- Nilai tukar rupiah dibuka melemah 36 poin ke level Rp17.918 per dolar AS pada Senin, 5 Oktober 2026.
- Pelemahan rupiah di pasar keuangan tersebut dipengaruhi oleh kondisi harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi AS.
- Analis memperkirakan rupiah akan bergerak berkonsolidasi di kisaran level Rp17.800 sampai Rp17.930 per dolar AS.
Suara.com - Rupiah mengalami pelemahan pada Senin 5 Oktober 2026 di pasar keuangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp17.918 per dolar AS.
Angka ini melemah 36 poin atau turun 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.882. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan ini dipengaruhi oleh kondisi harga minyak dunia.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak mentah dunia oleh rencana perlepasan cadangan oleh negara G7," katanya saat dihubungi Suara.com.
Menurut dia, penguatan diperkirakan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi.
"Sehingga, rupiah diperkirakan bergerak di level Rp17.800-17.930," kata Lukman.
Saat ini, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,23 persen.
![Ilustrasi Won Korea. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/02/83468-ilustrasi-won-korea.jpg)
Selanjutnya ada dolar Singapura yang terkoreksi 0,12 persen dan baht Thailand tergelincir 0,03 persen. Disusul, peso Filipina yang turun 0,01 persen. Kemudian ada ringgit Malaysia yang bergerak stabil dengan kecenderungan melemah tipis di pagi ini.
Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah terkerek 0,26 persen terhadap the greenback. Berikutnya, yen Jepang terkerek 0,16 persen dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen pada pagi ini.