- Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan investor China menjajaki kerja sama pembangunan industri daur ulang sampah pada 19 September 2026.
- Proyek pengolahan limbah dan sampah elektronik tersebut ditargetkan dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.
- Rencana pabrik daur ulang ini berpotensi membuka lima hingga sepuluh ribu lapangan kerja baru di Deli Serdang.
Suara.com - Deli Serdang, Sumatera Utara, mulai dilirik investor China untuk pengembangan industri daur ulang. Tak sekadar mengolah sampah, investasi yang tengah dijajaki ini diarahkan untuk mengubah limbah, termasuk sampah elektronik, menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Penjajakan investasi tersebut dibahas Pemerintah Kabupaten Deli Serdang bersama perwakilan investor China. Pemerintah daerah melihat sektor daur ulang sebagai peluang untuk memperluas basis industri sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan mengatakan, daerahnya memiliki sejumlah modal untuk menarik investasi, mulai dari posisi sebagai wilayah penyangga, luas wilayah, hingga konektivitas.
“Deli Serdang terus membuka ruang bagi investasi yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui penjajakan industri daur ulang bersama investor asal China,” kata Asri dilansir dari laman Antara, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, investasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan aktivitas industri. Kehadiran pabrik juga ditargetkan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian dan kesempatan kerja masyarakat.
“Peluang membuka ribuan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, namun tetap sesuai aturan yang ada,” ujarnya.
Sampah Elektronik Dibidik Jadi Produk Bernilai
Ketertarikan investor China salah satunya menyasar pengolahan sampah elektronik. Limbah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan tersebut diarahkan untuk masuk ke proses industri sehingga dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Siswanto, juru bicara investor, mengatakan ada sejumlah proyek yang tengah dijajaki dan sebagian besar berfokus pada industri daur ulang.
“Ada banyak proyek yang mau dijalankan. Sebagian besar mereka fokusnya ke daur ulang. Mereka ingin mengelola sampah elektronik menjadi sesuatu yang berharga,” katanya.
Salah satu rencana pabrik bahkan diperkirakan mampu menyerap 5.000 hingga 10.000 tenaga kerja. Jumlah tersebut berkaitan dengan rencana penggunaan sistem produksi manual dalam kegiatan operasionalnya.
Potensi serapan tenaga kerja ini menjadi salah satu dampak ekonomi yang diperhitungkan pemerintah daerah dari masuknya investasi tersebut.
Deli Serdang Punya Lebih dari 400 Pabrik
Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo mengatakan, peluang pengembangan industri masih terbuka lebar. Saat ini, terdapat lebih dari 400 pabrik yang telah beroperasi di wilayah tersebut.
Dengan luas wilayah, posisi strategis, serta konektivitas yang dimiliki, pemerintah daerah melihat masih ada ruang untuk menambah aktivitas industri baru.
“Kehadiran investor menjadi peluang bagi tumbuhnya industri di Deli Serdang yang bermanfaat bagi perluasan akses kesempatan kerja dan peningkatan ekonomi masyarakat dan daerah,” ujar Lom Lom.

Dari sisi investor, komitmen pemerintah daerah dalam memberikan kemudahan investasi turut menjadi pertimbangan untuk memilih Deli Serdang.
Siswanto mengatakan potensi wilayah dan konektivitas menjadi faktor penting, selain dukungan pemerintah daerah terhadap investasi.
“Selain karena wilayah dan konektivitas, para investor tertarik ke Deli Serdang karena komitmen Bupati dan Wakil Bupati yang memberikan kemudahan terhadap investasi,” katanya.
Jika penjajakan tersebut berlanjut ke tahap realisasi, industri daur ulang dapat menjadi tambahan baru bagi basis manufaktur Deli Serdang.
Di saat yang sama, pengolahan limbah elektronik berpotensi mengubah persoalan sampah menjadi kegiatan ekonomi sekaligus membuka ribuan kesempatan kerja.
Namun, seluruh rencana investasi tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan perlu mengikuti ketentuan yang berlaku sebelum masuk ke tahap pelaksanaan.