- Christina Ruth Elisabeth menyatakan hilirisasi pertanian di Jakarta pada 17 September 2026 mampu mendongkrak PDB sepuluh kali lipat.
- Budi Santoso melaporkan total ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS pada April 2026 akibat kenaikan komoditas nonmigas.
- Jeffrey Haribowo menyebutkan industri kakao nasional membutuhkan pasokan impor karena keterbatasan bahan baku dalam memenuhi permintaan domestik.
Suara.com - Hilirisasi sektor pertanian dan industri berbasis bahan baku agro dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Bahkan, perluasan ekspor produk hilir agro disebut dapat memberikan tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 10 kali lipat.
Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI Christina Ruth Elisabeth mengatakan, sektor agro memiliki keterkaitan yang kuat antara sektor hulu dan hilir.
Menurut dia, keterkaitan tersebut membuat pengembangan industri berbasis komoditas pertanian berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Dia melihat keterkaitan input-output industri agro yang berasal dari hasil penelitian dengan menggunakan data BPS. Secara keseluruhan, tembakau, kakao, dan kopi sudah berada di atas poin satu.
"Ini memang keterkaitan ke depannya tinggi dan strategis untuk dikembangkan," ujarnya di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
![Perempuan anggota koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) Jembrana saat melakukan sortasi kakao, Kamis (30/7/2026) [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/30/11448-sortasi-kakao.jpg)
Christina mencontohkan industri hasil tembakau (IHT) yang memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor di bagian hulu. Industri tersebut dapat menyerap input dari sektor hulu, mulai dari bibit, pupuk, pestisida, mesin pertanian, hingga jasa logistik.
Keterkaitan antara sektor hulu dan hilir tersebut membuat dampak ekonomi industri agro dapat dirasakan hingga masyarakat di tingkat dasar.
Christina menilai hilirisasi sektor pertanian memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang berada di sektor hulu.
Menurutnya, karakteristik tersebut membuat pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari hilirisasi pertanian atau industri berbasis bahan baku agro berpotensi lebih inklusif.
"Hilirisasi di sektor pertanian ini sangat berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani yang ada di hulu. Jadi pertumbuhan ekonominya, jika kita mendorong hilirisasi pertanian atau industri berbasis bahan baku agro, lebih inklusif sebenarnya dibandingkan dengan sektor mineral," jelas Christina.
Hal ini sejalan dengan kinerja ekspor nasional yang menunjukkan pertumbuhan positif. Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyatakan total nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,30 miliar dolar AS.
Kenaikan ekspor bulanan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 13,66 persen, meskipun ekspor migas turun 9,81 persen.
"Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44 persen, tembakau dan rokok 43,49 persen," ujar Budi.
Sepanjang Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai 92,15 miliar dolar AS atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas juga tumbuh 6,28 persen menjadi 87,74 miliar dolar AS.
Sementara, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, nilai pasar makanan dan minuman artisan pada 2025 diperkirakan mencapai 332 miliar dolar AS dan diproyeksikan meningkat hingga 627,3 miliar dolar AS pada 2032.
Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia yang memiliki kekuatan sumber daya hayati untuk mengembangkan industri agro.
Indonesia bahkan dinilai dapat mengambil peran sebagai penggerak utama industri agro di antara negara anggota organisasi internasional BRICS.
"Kenapa kami mengusulkan? Karena Indonesia memiliki kekuatan yang besar sekali untuk menjadi negara berbasis agro-industri yang bisa membantu berbagai bangsa dan berbagai negara untuk mengembangkan agro-industri seperti yang ada di Indonesia," ujar Faisol.
Sejumlah subsektor yang dinilai memiliki prospek antara lain industri tembakau, kopi, dan olahan kakao.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Jeffrey Haribowo mengatakan, sebagian besar komoditas kakao nasional saat ini telah dikirim ke luar negeri dalam bentuk olahan seperti butter, powder, dan liquor.
Namun, pengembangan nilai tambah tersebut masih menghadapi persoalan ketersediaan bahan baku dari dalam negeri.
"Namun demikian, kenyataan bahwa saat ini sebagian besar bahan baku industri kakao di Indonesia masih dari impor, maka nilai tambah dalam perdagangan belum bisa optimal," katanya.
Pasokan impor masih diperlukan untuk menutupi keterbatasan suplai domestik. Hal ini mengingat total kebutuhan industri kakao nasional saat ini mencapai sekitar 450.000 ton per tahun dan belum bisa dipenuhi seluruhnya dari pasokan lokal.
"Selain itu, impor biji kakao akan tetap diperlukan untuk menghadirkan cita rasa yang diharapkan dari produsen cokelat dan/atau produk makanan/minuman yang mengandung produk cokelat," pungkasnya.