- The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat sebesar 25 basis poin pada Rabu, 16 September 2026.
- CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyatakan pasar kripto bereaksi tenang karena pelaku pasar telah mengantisipasi kebijakan tersebut.
- Calvin Kizana menyampaikan imbauan tersebut dalam acara Media Briefing di Jakarta pada hari Jumat, 18 September 2026.
Suara.com - Investor kripto tidak cukup hanya memperhatikan pergerakan harga Bitcoin setelah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan, perkembangan data ekonomi dan kebijakan moneter berikutnya juga perlu menjadi perhatian investor untuk membaca arah pasar dalam jangka panjang.
Seperti diketahui, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin dari kisaran 3,50 persen - 3,75 persen menjadi 3,75 persen - 4,00 persen pada Rabu (16/9) waktu setempat.
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Juli 2023 dan diputuskan secara bulat dengan suara 12-0. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar setelah data inflasi AS pekan lalu menunjukkan tekanan harga masih tinggi.

Pasca pengumuman tersebut, reaksi awal pasar kripto terpantau relatif tenang. Bitcoin juga belum menunjukkan pergerakan signifikan.
Menurut Calvin, kondisi tersebut menunjukkan pasar sebelumnya telah mengantisipasi keputusan The Fed.
"Pergerakan Bitcoin yang relatif tenang setelah pengumuman menunjukkan bahwa pasar sudah cukup mengantisipasi keputusan ini. Namun volatilitas tetap dapat muncul seiring investor merespons data ekonomi dan kebijakan berikutnya. Ke depan, investor sebaiknya tidak hanya melihat satu keputusan The Fed sebagai penentu arah pasar dalam jangka panjang," ujar Calvin dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Jangan Hanya Lihat Harga Bitcoin
Calvin menjelaskan bahwa kebijakan suku bunga The Fed memiliki kaitan dengan kondisi likuiditas dan selera investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Karena itu, investor perlu melihat kondisi pasar secara lebih luas dan tidak menjadikan satu keputusan The Fed sebagai satu-satunya acuan dalam menentukan arah investasi.
"Kebijakan suku bunga akan memengaruhi kondisi likuiditas dan appetite investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto. Bagi pasar di Indonesia, investor perlu memperhatikan tidak hanya pergerakan harga, tetapi juga perkembangan kebijakan moneter global secara keseluruhan," kata Calvin.
Dengan kondisi tersebut, volatilitas pasar kripto masih berpotensi muncul ketika investor merespons rilis data ekonomi maupun kebijakan moneter selanjutnya.
Calvin juga mengingatkan investor ritel agar tetap disiplin terhadap strategi investasi dan profil risiko masing-masing. Pergerakan harga dalam jangka pendek dinilai tidak semestinya menjadi alasan untuk mengambil keputusan secara emosional.
"Pergerakan pasar jangka pendek tidak seharusnya mendorong investor mengambil keputusan secara emosional, baik karena FOMO maupun panic selling. Pastikan dana yang digunakan sesuai kemampuan dan toleransi risiko, lakukan diversifikasi secara bijak, dan pahami aset yang dibeli sebelum mengambil keputusan," pungkas Calvin.