- PT Bank Jago Tbk melaporkan penyaluran kredit sebesar Rp26,6 triliun pada semester I-2026 dalam acara daring.
- Dana pihak ketiga Bank Jago meningkat menjadi Rp27,6 triliun seiring pertumbuhan total nasabah mencapai 20,1 juta.
- Pencapaian bisnis tersebut menghasilkan perolehan laba bersih sebesar Rp189 miliar pada akhir Juni 2026.
Suara.com - PT Bank Jago Tbk mencatat pertumbuhan kinerja bisnis yang positif pada semester I-2026. Hingga akhir Juni 2026, penyaluran kredit Bank Jago mencapai Rp26,6 triliun atau tumbuh 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp21,4 triliun.
Pertumbuhan tersebut disampaikan manajemen Bank Jago dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara daring.
Dalam paparan tersebut, perseroan menegaskan komitmen untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan melalui inovasi produk dan layanan perbankan serta kolaborasi dengan ekosistem digital.
Direktur Bank Jago, Supranoto Prajogo mengatakan, selama lebih dari lima tahun beroperasi dan bertumbuh, Bank Jago terus mengembangkan solusi keuangan digital yang relevan bagi masyarakat Indonesia dengan tetap menjaga fundamental bisnis.
“Selama lebih dari lima tahun beroperasi dan bertumbuh, Bank Jago sebagai bank berbasis teknologi telah menghadirkan solusi keuangan digital yang fokus dan relevan bagi masyarakat Indonesia. Kami melakukannya dengan tetap menjaga fundamental dan pertumbuhan bisnis perusahaan dengan sehat,” kata Supranoto dalam siaran pers yang diterima, Jumat (11/9/2026).
Selain pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK) Bank Jago juga meningkat. Pada akhir Juni 2026, total DPK mencapai Rp27,6 triliun, tumbuh 23 persen dibandingkan Rp22,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan DPK tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah nasabah. Bank Jago mencatat sebanyak 20,1 juta nasabah hingga akhir Juni 2026, termasuk 14,7 juta nasabah funding pengguna Aplikasi Jago.
Dari sisi kualitas kredit, Bank Jago mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,8 persen. Angka tersebut berada di bawah rata-rata NPL perbankan nasional.
Pertumbuhan bisnis tersebut turut mendorong total aset Bank Jago yang mencapai Rp41,4 triliun. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp189 miliar pada semester I-2026.
Bank Jago juga mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 28,4 persen. Menurut manajemen, posisi permodalan tersebut dinilai memadai untuk mendukung ekspansi bisnis perseroan ke depan.
“Pencapaian positif ini menjadi bukti bahwa model bisnis bank berbasis teknologi dan kolaborasi dengan mitra ekosistem strategis yang kami bangun memiliki kekuatan dan ruang pertumbuhan yang besar,” tukasnya.