- Ketua Umum MSI Arifin Lambaga menyatakan penghentian impor singkong membuat harga di Lampung naik menjadi Rp2.400 per kilogram pada Rabu (23/9) di Jakarta.
- MSI siap mendukung pengembangan 500 ribu hektare lahan singkong guna memenuhi kebutuhan bahan baku bioetanol program E20 sebesar 2,2 juta kiloliter.
- Pengembangan lahan singkong skala besar memerlukan dukungan sektor hulu serta kepastian pasar melalui kemitraan inti-plasma dengan investor pengolahan bioetanol.
Suara.com - Harga singkong di sejumlah sentra produksi mulai mengalami kenaikan setelah pemerintah menghentikan impor singkong. Di Lampung, salah satu sentra produksi singkong, harga komoditas tersebut kini mencapai sekitar Rp2.400 per kilogram.
Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lambaga mengatakan, kenaikan harga tersebut terjadi seiring berkurangnya pasokan singkong impor di pasar domestik.
Hal itu disampaikannya saat audiensi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Rabu (23/9).
"Alhamdulillah, terutama di Lampung sebagai salah satu sentra produksi singkong, harganya sudah bagus, sekitar Rp2.400. Kami berterima kasih kepada Pak Menteri dan Pak Presiden atas dukungan dan beberapa kebijakan, misalnya stop impor singkong," ujar Arifin.
Menurut Arifin, kenaikan harga perlu diikuti dengan peningkatan produksi secara bertahap. Pasalnya, kebutuhan singkong berpotensi meningkat seiring dengan rencana pengembangan industri bioetanol.
Ia menyebut kebutuhan bahan baku bioetanol dapat mencapai jumlah besar. Untuk mendukung program pencampuran bahan bakar E20, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai sekitar 2,2 juta kiloliter.

"Ini kebutuhan yang besar. Ini pasar yang sangat besar bagi kita," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, MSI menyatakan siap berpartisipasi dalam pengembangan sekitar 500 ribu hektare lahan singkong.
Namun, pengembangan lahan dalam skala besar membutuhkan dukungan sektor hulu, mulai dari penyediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian hingga pembiayaan.
Arifin mengatakan kebutuhan benih menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan lahan singkong. Dalam satu hektare lahan, kebutuhan mencapai sekitar 8.000 hingga 10.000 stek.
"Benihnya harus benih unggul yang bisa menghasilkan produktivitas singkong dan kadar pati yang baik. Karena yang untuk diolah menjadi bioetanol itu tergantung pada patinya," jelasnya.
Di sisi industri, MSI telah berkomunikasi dengan sejumlah investor yang berminat mengembangkan pengolahan singkong menjadi bioetanol.
Beberapa investor disebut telah menyatakan kesiapan untuk masuk ke sektor tersebut.
"Kami sudah melakukan beberapa kontak dengan para investor, terutama di pengolahan singkong menjadi bioetanol. Beberapa investor sudah siap," katanya.
Menurut Arifin, kepastian pasar atau off-taker menjadi salah satu faktor penting untuk merealisasikan investasi bioetanol. Kepastian penyerapan produk juga diperlukan agar peningkatan produksi singkong petani dapat terserap oleh industri.
![Ilustrasi bioetanol. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/05/07/62779-ilustrasi-bioetanol-ist.jpg)
MSI mengusulkan pengembangan industri bioetanol dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan sentra produksi singkong. Salah satu skema yang disiapkan yakni kemitraan inti-plasma, sehingga petani dapat terlibat sebagai pemasok bahan baku.