- Rupiah melemah ke level Rp17.917 per dolar AS akibat penguatan indeks dolar AS sore ini.
- Analis Lukman Leong menyatakan kenaikan harga minyak dan pelemahan euro menjadi pemicu utama penekanan tersebut.
- Pelemahan rupiah diprediksi berlanjut karena investor menantikan rilis data aktivitas bisnis Amerika Serikat malam ini.
Suara.com - Rupiah konsisten terus mengalami pelemahan pada penutupan sore ini di pasar keuangan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup ke level Rp17.917 per dolar AS.
Angka ini melemah 35 poin atau turun 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.882. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan dipengaruhi oleh dolar AS yang menguat imbas harga minyak dunia.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kenaikan indeks dolar AS ke level tertinggi dalam 18 bulan. Penguatan dolar AS terutama didorong pelemahan euro akibat kekhawatiran fiskal serta kenaikan harga minyak dunia," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, pelemahan rupiah akan terus berlanjut dengan kekhawatiran investor mengenai kesehatan dan aktivitas bisnis di Amerika Serikat, yang dirilis secara bulanan oleh. Adapun, data ini akan bisa memberikan sentimen negatif pada rupiah.
"Investor menantikan rilis data PMI AS malam ini, yang dimana sektor jasa AS masih terus kuat dan telah tumbuh selama 26 bulan berturut-turut," tegasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,34 persen.

Selanjutnya, won Korea Selatan yang ambles 0,3 persen dan dolar Singapura terkoreksi 0,17 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup tertekan 0,14 persen. Berikutnya ada ringgit yang melemah tipis 0,09 persen terhadap the greenback di sore ini.
Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah ditutup melonjak 0,27 persen. Kemudian ada yen Jepang menanjak 0,13 persen dan rupee India terkerek 0,02 persen. Diikuti, dolar Hong Kong menguat tipis 0,008 persen.