indonesia.
Ada tiga indikator utama sinyal pemulihan pasar keuangan Indonesia. Pertama adalah membaiknya pasar obligasi. Dana asing mencatatkan net buy pada surat utang negara selama empat bulan berturut-turut.
Kedua adalah nilai tukar rupiah yang menguat lebih dari 3,5 persen dari rekor terendah pada Juni lalu. Terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menutup kuartal ini dengan arus modal masuk (inflow) untuk pertama kalinya sepanjang 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada pekan ini mengumumkan aliran modal masuk investor asing di pasar saham domestik berlanjut pada Agustus 2026 dengan net buy investor asing senilai Rp1,19 triliun.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.525,48 per akhir Agustus, meningkat 4,64 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Kembalinya kepercayaan investor tak lepas dari serangkaian respons kebijakan domestik. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit anggaran.
Di sisi lain, regulator gencar meluncurkan reformasi transparansi pasar guna menjawab sorotan MSCI, sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru dilantik, Destry Damayanti, mengindikasikan bakal melanjutkan arah kebijakan yang konsisten.
Ujian pada eksekusi
Indonesia mengawali 2026 dengan pasar keuangan yang kocar-kacir. Mulanya adalah saat MSCI memberi peringatan penurunan status pasar saham Indonesia menjadi frontier market akibat masalah transparansi dan aksesibilitas.
Situasi kian diperparah oleh kekhawatiran pemangkasan peringkat utang (sovereign rating) serta wacana kebijakan populisme.
BI kemudian merespons lewat kenaikan suku bunga acuan di luar jadwal rutin demi mengamankan rupiah. Hasilnya, pada akhir Juni, MSCI memutuskan untuk menunda peninjauan ulang guna melihat efektivitas reformasi yang dijalankan Indonesia.
Namun, kalangan investor menegaskan bahwa omon-omon saja tidak cukup. Para manajer investasi menantikan dua momentum krusial jelang akhir 2026: hasil peninjauan ulang MSCI pada November mendatang serta kepastian arah suku bunga The Fed.
"Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir kita sering melihat kebijakan yang maju-mundur," kata Natalia Gurushina, Chief Economist Emerging Markets di Van Eck Associates, New York.
Risiko memang nyata. Apa lagi tantangan eksternal dari perang di Timur Tengah yang memicu naiknya harga minyak tak bisa diabaikan. Belum lagi menguatnya spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.
"Kami perlu melihat konsistensi eksekusi kebijakan serta lingkungan eksternal yang lebih mendukung sebelum kembali membangun posisi investasi yang signifikan," ujar Yiping Liao, Fund Manager Templeton Global di Singapura.
"Saya masih cukup berhati-hati. Kuncinya ada pada eksekusi," imbuh dia.
Trauma dari aksi jual masif di awal tahun belum pulih. IHSG telah melesat 25 persen dari level terendah Juni lalu—memenuhi kriteria teknis bull market—secara year-to-date indeks acuan ini masih terkoreksi hampir 23 persen.
Angka tersebut mencatatkan penurunan tertajam di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.
Arus modal masuk asing di pasar saham yang mencapai 296 juta dolar AS sepanjang kuartal ini pun baru mengikis sebagian kecil dari total modal keluar (outflow) yang mendekati angka 4 miliar dolar AS sejak awal tahun.
William Yuen, Investment Director Invesco di Hong Kong, menyebut pihaknya hanya memangkas posisi underweight secara tipis seiring membaiknya profil risk-reward.
"Kami terus memantau perkembangan isu-isu kunci sebelum mengambil penyesuaian lanjutan," tegasnya.