Punya Hutan Jutaan Hektare, Perhutani Mulai Hitung Potensi Cuan dari Karbon

Achmad Fauzi

Jum'at, 18 September 2026 | 12:02 WIB
Punya Hutan Jutaan Hektare, Perhutani Mulai Hitung Potensi Cuan dari Karbon
Gedung Perhutani/Ist
baca 10 detik
  • Perum Perhutani membidik perdagangan karbon untuk menggantikan pendapatan kayu demi menjaga kelestarian hutan.
  • Perusahaan mengelola izin pemanfaatan hutan seluas 3,6 juta hektare di dalam dan luar Jawa.
  • Perhutani membentuk PMO dan mulai proaktif mengembangkan perdagangan karbon untuk menangkap peluang bisnis.

Suara.com - Perum Perhutani mulai membidik perdagangan karbon sebagai salah satu sumber pendapatan baru perusahaan. Langkah ini didorong oleh potensi besar karbon yang tersimpan di kawasan hutan yang dikelola perusahaan.

Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengatakan, Perhutani memiliki sejumlah potensi natural capital yang dapat dikembangkan, mulai dari kayu, tata air, karbon, wisata hingga jasa lingkungan.

Menurut dia, Perhutani diarahkan untuk tetap menjaga kelestarian hutan sembari mulai mengembangkan instrumen ekonomi melalui perdagangan karbon.

"Arahan BP BUMN untuk Perhutani, Perhutani itu kan saat ini dia natural capital itu dari kayu, tata air, carbon, wisata dan jasa lingkungan. Kita harapkan Perhutani tetap menjaga hutan, untuk instrumen ekonomi mulai bergerak ke carbon trading," ujarnya seperti dikutip, Jumat (18/9/2026).

Roziqin mengatakan, perdagangan karbon berpotensi menjadi sumber pendapatan yang dapat menggantikan pendapatan Perhutani yang selama ini diperoleh dari pengelolaan kayu.

Orchid Forest Cikole. [dokumentasi pribadi]
Ilustrasi hutan pinus yang dikelola hutan pinus.

"Kalau kita bisa bergerak Perhutani, ke arah carbon trading nanti, baik pembelinya dari internasional maupun domestik, harusnya pendapatan Perhutani dari menebang hutan yang saat ini Rp1,5 triliun per tahun, harusnya bisa di-cover dari carbon trading"

Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasi Perum Perhutani Wawan Triwibowo mengatakan, saat ini Perhutani memiliki 3,6 juta hektare izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Dari total tersebut, sebanyak 2,4 juta hektare berada di Pulau Jawa, sedangkan 1,21 juta hektare lahan terletak di luar Pulau Jawa.

Dari pemanfaatan hutan tersebut, sumber pendapatan Perum Perhutani untuk hutan-hutan di Pulau Jawa terdiri dari 41 persen segmen bisnis kayu dan industri kayu, 47 persen dari getah dan industri GTD, 6 persen dari agroforestri, 5 persen wisata, dan 1 persen MKP.

baca juga

Sementara itu, dari hutan-hutan yang berada di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sulawesi Selatan, sumber pendapatan Perum Perhutani sebesar 92 persen berasal dari kayu dan industri kayu, 5 persen HHBK dan jasa wisata, serta 3 persen tanaman industri.

Adapun hutan yang berada di Lampung dan Bangka Belitung memiliki sumber pendapatan dari getah pinus sebesar 82 persen, jasa dan rehabilitasi 4 persen, serta agroforestry sebanyak 14 persen.

Wawan mengatakan, Perhutani sebenarnya telah mulai memasuki bisnis perdagangan karbon melalui anak usahanya, Inhutani I. Menurut dia, Perhutani perlu terlibat sejak awal dalam pengembangan pasar karbon agar dapat menangkap peluang bisnis yang muncul seiring berkembangnya perdagangan karbon.

"Memang saat ini ketika nanti akan carbon trade itu menjadi sebuah real yang bisa kita laksanakan, kita harus terus ikut proaktif sejak dini," kata Wawan.

Untuk mendukung pengembangan bisnis tersebut, Perhutani juga telah membentuk Carbon Project Management Office (PMO) yang menangani pengembangan proyek perdagangan karbon.

Wawan menilai potensi karbon di hutan Indonesia sangat besar. Namun, pengembangan bisnis tersebut masih membutuhkan dukungan dari sisi regulasi dan kepastian pasar.

"Sebenarnya kalau potensi karbon tentunya di hutan Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia itu sangat besar. Ini tentunya payung regulasi, kejelasan, komitmen dari para para customer yang akan mengambil karbon ini masih membutuhkan hukuman dari kejelasan regulasi dari pemerintah," katanya.

Karena itu, Perhutani memilih mulai mempersiapkan diri sejak sekarang. Perusahaan ingin terlibat dalam proses pengembangan perdagangan karbon agar tidak tertinggal ketika pasar tersebut semakin berkembang.

"Ini mungkin saya pikir kita sudah mulai dulu jangan sampai terlambat intinya kita kita makin tetap proaktif sejak dunia untuk ikut serta di dalam karbon daripada kita menunggu jelas tapi kita sudah ketinggalan kereta," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Produk Lokal ke Pasar Lebih Luas, UMKM Aceh Tumbuh Bersama Rumah BUMN Pertamina

Dari Produk Lokal ke Pasar Lebih Luas, UMKM Aceh Tumbuh Bersama Rumah BUMN Pertamina

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 11:37 WIB

Kuota Produksi Vale Dipangkas, Bahlil: Mereka Buat Laporan Sembarangan!

Kuota Produksi Vale Dipangkas, Bahlil: Mereka Buat Laporan Sembarangan!

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:49 WIB

Ada Menkeu Baru, Rencana Dividen BUMN Rp120 Triliun ke APBN Dinego Lagi

Ada Menkeu Baru, Rencana Dividen BUMN Rp120 Triliun ke APBN Dinego Lagi

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:21 WIB

Terkini

Review Arab Maklum 3: Drama Keluarga yang Mengocok Perut

Review Arab Maklum 3: Drama Keluarga yang Mengocok Perut

Your Say | Jum'at, 18 September 2026 | 12:00 WIB

KPK Geledah Kantor Kantor Summarecon, Cari Bukti Kasus ATR/BPN

KPK Geledah Kantor Kantor Summarecon, Cari Bukti Kasus ATR/BPN

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:59 WIB

Unhas Kenalkan Pengering Pala Bertenaga Surya di Fakfak

Unhas Kenalkan Pengering Pala Bertenaga Surya di Fakfak

Sulsel | Jum'at, 18 September 2026 | 11:56 WIB

Petinggi Iran Diizinkan Injak Kaki di Amerika, Siap ke Sidang Umum PBB

Petinggi Iran Diizinkan Injak Kaki di Amerika, Siap ke Sidang Umum PBB

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:50 WIB

5 Mesin Cuci 2 Tabung Paling Murah Rp1 Jutaan, Kapasitas Besar dan Hemat Tempat

5 Mesin Cuci 2 Tabung Paling Murah Rp1 Jutaan, Kapasitas Besar dan Hemat Tempat

Lifestyle | Jum'at, 18 September 2026 | 11:45 WIB

AS Tolak Kasih VISA, Presiden Palestina Tetap Pidato di Majelis Umum PBB

AS Tolak Kasih VISA, Presiden Palestina Tetap Pidato di Majelis Umum PBB

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:41 WIB

Cara Menghilangkan Lumut di Tangki Dispenser Tanpa Bongkar Mesin

Cara Menghilangkan Lumut di Tangki Dispenser Tanpa Bongkar Mesin

Lifestyle | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

Berapa Biaya Vasektomi? KB Permanen yang Dilakukan Suami Siti Badriah demi sang Istri

Berapa Biaya Vasektomi? KB Permanen yang Dilakukan Suami Siti Badriah demi sang Istri

Entertainment | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

7 Weton yang Pantang Menyerah dan Selalu Dapat Jalan Rezeki Tak Terduga

7 Weton yang Pantang Menyerah dan Selalu Dapat Jalan Rezeki Tak Terduga

Lifestyle | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

DPRD DKI Wanti-wanti: Biaya Penataan Kabel Udara Jakarta Jangan Dibebankan ke Masyarakat

DPRD DKI Wanti-wanti: Biaya Penataan Kabel Udara Jakarta Jangan Dibebankan ke Masyarakat

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

×