- Perum Perhutani membidik perdagangan karbon untuk menggantikan pendapatan kayu demi menjaga kelestarian hutan.
- Perusahaan mengelola izin pemanfaatan hutan seluas 3,6 juta hektare di dalam dan luar Jawa.
- Perhutani membentuk PMO dan mulai proaktif mengembangkan perdagangan karbon untuk menangkap peluang bisnis.
Suara.com - Perum Perhutani mulai membidik perdagangan karbon sebagai salah satu sumber pendapatan baru perusahaan. Langkah ini didorong oleh potensi besar karbon yang tersimpan di kawasan hutan yang dikelola perusahaan.
Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengatakan, Perhutani memiliki sejumlah potensi natural capital yang dapat dikembangkan, mulai dari kayu, tata air, karbon, wisata hingga jasa lingkungan.
Menurut dia, Perhutani diarahkan untuk tetap menjaga kelestarian hutan sembari mulai mengembangkan instrumen ekonomi melalui perdagangan karbon.
"Arahan BP BUMN untuk Perhutani, Perhutani itu kan saat ini dia natural capital itu dari kayu, tata air, carbon, wisata dan jasa lingkungan. Kita harapkan Perhutani tetap menjaga hutan, untuk instrumen ekonomi mulai bergerak ke carbon trading," ujarnya seperti dikutip, Jumat (18/9/2026).
Roziqin mengatakan, perdagangan karbon berpotensi menjadi sumber pendapatan yang dapat menggantikan pendapatan Perhutani yang selama ini diperoleh dari pengelolaan kayu.
![Orchid Forest Cikole. [dokumentasi pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/05/04/40555-orchid-forest-cikole.jpg)
"Kalau kita bisa bergerak Perhutani, ke arah carbon trading nanti, baik pembelinya dari internasional maupun domestik, harusnya pendapatan Perhutani dari menebang hutan yang saat ini Rp1,5 triliun per tahun, harusnya bisa di-cover dari carbon trading"
Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasi Perum Perhutani Wawan Triwibowo mengatakan, saat ini Perhutani memiliki 3,6 juta hektare izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Dari total tersebut, sebanyak 2,4 juta hektare berada di Pulau Jawa, sedangkan 1,21 juta hektare lahan terletak di luar Pulau Jawa.
Dari pemanfaatan hutan tersebut, sumber pendapatan Perum Perhutani untuk hutan-hutan di Pulau Jawa terdiri dari 41 persen segmen bisnis kayu dan industri kayu, 47 persen dari getah dan industri GTD, 6 persen dari agroforestri, 5 persen wisata, dan 1 persen MKP.
Sementara itu, dari hutan-hutan yang berada di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sulawesi Selatan, sumber pendapatan Perum Perhutani sebesar 92 persen berasal dari kayu dan industri kayu, 5 persen HHBK dan jasa wisata, serta 3 persen tanaman industri.
Adapun hutan yang berada di Lampung dan Bangka Belitung memiliki sumber pendapatan dari getah pinus sebesar 82 persen, jasa dan rehabilitasi 4 persen, serta agroforestry sebanyak 14 persen.
Wawan mengatakan, Perhutani sebenarnya telah mulai memasuki bisnis perdagangan karbon melalui anak usahanya, Inhutani I. Menurut dia, Perhutani perlu terlibat sejak awal dalam pengembangan pasar karbon agar dapat menangkap peluang bisnis yang muncul seiring berkembangnya perdagangan karbon.
"Memang saat ini ketika nanti akan carbon trade itu menjadi sebuah real yang bisa kita laksanakan, kita harus terus ikut proaktif sejak dini," kata Wawan.
Untuk mendukung pengembangan bisnis tersebut, Perhutani juga telah membentuk Carbon Project Management Office (PMO) yang menangani pengembangan proyek perdagangan karbon.
Wawan menilai potensi karbon di hutan Indonesia sangat besar. Namun, pengembangan bisnis tersebut masih membutuhkan dukungan dari sisi regulasi dan kepastian pasar.
"Sebenarnya kalau potensi karbon tentunya di hutan Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia itu sangat besar. Ini tentunya payung regulasi, kejelasan, komitmen dari para para customer yang akan mengambil karbon ini masih membutuhkan hukuman dari kejelasan regulasi dari pemerintah," katanya.
Karena itu, Perhutani memilih mulai mempersiapkan diri sejak sekarang. Perusahaan ingin terlibat dalam proses pengembangan perdagangan karbon agar tidak tertinggal ketika pasar tersebut semakin berkembang.
"Ini mungkin saya pikir kita sudah mulai dulu jangan sampai terlambat intinya kita kita makin tetap proaktif sejak dunia untuk ikut serta di dalam karbon daripada kita menunggu jelas tapi kita sudah ketinggalan kereta," pungkasnya.