-
Kasus penyenggolan di restoran Changsha berlanjut ke meja hijau setelah proses mediasi gagal.
-
Orang tua menolak minta maaf secara tertulis untuk melindungi putranya dari stigma negatif.
-
Media pemerintah mengkritik eksploitasi konflik pribadi menjadi konsumsi media sosial demi meraih trafik.
Suara.com - Perselisihan antara seorang wanita dan keluarga balita berusia 4 tahun di Changsha berlanjut ke jalur hukum usai mediasi resmi mengalami jalan buntu. Wanita tersebut menuduh sang anak sengaja menyentuh bagian belakang tubuhnya, sementara orangtua menegaskan kontak fisik itu murni akibat ketidakseimbangan saat berlari.
Rekaman kamera pengawas memperlihatkan momen ketika sang balita melintas di belakang wanita yang sedang berdiri di area kasir. Kontak fisik yang sangat singkat itu mendadak berubah menjadi cengkeraman leher dan teriakan di tengah restoran.
Eskalasi konflik fisik di lokasi kejadian dengan cepat bergeser menjadi perang narasi digital yang menyita perhatian publik nasional. Kasus ini membuka diskursus baru terkait batas kewajaran respon orang dewasa terhadap perilaku anak di ruang publik.
Ketegangan bermula saat korban merespon benturan fisik dengan menahan leher anak dan menuntut kehadiran orang tuanya. Balita tersebut menangis histeris di lokasi kejadian sebelum akhirnya dilerai oleh staf restoran dan ayah sang anak.
Tiga kali upaya mediasi yang difasilitasi pihak berwenang tidak membuahkan kesepakatan karena adanya perbedaan tuntutan yang tajam. Wanita tersebut memilih membawa kasus ini ke ranah hukum untuk memperjuangkan hak yang diyakininya.
"Saya percaya bahwa keadilan pasti akan menang," tegasnya melalui pernyataan resmi di platform Weibo, dikutip dari CNA.
"Saya ingin memberi tahu semua orang bahwa saya mengunggah hal-hal ini untuk mendorong orang-orang agar berani memperjuangkan hak-hak mereka sendiri," tambahnya.
Keluarga balita menilai tuduhan yang dilayangkan di media sosial sangat tidak masuk akal bagi anak berusia empat tahun. Sang ayah menegaskan kontak tubuh terjadi karena putranya kehilangan keseimbangan saat berlari melintas.
Pihak keluarga memutus langkah kompromi tertulis guna mencegah timbulnya stigma negatif permanen bagi perkembangan psikologis anak. Pengakuan tertulis dianggap sama saja dengan mengaminkan tuduhan jahat yang disebarkan di jejaring sosial.
"Itu bukan 'meraba bokongnya' atau 'serangan tidak senonoh' seperti rumor yang beredar di internet," ujar pria bersurat nama keluarga Guo tersebut.
"Anak berusia empat tahun belum memiliki kesadaran tentang gender atau seksualitas, apalagi niat jahat," lanjut Guo.
Guo menyampaikan bahwa dirinya dan sang istri telah menyampaikan permohonan maaf secara lisan serta menjelaskan kronologi kejadian. Namun, tuntutan disiplin ketat dan surat pernyataan maaf tertulis ditolak demi melindungi masa depan putranya.
"Begitu saya mengakuinya secara tertulis, itu sama saja dengan menyematkan label 'sengaja' pada anak saya. Itu akan membahayakannya," tulis Guo dalam peryataan publiknya.
"Saya percaya hukum akan memberikan keputusan yang adil, dan saya percaya video pengawas lebih meyakinkan daripada emosi," tambahnya.
Pernyataan bersambung dari kedua belah pihak di media sosial memicu gelombang kritik hebat dari para warganet. Banyak pengguna internet mempertanyakan trauma psikologis yang berpotensi dialami oleh sang balita akibat insiden tersebut.