- Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto memproyeksikan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai 40 miliar dolar AS pada akhir tahun 2026.
- Peningkatan nilai ekspor ini didorong oleh kebijakan pengendalian produksi efektif yang menjaga stabilitas harga dan mencegah kelebihan pasokan global.
- Pernyataan tersebut disampaikan Seto dalam agenda Big Downstream Insights 2026 di Jakarta pada hari Selasa tanggal 6 Oktober 2026.
Suara.com - Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, memproyeksikan nilai ekspor nikel Indonesia hingga akhir tahun 2026 dapat mencapai sekitar 40 miliar dolar AS.
Proyeksi tersebut menurutnya didukung oleh langkah pengendalian produksi yang efektif di tengah dominasi Indonesia sebagai produsen utama dunia.
Seto menjelaskan, produksi nikel Indonesia saat ini telah menguasai sekitar 65 persen hingga 66 persen dari total produksi global, meningkat drastis dibanding periode 2020–2022 yang baru berada di kisaran 30 persen.
Dengan posisi yang sudah menjadi produsen mayoritas dunia, tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar menggenjot volume, melainkan bagaimana mengatur produksi agar nilai tambah komoditas tetap optimal dan pasar global tidak mengalami kelebihan pasokan (oversupply).
"Nah ketika kita sudah menjadi besar tersebut, ini tantangannya berbeda lagi. Jadi ketika kita sudah menjadi mayoritas produsen utama dunia, maka fokusnya adalah bagaimana kita juga bisa menghasilkan nilai tambah yang optimal," kata Seto dalam paparannya pada agenda Big Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Ia mencontohkan, kebijakan pengendalian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel yang diterapkan Kementerian ESDM sejak akhir 2025 sudah sangat tepat untuk menjaga stabilitas harga pasar.
![Big Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026). [Suara.com/Yaumal]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/06/26129-big-downstream-insights-2026.jpg)
"Kalau kita lihat sampai dengan Agustus, ekspor nikel produk kita sudah sekitar 25, hampir 26 miliar dolar AS sampai dengan near to date Agustus. Estimasi kami sampai dengan akhir tahun ini akan tembus sekitar 40 miliar dolar, AS" ujar Seto.
Menurut Seto, capaian tersebut menjadikan nikel sebagai kontributor ekspor terbesar Indonesia, melampaui kelapa sawit (CPO) dan batu bara.
Menariknya, meskipun volume ekspor dalam bentuk ton metal turun sekitar 3,8 persen, nilai ekspor justru melonjak hampir 17 persen berkat pengendalian pasokan yang dilakukan.
"Kalau memang kita sudah dominan, kita sudah besar, ya artinya kita punya market power untuk meng-exercise. Supaya bagaimana kita tidak membuat kondisi marketnya oversupply sehingga harganya jatuh," pungkasnya.